Oleh, Dr. H. Syahrudin, MPd. I.
(Pengurus At-Taqwa Centre Kota Cirebon)
Marilah kita memelihara takwa kita kepada Allah Swt. Yang Maha-suci, sebab hanya orang yang takwa yang akan bertemu dengan ketenteraman hidup di dunia dan di akhirat. Takwa di sini takwa dalam arti seutuhnya, takwa dalam arti melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, berbuat amal saleh yang bermanfaat bagi dirinya dan bagi yang lain, memelihara diri dari segala yang akan mendatangkan murka Allah serta menjauhi hal-hal yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain.
Hadirin, setiap manusia normal selamanya berharap agar bertemu dengan kebahagiaan, ingin berhasil dalam setiap maksud, dan ada dalam kepuasan; dijauhkan dari kecelakaan, kegagalan atau kesusahan.
Muhammad saw. selaku Rasulullah dan manusia biasa juga menginginkan hidup ada dalam kebahagiaan. Sebagai bukti dari keinginannya itu Rasulullah Saw. sering berdoa kepada Allah Swt. bagaimana tercantum dalam hadis riwayat Turmudzi:
“Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ditetapkan hati dalam menghadapi segala macam urusan, mudah-mudahan aku diberi petunjuk dan tetap bersyukur atas nikmat-Mu, semoga aku bisa beribadah dengan baik kepada-Mu, semoga Engkau memberi lisan yang benar, dan semoga Engkau menenteramkan hatiku.”
Ada 6 harapan Rasulullah Saw. yang disampaikan kepada Allah, yaitu:
1. Hati yang tenang dalam menghadapi segala urusan
Manusia yang hidup akan bertemu dengan macam-macam urusan, dari urusan yang paling kecil sampai urusan yang paling besar, dari urusan yang sederhana sampai urusan yang paling penting. Urusan diri dan keluarga, urusan tetangga dan masyarakat, bahkan mungkin sampai kepada urusan negara.
Menghadapi macam-macam urusan ini memerlukan sikap yang tegas, hati yang tenang, kuat dan kokoh, yang dalam Islam disebut ISTIQAMAH. Tegas dan tenangnya hati berarti tidak pernah goyah oleh perubahan keadaan meskipun dihadapkan terhadap macam-macam urusan yang rumit.
Pendirian yang tetap istiqamah meskipun diuji oleh macam-macam ujian yang menimpa, meskipun godaan dan rintangan datang berturut-turut. Macam-macam godaan dan ujian hidup ini bukan hanya menimpa umat Islam sekarang, tetapi juga menimpa umat Islam terdahulu, khususnya terhadap diri Rasulullah terutama ketika pertama menegakkan dakwah Islam terhadap bangsa Arab yang ada di Mekah. Godaan yang biasa menimpa orang yang lapar ialah pernah disebut oleh pembesar Quraisy kepada Rasulullah Saw. saat itu, yang terkenal sekarang TRIOTA, yaitu harta, tahta, dan wanita. Utusan Quraisy berkata kepada Nabi Muhammad, “Muhammad, apabila kamu menghentikan menyebarkan agama baru itu karena menginginkan harta, maka kami akan memberi harta kepadamu sebanyak-banyaknya asal kamu berhenti menyebarkan agama itu, atau apabila kamu menginginkan kedudukan maka kami akan mengangkatmu sebagai pemimpin asal kamu menghentikan penyebaran agama itu, atau apabila kamu menginginkan wanita-wanita cantik maka kami akan mencarikan untukmu wanita kota Mekah asal kamu berhenti menyebarkan agama baru.”
Semua itu tidak ada yang mempan, tidak ada yang meruntuhkan terhadap istiqamah-nya Nabi Muhammad dalam menyampaikan dakwah Islam. Bahkan beliau bersabda, “Meskipun mereka menyimpan matahari pada tangan kanan dan bulan pada tangan kiriku, aku tidak akan berhenti menyebarkan agama ini.”
