KESELARASAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN

Oleh, Miqdad Husein, SH (Aktivis Dakwah)

 

Katakanlah, “ Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima ilmu pengetahuan. (QS. 39:9)

Beberapa waktu lalu, India menghadapi tsunami dasyat penyebaran Corona. Rekor jumlah terinfeksi terus meningkat. Seluruh rumah sakit mengalami kondisi sangat kesulitan. Pernah sekali waktu dalam satu hari India mengalami lonjakan mencapai lebih dai 400 ribu dalam sehari. Sebuah jumlah  jauh melampaui penyebaran tertinggi di Amerika Serikat.

Kegiatan keagamaan festival Kumbh Mela disebut-sebut sebagai salah satu penyebab peningkatan penyebaran Corona. Event politik yang sedang berlangsung juga disebut memiliki andil. Walhasil India pernah mengalami  kesulitan luar biasa sehingga memerlukan uluran tangan dunia.

Acara keagamaan yang mengabaikan protokol kesehatan, agaknya menjadi titik masuk paling berbahaya dalam penyebaran Covid di berbagai penjuru dunia. Korea memiliki pengalaman pahit ketika misa di gereja, menjadi pemantik Covid karena beberapa jamaah ternyata dari awal sudah terinfeksi dan memaksakan diri hadir sehingga menginfeksi hampir seluruh yang hadir. Lebih parah lagi, mereka yang terinfeksi kemudian menularkan kepada masyarakat di lingkungan terdekat.

Momen keagamaan seperti Kumbh Mela dan sangat mungkin event keagamaan lain –termasuk agama Islam dan lainnya- berpotensi menjadi cluster besar Covid. Berbagai clustur baru, belakangan seperti halal bi halal, penguburan jenazah, sholat taraweh di bulan puasa lalu, contoh-contoh riil. Ini tak lepas dari perilaku beragama, yang kadang terperangkap pemahaman salah kaprah tentang kepasrahan. Tawakkal dipahami salah kaprah dengan tanpa ada ikhtiar sehingga seluruh petunjuk ilmu pengetahuan dicampakkan.

Harus diakui, masih saja mudah ditemukan penganut agama apapun yang cenderung irrasional untuk hal-hal bersifat sosial, realitas riil, dalam persoalan kesehatan. Mereka bersandar pada prinsip tawakkal salah kaprah. Tidak merasa perlu mentaati protokol kesehatan misalnya dengan alasan tawakkal kepada Allah.

Karena melaksanakan ritual keagamaan mereka  merasa yakin  Tuhan langsung memberikan perlindungan keselamatan sehingga tanpa merasa perlu melakukan ikhtiar. Jangan bicara masker, jaga jarak dan cuci tangan dalam kasus Covid-19. Prokes tiga M itu dibuang jauh dan hanya mengandalkan keyakinan bahwa semua akan aman karena sedang beribadah kepada Tuhan. Karena sedang beribadah kepada Tuhan segala pedoman dan petunjuk kesehatan dibuang jauh-jauh. Mereka berpikir protokol kesehatan merupakan konsepsi manusia, sedang beribadah kepada Allah melaksanakan aturan Allah.

Dipertentangkan

Konsepsi ilmu pengetahuan seperti protokol kesehatan dipertentangkan dengan keyakinan keagamaan. Seakan-akan ibadah kepada Allah tidak perlu mempertimbangkan konsep atau pedoman hasil dari ilmu pengetahuan. Padahal ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia merupakan karunia dan petunjuk dari Allah.

Inilah fenomena pemahaman keagamaan, yang masih mudah ditemui di berbagai agama di manapun. Sebuah pemahaman keagamaan yang  memperlihatkan penyederhanaan pemahaman bahkan dapat disebut pembelengguhan ajaran agama. Ajaran agama dikungkung cara pandang sempit sehingga agama kehilangan subtansi  tujuan utamanya tentang kemaslahatan kepada seluruh kehidupan manusia.

Benar bahwa kejadian apapun dalam hidup ini, tak ada yang lepas dari ketentuan Tuhan. Tetapi kepastian ketentuan  tetap baru terwujud atau tidak, tergantung ikhtiar keras manusia.

Cerita seorang Badui yang bertemu Rasulullah dapat menjadi gambaran menarik tentang pengertian tawakkal, berserah diri kepada Allah. Rasulullah mengingatkan kepada si Badui itu agar ontanya diikat dulu pada pohon baru bertawakkal kepada Allah. Jadi, ikhtiar dulu baru tawakkal.

Umar bin Chattab ketika akan berkunjung ke Syam sempat dicegah di perbatasan. Beliau diberitahu tentang adanya wabah di daerah yang akan dikunjunginya. Lalu, apakah Umar terus melanjutkan atas dasar tawakkal? Umar justru membatalkan kunjungan menghindari wabah.

Rasulullah memberi gambaran indah tentang tawakkal:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُوا خِمَاصاً وَتَرُوْحُ بِطَاناً

 “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya pasti Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Keluar diwaktu pagi dalam keadaan lapar kemudian pulang dalam kondisi kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344. Dishahihkan Albani)

Inilah prinsip keagamaan yang seharusnya menjadi pegangan ketika melaksanakan peribadatan dan kegiatan sosial keseharian. Ketika suasana seperti sekarang dan sedang ada upaya pemutusan pandemi setidaknya pengurangan penyebaran kegiatan apapun perlu dilakukan dengan Prokes.  Prinsip itu tak boleh ditinggalkan dalam aktivitas apapun, termasuk dalam peribadatan.

Keyakinan spiritual di sini tidak dipertentangan dengan ilmu pengetahuan. Kesadaran keimanan dalam peribadatan tetap mematuhi prinsip-prinsip kesehatan, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam Islam peribadatan apapun tetap menjaga kepentingan keselamatan jiwa manusia. Berpuasa tak boleh dipaksakan ketika sedang sakit. Sholat lebih baik di rumah jika ternyata  suasana di masjid membayakan keselamatan.

Dunia Islam jauh hari telah memutuskan bagaimana beribadah di masa pandemi. Ijma’ ulama di seluruh dunia, yang memutuskan melaksanakan sholat dengan menjaga jarak, memakai masker serta selalu cuci tangan, membatasi jumlah jamaah haji dan umroh; semuanya atas dasar referensi kajian ilmu pengetahuan khususnya kesehatan, virulogi dan ilmu pandemi. Semua peribadatan mematuhi prinsip-prinsip ilmiah tanpa mengurangi subtansi tujuan peribadatan. Keselamatan jiwa manusia tetap mutlak diutamakan.

Jika dipahami dan dilaksanakan dengan benar agama bisa menjadi energi luar bisa dalam berperan memutus pandemi Covid. Namun sebaliknya bisa menjadi pemantik penyebaran, tsunami jika dipahami salah dan dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan.