TAFSIR MAULID DALAM KEBERAGAMAAN DAN KEMANUSIAAN

Oleh, Dr. Hajam, M.Ag (Dosen IAIN Cirebon)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini sebagai bentuk ekspresi umat Islam atas keberhasilan, kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad saw. Tafsir hakiki peringatan Maulid Nabi Muhammad saw yang setiap tahun kita rayakan sejatinya sebagai proses penyadaran, bukan sekedar seremonial dan ritual keagamaan formal semata.  Makna yang terpenting dengan peringatan maulid ini hendaknya diarahkan untuk memahami hakikat dakwah Nabi Muhammad saw dan introspeksi diri secara total terhadap sikap keberagamaan dan kebersamaan, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw. Kehadiran Nabi Muhammad saw ditengah umat membawa dua misi sekaligus, yaitu misi keberagamaan dan misi kemanusiaan, dalam misi ini Nabi Muhammad saw mengajarkan dan sekaligus mengamalkan nilai-nilai kerahmatan, sebagaimana bunyi teks firman Allah:

“Aku tidak mengutus engkau, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta”.

Ibn Abbas, ahli tafsir awal,menjelaskan bahwa kerahmatan Allah meliputi orang-orang mukmin dan orang-orang kafir. al-Qur’an juga menegaskan rahmat Allah mencakup orang-orang mukmin dan orang-orang non mukmin, orang baik dan orang jahat serta semua makhluk Allah. Cakupan rahmat bagi seluruh alam dan seisinya ini bisa dikembangkan dalam memberikan ruang gerak bagi tumbuhnya masyarakat majemuk dengan berbagai latar yang senantiasa cinta damai dan menjungjung tinggi nilai-nilai moral dan peradaban.

Kehadiran Nabi Muhammad saw telah mengubah pandangan dan kecenderungan cara berfikir masyarakat Arab yang saat itu sangat kabilahisme sentries menjadi berpikir kosmopolit. Mindset hidup masyarakat Arab yang saling berperang dan melakukan tindak kekerasan antar suku diubah menjadi masyarakat yang rukun dan damai, kemudian Nabi Muhammad saw mengarahkannya untuk membangun peradaban baru yang bersifat kosmopolit, melewati batas etnis, agama dan primordial mereka sampai pusat-pusat peradaban Islam bermunculan di berbagai wilayah di luar Makkah dan Madinah, hal ini terjadi karena peran Nabi Muhammad saw sukses membawa misi kerahmatan dan mengubah mindset masyarakat. fungsi kerahmatan ini oleh Nabi Muhammad saw dielaborasi melalui sabdanya,

“Aku diutus Allah hanya untuk menyempurnakan akhlak”.

Dengan sabda ini menunjukkan bahwa Prinsip dasar Islam yang diemban Nabi Muhammad saw adalah penyempurnaan etika manusia atau membangun manusia yang bermoral. Keberadan Islam hakikatnya untuk membentuk sebuah tatanan kehidupan manusia yang harmonis, damai, dan aman. Nilai-nilai dasar inilah yang kemudian menjadikan Islam sebagai agama yang bersifat universal dan inklusif.

Cara dakwah Nabi Muhammad saw dalam menyampaikan ajaran Islam dilakukan  dengan  harmonis, damai dan jauh dari tindak kekerasan terhadap kelompok lain bisa dibuktikan pada peristiwa “Fath Makkah” (pembukaan Kota Makkah) yang dilakukan oleh umat Islam yang dipimpin langsung Nabi Muhammad saw. Kota Makkah perlu dimerdekakan setelah puluhan tahun umat Islam mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari orang-orang musyrik dan kota Makkah dijadikan markas kegiatan orang-orang musyrik.

Saat umat Islam merayakan Fath Makkah sebagai bentuk euphoria atas keberhasilannya menguasai kota Makkah, ada sekelompok kecil dari sahabat nabi mengkampanyekan yel-yel yang bernada propokatif dengan meneriakan: “al-yaum yaumul malhamah” (hari ini adalah hari pertumpahan darah). Slogan ini sengaja dilakukan sebagai bentuk upaya balas dendam atas perlakuan tindak kekejaman dan tindak kekerasan orang-orang musyrik Makkah  kepada umat Islam selama puluhan tahun. Sikap sekelompok sahabat tersebut langsung dibendung oleh Nabi Muhammad saw dengan melarang merebaknya yel-yel propokatif dan menggantikannya dengan slogan yang lebih santun dan penuh kasih, yaitu: “al-yaum yaumul marhamah”, hari ini adalah hari penuh kasih sayang. Akhirnya kegiatan pembebasan kota Makkah menemui kesuksesan tanpa harus diakhiri dengan kekerasan dan pertumpahan darah. Bukti lain pernah suatu hari Nabi Muhammad Saw. Berdiri dari tempat duduknya, sebagai bentuk penghormatan, saat ada rombongan jenazah non-Muslim lewat di hadapan Nabi. 

 Rahasia kesuksesan Nabi Muhammad saw terletak misi kemanusiaan dengan membawa ruh peradaban serta tiang penyanggah bagi tegaknya etika-sosial, tanpa harus melakukan tindakan ekstrimis, radikal, memaksa, dan bentuk intimidasi terhadap siapa pun. Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw bukan hanya sebagai lembaga himpunan dogma teologis dan menjadi lembaga layanan ritual semata tanpa ada implikasi keramahan sosial. Watak otentik Islam sejak awal kelahiranya memiliki kekuatan pembebasan (liberatif), artinya agama Islam dipahami dari esensinya mengandung penghayatan agama yang membumi dan membebaskan manusia dari berbagai belenggu pemaksaan kehendak, kemiskinan, kebodohan dan membebasan manusia untuk kreasi dan pendapat agar Islam menjadi agama yang ramah dan terbuka ketika menyikapi perbedaan.  

Nabi Muhammad saw telah menunjukkan moral Al-Qur’an seperti keadilan, cinta kasih, kedamaian,dan kebebasan yang kesemuanya merupakan pesan-pesan moral keagamaan yang dapat dijadikan pegangan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Titik puncak kesempurnaan beragama seseorang terletak pada kemampuan memahami ajaran Islam dan menyelaminya sehingga bersikap Arif dan bijak dalam menyikapi berbagai perbedaan pandangan. Momentum peringatan maulid Nabi Muhammad saw mengajarkan kita untuk merekonstruksi cara berdakwah dengan pendekatan hikmah dan kebajikan serta tidak lagi menggunakan cara-cara kasar dan anarkis hal ini sesungguhnya sangat berlawanan secara diametral dengan cara dakwah Nabi Muhammad saw.

Kita wajib menteladani kepada Nabi Muhammad saw yang menangkap essensi Islam sebagai agama al-uswah hasanah. Agama adalah suri tauladan yang baik. Cara al-uswah hasanah agar bisa terwujud dengan menjungjung tinggi keteladanan, moralitas, persamaan, pembelaan terhadap kaum lemah, penegakan hak-hak asasi manusia, dan gerakan kultur lainnya, meski berbeda dalam corak pandangan, ras, dan agama, dll. Sejatinya umat Islam tidak perlu mengedepankan sikap antipati, mudah tersinggung dan bersikap keras kepada perbedaan pemahaman keagamaan, hal ini agar tidak menimbulkan terjadinya tirani keberagamaan dan tragedi kemanusiaan.

Allahumma Shalli ’Ala Sayyidana Muhammad…