2. Ilmu dan kepandaian yang bermanfaat
Rasulullah Saw. selamanya meminta kepada Allah Swt. agar kepandaiannya yang dikenal dengan sebutan sifat fathan bisa bermanfaat. Ilmu merupakan modal utama dalam melaksanakan tugas hidup manusia di dunia. Bahkan ilmulah yang akan menentukan kebaikan dan keburukan dunia ini. Keinginan terhadap dunia akan tercapai apabila memiliki ilmu, demikian juga keinginan terhadap kehidupan akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah:
“Barang siapa yang menginginkan dunia maka harus memiliki ilmu, barang siapa yang menginginkan akhirat maka harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka harus memiliki ilmu.”
Tetapi, kadang-kadang ilmu itu tidak bermanfaat karena tidak diamalkan, atau kadang-kadang ilmu itu menjadi mudarat terhadap dirinya karena diselewengkan pada jalan yang salah. Salah satu contoh yaitu zaman sekarang ilmu yang dimiliki manusia semakin tinggi, kemajuan teknologi semakin pesat, tetapi ilmu dan teknologi itu tidak menenteramkan hati manusia, bahkan mengakibatkan manusia kebingungan, hal itu karena ilmu dan teknologi tersebut tidak dipakai untuk kebaikan, tetapi digunakan untuk membunuh manusia. Setiap hari korban perang tidak bisa dihitung berapa jumlahnya. Arab-Israel, Irak-Iran, Libanon-Malvinas, Perang Teluk, menjadi bukti kejamnya manusia yang memiliki ilmu tetapi disalahgunakan untuk membunuh manusia. Pantaslah Rasulullah Saw. selamanya berdoa agar ilmu yang beliau miliki bisa bermanfaat, tidak digunakan dalam kemudaratan.
3. Bersyukur terhadap nikmat Allah
Macam-macam nikmat setiap saat diterima oleh manusia, mulai nikmat yang paling kecil sampai nikmat yang paling besar. Tetapi sayang, banyak manusia yang tidak mau mensyukurinya. Biasanya suatu perkara tidak terasa nikmat karena sudah biasa, tetapi apabila kebiasaan tersebut hilang baru terasa adanya nikmat, apabila nikmat itu datang kembali kenikmatannya semakin terasa; umpamanya, baru akan terasa nikmat memiliki mata apabila mengalami sakit mata, baru terasa nikmatnya memiliki telinga apabila telah mengalami tuli. Apa sebenarnya nikmat itu? Nikmat yaitu segala macam kebaikan, kenikmatan, kebahagiaan dan kesenangan yang berhubungan dengan dunia dan akhirat.
4. Ibadah yang mendatangkan kebaikan
Ibadah yang dilaksanakan umat Islam memiliki manfaat bukan hanya untuk memperoleh pahala di akhirat, tetapi harus bermanfaat bagi dirinya dan orang lain di dunia ini. Ibadah yang baik yaitu yang bisa membangun dirinya menjadi manusia yang sempurna atau insan kamil, jelasnya manusia yang sempurna lahir batinnya, yang seimbang antara jasmaniah dan rohaniahnya, manusia yang kuat iman, luhur ilmu, baik amal perbuatannya, sehat jasmani dan rohani, dan hubungan sosialnya kuat. Ibadah yang diharapkan yaitu ibadah yang bisa menyemaikan benih amanah, sifat bisa dipercaya dan jauh dari macam-macam khianat. Dalam sejarah Khalifah Umar bin Khaththab termasyhur istilah “AMANAH ANAK GEMBALA”, yaitu sebuah cerita mengenai bagaimana bisa dipercayanya seorang penggembala dalam memelihara kambing gembalaan milik tuannya. Ceritanya begini:
Khalifah Umar bin Khaththab ingin mengevaluasi bagaimana sebenarnya keimanan rakyat beliau saat itu, beliau turun ke daerah-daerah yang di antaranya menemui salah seorang anak gembala di sebuah padang rumput. Umar bin Khaththab bertanya, “Hai anak gembala, kepunyaan siapakah kambing sebanyak ini?” Anak gembala itu menjawab, “Kepunyaan tuanku.” Khalifah Umar bertanya lagi, “Bagaimana kalau saya beli satu ekor?” Anak gembala menjawab lagi, “Sudah saya katakan, kambing ini kepunyaan tuan saya, bukan kepunyaan saya.” “Diambil satu ekor kan tidak akan kelihatan, apabila tuanmu menanyakannya katakan saja hilang atau dimakan serigala,” begitulah
kata Khalifah Umar. Mendengar perkataan Umar demikian, anak gembala tersebut marah dan berkata, “Fa ainallâh? Akan dikemanakan Allah kalau saya harus menjual kambing orang lain?” Umar bin Khaththab kemudian pergi meninggalkan anak gembala itu dengan hati yang dipenuhi dengan kebahagiaan karena ternyata ajaran Islam sudah meresap sampai ke anak gembala, “Alhamdulillah,” kata Umar sambil melanjutkan perjalanannya.
