PANDAILAH MEMBACA DIRI Oleh : Drs. H. Muslim Muchlas, M.Pd.I Oleh : Drs. H. Muslim Muchlas, M.Pd.I

Dalam situasi dan kondisi apapun, marilah kita tetap untuk selalu bersyukur kepada Allah swt, atas semua nikmat dan karuniah-Nya, yang selalu tercurah kepada kita, dan mari kita berusaha untuk membuktikan dan mewujudkan secara nyata rasa syukur kita kepada Allah swt, melalui prilaku hidup yang baik dan benar, melalui prilaku hidup yang mencerminkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt, melalui pembuktian ketaqwaannya kepada Allah swt, dengan melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya secara benar dan sungguh- sungguh. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang berpredikat muttaqin sebagai bukti nyata kita bersyukur kepada Allah SWT.

Seiring berjalannya waktu, hari, minggu, bulan dan tahun, tanpa kita sadari bahwa usia kita semakin bertambah dan itu artinya semakin dekat dengan akhir kehidupan kita di dunia. Untuk itu marilah kita untuk selalu melakukan muhasabah diri, introspeksi diri, membaca diri, membaca ulang akan perbuatan yang sudah kita lakukan. Apakah perbuatan-perbuatan itu sudah sesuai dengan ketentuan syariat agama? Apakah perbuatan yang sudah kita lakukan akan menghantarkan kita meraih keselamatan dan kebahagiaan hidup, khususnya kehidupan di akhirat kelak? Atau sebaliknya, perbuatan-perbuatan yang sudah kita lakukan masih banyak melanggar ketentuan Allah dan akan menjauhkan kita untuk mendapatkan rahmat Allah. Itulah pentingnya kita melakukan muhasabah diri dan membaca ulang akan perikaku kita. Sebab terkadang masih banyak orang yang begitu pandai dan cerdas membaca prilaku orang lain, terutama dalam hal kekurangan dan kejelekannya, sementara membaca dirinya jarang dilakukan, yang karenanya lupa akan kekurangan yang ada pada dirinya, bahkan karena jarang membaca diri, ia merasa tidak ada kekurangan pada dirinya. Betapa penting dan banyak manfaat, ketika kita melakukan evaluasi diri melalui pembacaan pada diri kita masing-masing, sebagi media dan evaluasi diri untuk memperbaiki segala kekurangan dan kesalahan yang sudah kita lakukan.

Lalu apa yang harus kita baca pada diri kita masing-masing? Sebagaimana dipesankan oleh Luqmanul Hakim kepada putranya:

 “Wahai anakku, sesungguhnya manusia itu terbagi menjadi tiga bagian; sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk dirinya sendiri, dan sepertiga untuk belatung (binatang tanah). Bagian untuk Allah adalah rohnya (yakni akan kembali kepada-Nya). Bagian untuk dirinya sendiri adalah amalnya (yakni balasannya akan kembali pada dirinya). Bagian untuk belatung (binatang tanah) adalah jasadnya (yakni ketika jasadnya telah dimasukkan ke dalam kubur)”.

Pesan Luqmanul Hakim kepada putranya ini, mari kita jadikan pesan untuk diri kita masing-masing, mari kita baca dan kita pahami, kita renungkan dan selanjutnya kita berusaha untuk menerapkan dalam kehidupan kita.

Pertama, sesuatu yang pada akhirnya akan kembali kepada Allah swt, adalah rohnya. Kita telah menyadari dan meyakini, bahwa Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan. Allah yang menentukan saat kematian setiap makhluk. Jika saat kematian itu telah tiba, maka tidak ada sesuatu apapun yang dapat mempercepat atau memperlambatnya barang sekejap pun. Demikian pula keadaan makhluk yang akan mati, tidak ada sesuatu apapun yang dapat mengubahnya dari yang telah ditentukan-Nya. Allah swt berfirman :

“Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Munafiqun : 11)

Persoalan kapan, dimana dan sedang apa, itu adalah sunnatullah, yang menjadi persoalan buat kita adalah setelah roh kita kembali kepada Allah (maut), bekal apa yang sudah kita siapkan untuk menghadap-Nya, apa yang sudah kita siapkan untuk menjawab dan mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan selama hidup di dunia ini. Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan betul kesempatan hidup di dunia yang sementara ini sebagai ladang untuk bercocok tanam amal baik, sebagai sarana untuk menyiapkan bekal memasuki kehidupan yang selamanya (akhirat). Kita jadikan kehidupan di dunia yang amat sangat singkat ini untuk dapat meraih keselamatan dan kebahagiaan hidup yang abadi di akhirat nanti. Karena, apa yang akan kita rasakan dan kita nikmati di akhirat kelak nanti,  sesungguhnya adalah hasil dari apa yang kita perbuat selama hidup di dunia yang amat sangat singkat ini. Jadikan kehidupan di dunia yang singkat dan sementara ini untuk bisa menyiapkan dan membekali diri meraih ridlo dan rahmat Allah, yang karenanya kita akan selamat dari azab Allah dan mendapati kebahagiaan dan keselamatan dalam keabadian hidup di akhirat dengan memasuki surga-Nya.

