“MANIFESTASI SIFAT TAQWA”

Oleh: Drs. KH. Abd. Hayi Imam, M.Ag

(Pengasuh Ponpes. Gedongan-Cirebon)

 

Dari Jum’at ke Jum’at dan Terus setiap khutbah Jum’at kita selalu diingatkan, diwasiati untuk meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT yang senantiasa menganugerahkan nikmat dan hidayahnya kepada hamba-hamba-Nya yang selalu mengingatnya. Bahkan wasiat taqwa ini menjadi salah satu rukun dalam setiap khutbah Jum’at. Perintah Allah Swt untuk menjadi orang yang bertaqwa sehingga mati dalam keadaan muslim. (QS. Ali Imron : 102)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Dengan Taqwa hidup menjadi tenang. Oleh karenanya, marilah kita senantiasa membekali hati dan jiwa kita dengan taqwa kepada Allah. Firman Allah dalam Al-Qur’an bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Shalawat serta salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW. yang telah mengantarkan ummat manusia menuju nur hidayah berkat tuntunan Ilahi melalui wahyu-wahyu-Nya dan kepada keluarga segenap keluarga dan para sahabatnya semoga kita menjadi umat yang berhak mendapatkan syafaatul udzmanya.

Pada jum’at kali ini khotib mengajak “marilah kita bertadabbur dalam memanifestasi sifat-sifat taqwa”.

Sikap Seorang muslim muttaqin akan menjadi sosok yang bisa menunjukkan sifat-sifat sebagaimana sifat yang terkandung pada huruf lafadz TAQWA.

Assyaikh Al-Imam Qusyairi menginterpretasikan “TAQWA” mengandung empat simbol huruf, yakni huruf Ta’ (  ) yang bermakna Tawadlu , huruf Qof (  ) mempunyai arti Qona’ah, huruf Wawu (  ) berarti Wara’, dan huruf Ya’    (  berarti Yaqin.

Pertama, Tawadlu’

Sikap tawadlu’, adalah sikap rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, tidak takabbur, tidak mau menonjolkan diri dan jauh dari arogansi, tidak mudah mencela dan mencaci. Sekalipun Allah SWT telah memberikan kelebihan padanya: harta, ilmu, fisik, pangkat, jabatan, kedudukan. Orang tawadlu akan menyadari semua itu titipan Allah Swt yang harus dijaga dan dipertanggungjawabkan. Sikap tawadhu’ akan tampil sebagai sosok toleran menghargai sesama antar manusia. Sebaliknya sifat tawadhlu’, adalah takabbur, budi pekerti yang sangat rendah dan hina seperti dengki, mencaci, menggunjik, egositis, dan intoleran.

Kedua, Qona’ah

Sifat Qona’ah adalah kepribadian yang menerima apa yang dimiliki dan ridha. Dengan ridha orang menjadi merdeka karena menerima apa adanya, tidak terbebani dengan segala pemberian yang menjadi taqdir dan qodo Allah. Al-Imam hujjatul Islam Al Ghazali menyatakan bahwa qona’ah merasa cukup dengan apa yang telah diberikan. Rasululloh SAW bersabda : “Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, tetapi kekayaan sebenarnya adalah kekayaan jiwa” ( HR.Tabrani).

Dengan qona’ah kita akan selalu bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah SWT, tidak mudah menyerah, tidak mudah putus asa, dan tidak mudah kecewa dengan hasil apa yang kita harapkan. Selalu berikhtiar disertai doa dan hasilnya tawakkal kita pasrahkan kepada Allah.

Ketiga, Wara’.

Sifat Wara’ adalah sikap kehati-hatian, menahan diri, menjaga diri, menjaga kesucian diri dari hal-hal yang tidak baik (haram), serta menahan diri dari hal-hal yang tidak jelas, tidak pantas serta meninggalkan hal-hal yang bukan hak dan bukan seharusnya dilakukan. Orang yang wara’ selalu selektif dalam bertindak, bersikap, bertutur dan memutuskan sesuatu. Karena itu peluang keselamatan dunia dan akhirat menjadi lebih besar.

Rasululloh SAW bersabda : “Jadilah seorang yang wara’, niscaya engkau menjadi manusia yang paling tinggi (kualitas) ibadahnya “ ( HR. Ibnu Majah )

Keempat, Yaqin.

Selanjutnya Assyaikh al-Imam qusyairi menyebutkan, sifat yaqin itu adalah sifat teguh tidak syak, tidak ragu, memiliki jati diri yang kokoh. Nabi saw bersabda “Yang sangat aku takuti terhadap umatku adalah lemahnya keyakinan mereka”. Dengan sifat yaqin dan penuh keyakinan tidak ada satupun yang tidak bisa diraih; kebaikan, keberuntungan, kesuksesan adalah sebuah keniscayaan milik setiap orang yang memiliki keyakinan kuat.

Mudah-mudahan kita semua yang hadir di mesjid ini termasuk orang-orang yang bertaqwa, yang sebenar-benarnya. Taqwa yang diwujudkan dalam ; bersikap, mengambil kebijakan, bertutur, bertindak. Fi’lan, qaulan, wai’tiqodiyan, dzohiron wa bathinan. Dan dapat dimanifestasikan di ruang-ruang publik kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan beragama.