Memang, amanah itu sangat penting, baik bagi penggembala apalagi bagi pemimpin manusia yang diamanati memegang kekuasaan oleh rakyat.
Selanjutnya, ibadah yang dilaksanakan itu harus bisa mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan bagi yang mengamalkannya, umpamanya saja dengan salat dia merasa bisa senang dan gembira, tamat berpuasa merasa bahagia, dengan zakat merasa bahagia karena telah bisa memenuhi perintah Allah.
5. Lisan atau ucapan yang benar
Rasulullah Saw. selamanya berdoa agar lisannya digunakan dalam hal-hal yang baik. Yang dimaksud dengan lisan yang benar dan baik itu ada dua macam, yaitu pertama lisan harus digunakan untuk berzikir kepada Allah berupa takbir, tahmid, tahlil, taqdis, hauqala, atau tilawatul Qur’an. Kedua, lisan yang bisa membawa manfaat, baik untuk dirinya maupun bagi orang lain berupa nasihat, pelajaran, petunjuk, atau hal lainnya. Lisannya tidak pernah digunakan untuk memfitnah atau mengumpat, menyinggung perasaan orang lain, kata-kata kasar atau kotor, atau untuk menghina orang lain.
Memang lisan itu termasuk salah satu karunia Allah yang sangat penting bagi manusia, lisan juga bisa menentukan manusia untuk selamat atau celaka, pantas apabila Islam mengajarkan agar manusia bisa memelihara lisan sebaik-baiknya. Perbuatan lisan akan termasuk salah satu amal yang akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah di yaumiljaza. Lisan baik dan mendatangkan kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, lisan buruk dan mendatangkan kejelekan akan dibalas dengan kejelekan pula.
6. Hati Yang Tentram
Yang terakhir Rasulullah Saw. memohon kepada Allah agar mendapat hati yang tenteram. Rasulullah menyadari bahwa kebahagiaan itu ada dalam hati. Hati lah yang menentukan suka dan dukanya manusia, tanpa adanya ketenteraman hati, kebahagiaan yang diharapkan tidak akan tercapai. Demikian juga semua amal yang dilakukan oleh hatinya, rusak atau tidaknya amal manusia kepada hatinya. Rasulullah Saw. bersabda:
“Ingatlah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila segumpal daging itu rusak maka akan rusaklah seluruh tubuhnya. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati.” (Riwayat Bukhari)
Hati manusia itu dibagi empat; Pertama, hati yang bersih, yaitu hati orang-orang yang beriman. Kedua, yaitu hati yang hitam, hati orang-orang yang kafir. Ketiga, hati yang suram, yaitu hati orang-orang munafik. Keempat, hati yang kacau, yaitu hati orang-orang yang mencampurkan antara iman, kufur dan nifaq.
Allah Swt. hanya bisa menerima manusia yang kembali kepada-Nya dengan membawa hati yang bersih, yaitu orang yang memiliki hati yang tenteram karena berisi iman.
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara: 88-89)







