ORANG-ORANG TERBAIK MENURUT RASULULLAH SAW

Agu 7, 2026 | Artikel, Artikel Islam, Edukasi Umum, Khotbah Jum'at

Oleh, Amin Iskandar, Lc, M.Ag

(Pengurus At-Taqwa Centre Kota Cirebon)

Pada kesempatan yang mulia ini marilah bersama-sama kita meningkatkan taqwa kepada Allah swt dengan sepenuh hati. Taqwa dalam arti yang sebenar-benarnya yaitu menjalankan segala perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya.

Pada hari-hari ini kita berada di bulan Shafar, salah satu bulan dalam kalender Hijriah yang mengingatkan kita bahwa perjalanan waktu terus berjalan. Setiap pergantian bulan adalah kesempatan untuk melakukan muhasabah, mengevaluasi amal yang telah kita lakukan, sekaligus memperbaiki kualitas diri agar menjadi hamba yang semakin dicintai Allah Swt.

Pertanyaannya, siapakah manusia terbaik menurut Rasulullah SAW?

Apakah yang paling banyak hartanya?

Apakah yang paling tinggi jabatannya?

Apakah yang paling terkenal namanya?

Ternyata ukuran kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh semua itu.

Rasulullah SAW memberikan ukuran yang sangat sederhana, tetapi sangat mendalam.

Beliau bersabda:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah bersabda: “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa ukuran kemuliaan seorang muslim bukan terletak pada apa yang ia miliki, tetapi pada apa yang ia berikan. Semakin besar manfaat yang dihadirkan bagi orang lain, semakin besar pula kedudukannya di sisi Allah Swt.

Manfaat itu tidak selalu berupa harta. Ada orang yang memberi manfaat melalui ilmunya. Ada yang memberi manfaat melalui tenaganya. Ada yang memberi manfaat melalui nasihatnya. Ada yang memberi manfaat melalui akhlaknya yang baik. Bahkan senyuman yang tulus, doa yang ikhlas, dan pertolongan kecil kepada sesama dapat menjadi sebab seseorang dicintai oleh Allah Swt.

Karena itu, seorang mukmin tidak bertanya, “Apa yang bisa saya ambil dari orang lain?” tetapi bertanya, “Apa yang dapat saya berikan untuk orang lain?”

Inilah karakter orang-orang terbaik menurut Rasulullah SAW.

Prinsip memberi manfaat ini selaras dengan firman Allah Swt dalam  QS. An-Nisa: 36:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki.”

Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kepedulian kepada sesama manusia. Ketakwaan yang benar akan melahirkan kasih sayang, kepedulian, dan kemanfaatan bagi lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, seorang muslim tidak cukup hanya rajin shalat, rajin berzikir, atau rajin membaca Al-Qur’an, tetapi juga harus menjadi pribadi yang kehadirannya membawa ketenangan, pertolongan, dan kebahagiaan bagi orang lain.

Di zaman sekarang, salah satu ruang yang paling sering kita masuki adalah ruang digital. Hampir setiap hari kita membaca berita, menulis komentar, mengirim pesan, atau membagikan informasi melalui media sosial.

Di ruang digital itulah akhlak kita sedang diuji.

Dalam sebuah Hadis yang di riwayatk oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت

 “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Hadis ini tidak hanya mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga ucapan yang keluar dari lisan, tetapi juga mengingatkan kita untuk menjaga setiap bentuk komunikasi yang disampaikan melalui tulisan, termasuk di media sosial. Setiap kata yang kita tuliskan memiliki konsekuensi di hadapan Allah, karena tulisan dapat menjadi sarana menyebarkan ilmu, memberikan manfaat, dan menebarkan kebaikan, tetapi juga dapat menimbulkan luka, fitnah, perselisihan, bahkan kerugian bagi sesama. Karena itu, kewajiban menjaga lisan harus kita perluas dengan menjaga seluruh bentuk komunikasi, baik secara lisan maupun digital. Marilah kita menyadari bahwa setiap tulisan memiliki konsekuensi, sehingga kita senantiasa berhati-hati terhadap apa yang kita ucapkan, apa yang kita tuliskan, apa yang kita bagikan, dan apa yang kita sebarkan kepada orang lain.

Kemanfaatan seorang mukmin tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga oleh alam semesta. Islam mengajarkan bahwa bumi adalah amanah yang harus dijaga, bukan diwariskan dalam keadaan rusak.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an (QS. Al-A’raf: 56):

Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

Rasulullah SAW memberikan teladan luar biasa tentang kepedulian terhadap alam. Beliau bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ وَلَا إِنْسَانٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ.

Artinya:“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan oleh manusia, burung, atau hewan, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Bahkan sebuah pohon yang kita tanam dapat menjadi amal jariyah. Selama pohon itu memberi manfaat, selama itu pula pahala terus mengalir. Betapa luasnya rahmat Allah bagi orang-orang yang menghadirkan manfaat bagi makhluk-Nya.

Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan, menghemat air, menanam pohon, mengurangi sampah, dan merawat fasilitas umum bukan hanya tindakan sosial, tetapi juga bagian dari ibadah kepada Allah Swt.

Puncak dari seluruh kemanfaatan itu adalah ketika seseorang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Rasulullah SAW bersabda:

خيركم من تعلم القرآن وعلمه

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)

Mengapa Rasulullah menyebut mereka sebagai orang terbaik?

Karena orang yang belajar Al-Qur’an akan memperbaiki dirinya, sedangkan orang yang mengajarkannya akan memperbaiki orang lain. Ia memperoleh dua kemuliaan sekaligus: menjadi pribadi yang saleh dan menjadi sebab kesalehan orang lain.

Janganlah Al-Qur’an hanya indah di lisan kita, tetapi biarkan ia hidup dalam perilaku kita. Al-Qur’an mengajarkan kejujuran, amanah, kasih sayang, keadilan, serta kepedulian kepada sesama. Apabila nilai-nilai itu benar-benar kita amalkan, niscaya kita termasuk orang-orang yang paling dicintai Allah karena menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Marilah kita jadikan bulan Shafar ini sebagai momentum memperbaiki diri. Semoga kita menjadi hamba yang tidak hanya baik ibadahnya, tetapi juga luas manfaatnya; tidak hanya dekat kepada Allah, tetapi juga dicintai oleh sesama karena akhlak dan kontribusi yang kita berikan. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan yang disebut Rasulullah sebagai manusia yang paling dicintai-Nya, yaitu mereka yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia.

Follow Sosial Media At Taqwa :

Berita Terkait

KEMULIAAN NABI MUHAMMAD YANG DIRINDUKAN PARA NABI ﷺ

KEMULIAAN NABI MUHAMMAD YANG DIRINDUKAN PARA NABI ﷺ

Oleh, H. Nafiki, SAP (Pengurus At-Taqwa Centre Kota Cirebon) Pada kesempatan khutbah yang mulia ini, marilah kita merenungkan kembali kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ yang begitu agung sehingga banyak riwayat menceritakan bagaimana para nabi terdahulu mengagungkan beliau dan...

ISLAMOFOBIA DAN STRATEGI MENGATASINYA

ISLAMOFOBIA DAN STRATEGI MENGATASINYA

Oleh, Prof. Dr. H,Jamali, M.Ag (Guru Besar UIN Siber Cirebon) . Pertama-tama, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Takwa...