MEMPERINGATI TAHUN BARU ISLAM

1 Muharram 1443 H

Oleh : Prof. Dr. H. Khaerul Wahidin, M. Ag

 

Allah SWT berfirman dalam surat Attaubah : 36

 ‘’Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa’’

Muharram adalah salah satu bulan haram yang ditetapkan Allah SWT, Apa Makna tetang bulan haram tersebut, dijelaskan oleh Al-Qur’an: Surat Al-Baqorah: 217

Khutbah Jumat Masjid Raya Attaqwa, 27 Agustus 2021

 ‘’Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya’’

Dengan demikian Spirit dari Islam adalah perdamaian, terkadang filsafah kehidupan itu wajib diupayakan Assalam menjauhkan dari kehidupan “Serakah” , “Belebihan”, “Perilaku Dzlim’” dan perilaku Syaitan yaitu mengumbar hawa nafsu dan bermusuhan, oleh karena itu marilah dengan datangnya tahun baru islam 1443 H yang merupakan Syahrul Muhasabah (Bulan Instropeksi) dalam konteks kehidupan dan kemasyarakatan kita menyadari kesalahan dan dosa untuk dihapus dengan istighfar kepada Allah SWT dan Musafahah wal musalamah dengan sesama manusia menghidupkan suasan ISLAH sebagaimana dicontohkan Nabi SAW dan para sahabatnya ketika berhijrah sebagaimana     dinyatakan Allah dalam Surat Al-Hasyr :9

 “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung”

Berdasarkan ayat-ayat diatas muharram merupakan bulan istimawa dalam alquran dan mendorong umat Islam berbuat kebajikan, dalam dalam surat Al Hasyr dianjurkan untuk bertmuhasabah melakukan instrakspeksi dalam perjalanan masa lampau dan mempersiapkan hari esok di tahun baru dengan semangat meraih kemenangan.

Bertolak dari pelajaran tentang kehidupan dalam surat al hasyr ayat 18 bahwa setiap jengkal  dr langkah manusia tidak boleh lewat dengan sia-sia, karena setiap perbuatan yang dilkukakan manusia sekecil apapun ada balasannya, maka hendaknya  kita pandai  memberikan nilai didaktif berbasis moral bg kebaikan ummat manusia.

Gerrisson seorang sastrawan Inggris mengulas wcana EROS dlam sastra kuno ttg perjalaran para Nabi, dalam judul “Deweyann propetic”, menyatakan inti Eros adalah Wisdom ( bijak), wisdom itu merupakan hasil dari perjalanan panjang manusia dalam membiasakan 3 sikap yaitu khidmat, Himmah dan Shahub ( pengabdian, cita cita dan pergaulan luas), khidmah memberi manfaat kepada orang lain, Himmah cita intuk kebaikan yang luas, shohibah pertemanan yang tulus tanpa kelicikan. Inilah hakekat dari proses edukasi. Model pendidikan seperti ini biasanya ditemukan dilembaga yng bernama pesantren dan didapat dari peneladanan.para gurunya yang dianggap sbg orang tuanya.

Tepatlah kiranya pepatah yang menyetakan : “

ITS Not How Much Your Money Give but How Much Love Put In Your Give As like Your Say Experience is The Best Teacher, ” pendidikan terbaik bukan banyaknya nasihat yang kau berikan, tetapi keikhlasan dlm keteladanan”

INILAH KETELADAN atau hikmah peristiwa HIJRAH sebagai core of the islamic faith yng dipraktekkan assabiqunal awwalun yaitu  bahwa nulai keislaman itu adalah By God to humanity sehingga membawa umat minal Gholibun.

Dalam sejarah kerajaan-kerajaan Islam tersebutlah seorang Raja bernama Timur Lenk ( L. 1336)   cucu jeghiskhan, yang tercatat sebagi lembaran hitam dalam sejarah peradaban Islam, karena hidup dari lingkungan muslim tetapi prilakunya sangatlah kejam, Ayahnya mendidik Timur Lenk dengan memberikan imajinasi tentang kejahatan, yng digambarkannya dunia ini ibaran “jambang” bunga yang berisikan kalajengking dan Naga, maka imajinasi inilah yang tertanam dalam fikirannya  sampai menginjak dewasa terlebih sejak kecil tidak memiliki kebiasaan bershahib dengan teman sebayanya yng cenderung membulinya karena tampangnya yang buruk dan pincang pula. Pada suatu hari Sang Raja berdialog dengan Nasruddin Hoja seorang muballig dan Sufi termashur di Timuria negeri Samarkhan pusat kerajaan Yang dipimpin Timur Lenk ( K. 1360-w.1405/ ) selama kekusaannya diisi dengan invasi sehingga wilayahnya membentang dari India-persia, dan dari Russia-Saudi Arabia.

Dialog singkat tentang 3 pertanyaan terkait Gelar, ( dijawab Naudzubillah). Harga ( dijawab 100 dinar). dan tempat di Akherat ( di jawab, bersama raja-raja besar seperti dlm sejarah: Firaun dr Mesir, Namrud dr Babilonia, dan Nero dari Roma) karena sang Raja sngat gila Kuasa, maka ga peduli dengan gelar yang diberikannya, ingin terus berkuasa, walau akhirnya mati juga dalam pertempuran dengn Raja Ming dari Cina.

Dari kisah tersebut yang dituturkan dalam buku “Kisah Mujahid”, diiambil i’tibar, bahwa menghadapi kehidupan ini terlebih memilih pemimpin, umat Islam diajarkan agar berusaha memilihnya dengan pertimbangan agama dan pergaulan yang dijiwai dengan moralitas dan budi pekerti mulia, cerdas dan agama saja tidak cukup, inilah yang disebut sikap washathiyah. Yaitu sikap dan pandangan yang hati2 dngan pertimbangan yng moderat.