Kedua, sesuatu yang pada akhirnya akan kembali kepada diri kita sendiri, adalah amalnya yakni balasanya akan kembali kepada dirinya, baik yang baik maupun yang tidak baik, sedikit atau banyak. Kita tentu sangat mengharapkan balasan yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah, balasan yang akan menghantarkan kita meraih keselamatan dan kebahagiaan dengan memasuki surga Allah. Jika kita mengharapkan balasan yang baik, balasan yang akan menyelamatkan kita dari azab Allah, balasan yang akan menghantarkan kita memasuki surga Allah, maka tentu kita harus melakukan perbuatan yang baik dan benar sesuai ketentuan syariat. Jangan sampai kita hanya berharap untuk mendapatkan balasan sesuai keinginan, sementara kita tidak mau berbuat baik, tidak mau melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Hidup di dunia ini dapat digambarkan seperti kita sedang melakukan sebuah kompetisi untuk menjadi yang terbaik, sedang melakukan perjuangan untuk meraih apa yang kita inginkan, bahkan sedang diuji oleh Allah untuk dapat terpilih sebagai orang yang terbaik karya hidupnya (amalnya). Allah swt, berfirman dalam surat Al Mulk ayat 2 :

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Dalam ayat di atas diterangkan bahwa Allah SWT menciptakan kematian dan kehidupan adalah untuk menguji manusia, siapa diantara mereka yang beriman dan beramal saleh dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang dibawa Nabi Muhammad SAW dan siapa pula yang mengingkarinya. Dengan menciptakan kehidupan itu, Allah memberi kesempatan yang sangat luas kepada manusia untuk memilih mana yang baik menurut dirinya. Apakah ia akan mengikuti hawa nafsunya, atau ia akan mengikuti petunjuk, hukum, dan ketentuan Allah sebagai penguasa alam semesta. Seandainya manusia ditimpa azab yang pedih di akhirat nanti, maka azab itu pada hakikatnya ditimpakan atas kehendak diri mereka sendiri. Begitu juga jika mereka memperoleh kebahagiaan, maka kebahagiaan itu datang karena kehendak diri mereka sendiri sewaktu hidup di dunia.

Ketiga, sesuatu yang pada akhirnya akan ditinggal dipermukaan bumi yang fana ini untuk belatung, adalah jasadnya (yakni ketika jasadnya telah dimasukkan ke dalam kubur)”. Untuk itu, jika sampai saat ini kita masih diberikan kesempatan hidup dengan nikmat sehat fisik atau badan kita, mari kita gunakan sebaik mungkin untuk melakukan hal-hal yang terbaik dan berkualitas penuh manfaat, yang didasarkan atas keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Dengan sehat dan kuatnya fisik atau badan kita, semestinya dapat menunjang untuk melakukan amal saleh dan menghasilkan karya hidup yang terbaik penuh manfaat sebagai bukti rasa syukur kepada Allah SWT.

Kita harus menyadari bahwa hidup di dunia dengan segala kehidupannya adalah untuk menguji manusia, siapa diantara mereka yang selalu menggunakan akal dan pikirannya memahami agama Allah dan memilih mana perbuatan yang paling baik untuk dikerjakannya, sehingga perbuatannya itu mendapat ridlo-Nya. Juga untuk mengetahui siapa yang tabah dan tahan mengekang diri dari mengerjakan larangan-larangan Allah dan siapa pula yang paling taat kepada-Nya.

Diakhir khutbah, khotib berpesan pada diri khotib khususnya dan kepada seluruh jemaah sholat jum’at, untuk selalu membaca diri kita, memeriksa hati apakah kita benar-benar seorang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, memeriksa segala apa yang akan kita perbuat, apakah telah sesuai dengan yang diperintahkan Allah atau tidak, dan apakah yang akan kita perbuat itu larangan Allah atau bukan. Jika perbuatan itu telah sesuai dengan yang diperintahkan Allah, bahkan perbuatan yang diridloi-Nya, hendaklah segera mengerjakannya. Sebaliknya jika perbuatan itu termasuk larangan Allah, maka jangan sekali-kali melaksanakannya.

Semoga kita tetap komitmen dan istiqomah untuk selalu membaca dan memeriksa diri, dan tetap menjalankan kewajibannya, baik kewajiban duniawi maupun ukhrawi di tengah-tengah suasana wabah dan berbagai ujian ini dalam lindungan Allah SWT, hingga akhirnya kembali kepada Allah dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.