Oleh, Drs. H. Mohamad Thoha
(Pengurus Yayasan Islamic Centre Kab. Cirebon)
Salah satu di antara faktor yang diharapkan dapat menambah kecintaan kita seorang Muslim kepada Rasulullah SAW. adalah dengan mengetahui kepribadian Rasulullah SAW. dalam cintanya dan sayang kepada umatnya yang luar biasa.
Seorang yang mempunyai sifat kasih sayang, maka dengan melihat dan mengetahui perilaku Rasul yang penuh cinta dan kasih sayang beliau kepada umatnya diharapkan akan memperbesar cinta dan kasih sayang kita kepada beliau.
Sesungguhnya salah satu sifat Rasulullah SAW. yang menonjol adalah sifat cinta dan sayang. Sifat ini terpancar sangat kuat dari kepribadian beliau, selain cinta dan kasih sayang beliau sangat tercurah untuk keluarganya, sahabatnya, dan umatnya. Termasuk orang-orang yang memusuhinya dan juga kepada seluruh umatnya.
Oleh karena itu sifat cinta dan kasih sayang yang besar kepada umatnya, maka kemudian Allah SWT. memberikan pujian kepada beliau sebagaimana firman-Nya dalam QS. At-Taubah (9): 128,
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman” (QS. At-Taubah:128)
Dalam ayat ini Allah SWT. menyematkan kepada beliau sifat RA’UFUR-ROHIM, yaitu sifat penuh cinta dan kasih sayang, maka pujian mana lagi yang lebih besar dan lebih mulia dibandingkan pujian dari Allah SWT.
Dalam kesempatan ini akan diuraikan serba sedikit tentang cinta kasih dan sayang yang menembus batas ruang dan waktu, rahmat untuk seluruh umat manusia, dari Hadits.
Dari Abu Hurairah RA, dari shahih Muslim, kitab Thaharah, hadis no. 249 Sebagai berikut:
Suatu hari beliau berziarah ke maqbaraoh sahabat-sahabatnya dan mendoakan sahabat-sahabatnya, kemudian Rasulullah menyampaikan keinginan kepada para sahabatnya:
“wadidtu anaa qod ro’ayna ikhwanana.”
“Sesungguhnya kami berharap melihat saudara-saudara kita.
“Mendengar ini sahabat-sahabat berkata:
“awa lasnaa ikhwanaka ya rasulullah?”
Bukankah kami ini saudara-saudaramu ya Rasulullah?
Rasul menjawab:
“Antum ashhaabi, wa ikhwana alladziina lam ya’tuu ba’du.”
Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kita adalah orang-orang yang datang sesudah kalian.
Sahabat-sahabat bertanya lagi:
“Kayfa ta’rifu man lam ya’tii ba’du min ummatika ya rasulullah?”
“Bagaimana engkau mengenali mereka yang belum datang tersebut?”
Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa mereka akan dikenali pada hari kiamat melalui CAHAYA pada wajah dan kaki bekas wudu dan beliau akan mendahului kita/menunggu mereka di Telaga (Haud).
Dari uraian singkat pada hadits tersebut terungkaplah bahwa Rasulullah mengajarkan kepada kita tentang.
- Arti penting berziarah kepada maqbarah orang yang beriman untuk menumbuhkan kesadaran tentang setiap orang akan menyusul mereka.
- Para sahabat memiliki kedudukan istimewa karena mereka beriman, bertemu, belajar langsung, membela dan menjaga Rasulullah SAW. Oleh sebab itu mereka disebut Ashhabi (sahabat-sahabatku).
Adapun orang beriman yang datang setelah generasi sahabat disebut dalam hadits ini sebagai ikhwanuna (saudara-saudara kita). penyebutan ini merupakan penghormatan sekaligus tanggung jawab. Kehormatan itu tidak diperoleh hanya karena seseorang lahir pada masa nabi, tetapi karena sungguh-sungguh beriman kepada beliau dan mengikuti petunjuknya.
Maka persaudaraan itu adalah persaudaraan iman. Jarak waktu tidak memutus hubungan rohani antara Rasulullah dan Ummatnya. Seorang Muslim yang tidak pernah melihat beliau, tapi membenarkan Risalahnya, mempelajari Sunnahnya serta menjadikan Akhlaq Beliau sebagai teladan. Maka semakin kuat keimanan dan ittiba’ seseorang, akan semakin nyatalah bahwa ia layak dalam golongan yang dirindukan dan dikenal oleh Rasulullah SAW.
- IKHWAN yang dirindukan Rasulullah adalah mereka yang tidak pernah melihat/bertemu dengan beliau tapi mereka taat mengamalkan ajaran beliau.
- Karenanya kecintaan dan kerinduan Rasulullah kepada IKHWAN nya begitu mendalam sampai-sampai beliau memikirkan nasib mereka di akhir zaman yang penuh fitnah.
Mudah-mudahan kita inilah yang dimaksud IKHWAN yang dirindukan oleh Rasulullah SAW., Tentu pertanyaannya sudahkah kita membalas cinta kasih dan kerinduan Rasulullah, karena kecintaan dan kerinduan kita kepada beliau bukan sekedar ucapan lisan dengan mengumandangkan Sholawat tanpa makna dan penghayatan, karena kerinduan sejati perlu dibuktikan antara lain dengan:
1. Menghidupkan sunnah-sunnahnya, mengikuti petunjuk beliau dalam ibadah, syariah dan muamalah dalam kehidupan sehari-hari.
2. Menjaga Wudhu, dan Sholat dengan baik dan benar agar kelak di hari mahsyar wajah kita dan anggota tubuh kita bercahaya, sehingga dengan dengan mudah dikenali beliau.
3. Mencintai apa yang dicintai beliau dengan menjunjung tinggi nilai nilai Islam, menjaga kejujuran, amanah dan kasih sayang dengan sesama.
4. Istiqomah sampai akhir hayat. Karena kerinduan seseorang untuk berjumpa dengan Rasulullah harus mendorong seseorang Muslim untuk menjaga iman, memperbanyak amal sholeh, dan segera bertaubat ketika tergelincir.
Pesan dan penutup
Rasulullah SAW, merindukan ummat sesudah beliau, beriman kepadanya meskipun tidak pernah melihatnya, menjaga kesucian wudhu dan sholat, serta istiqomah mengikuti ajaran dan Sunnahnya.
Hadits ini membawa harapan sekaligus ujian. Harapannya adalah bahwa ummat yang hidup ratusan tahun setelah beliau tetap memiliki ikatan Iman dan kedekatan dengan Rasulullah SAW. Ujiannya adalah apakah pengakuan cinta kita benar-benar melahirkan ketaatan. Karena mengaku umat Muhammad harus bisa membuktikan keimanannya melalui ilmu, ibadah, syariah dan muamalah serta keteguhan mengikuti petunjuk beliau.
Dengan demikian kerinduan Rasulullah SAW tidak hanya berhenti kepada kisah tentang kerinduan beliau kepada kita, tapi harus direspon dengan kerinduan yang aktif dengan mempelajari shiroh beliau, rindu menjaga wudhu dan shalat, rindu berakhlak mulia dan rindu kepada beliau dalam keadaan memperoleh Ridho Allah SWT.
Semoga Allah menjadikan kita sebagai bagian dari ummat yang dikenali oleh Rasulullah SAW yang menunggu di Telaga Rasulullah SAW. serta dikumpulkan bersama beliau di Surga. Amin…







