Oleh: Dr. Wahyudin, M.Pd.I (Direktur Laziswa At-Taqwa Cirebon)Oleh: Dr. Wahyudin, M.Pd.I

(Direktur Laziswa At-Taqwa Cirebon)

Prawacana

Islam merupakan agama yang mengatur dan menata seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam Islam semua manusia memiliki kewajiban yang sama kepada Sang kholik. Kewajiban tersebut adalah beribadah kepada Allah Swt tanpa menyekutukan-Nya sedikitpun dengan makhluk-Nya. Kesadaran bahwa manusia mimiliki kewajiban beribadah kepada Sang Kholik harus dibentuk sejak dini. Salah satu upaya untuk menumbuhkan kesadaran tersebut adalah pendidikan.

Pendidikan adalah aspek utama kehidupan yang harus menjadi prioritas. Salah satu faktor yang menjadi penentu maju mundurnya suatu negara adalah pendidikan. Semakin tinggi kualitas pendidikan warga sebuah negara, maka semakin besar peluang negara tersebut untuk maju. Begitu sebaliknya, semakin rendah pendidikan warga sebuah negara maka semakin jauh peluang negara tersebut untuk mencapai kemajuan.

Pendidikan di Indonesia belum berjalan sesuai dengan harapan. Dalam sebuah survei kemampuan pelajar yang dirilis oleh Programme for International Student Assessment (PISA), pada Selasa (3/12/2019) di Paris, menempatkan Indonesia di peringkat ke-72 dari 77 negara. Data ini menjadikan Indonesia bercokol di peringkat enam terbawah, masih jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Survei PISA merupakan rujukan dalam menilai kualitas pendidikan di dunia, yang menilai kemampuan membaca, matematika dan sains.

Problematika pendidikan ini perlu solusi tepat. sehingga bangsa Indosia bangkit dan menyadari betapa urgenya pendidikan dalam kehidupan. Dalam mengatasi problem pendidikan yang terjadi di Indonesia tidak cukup diserahkan sama pemerintah ansich, akan tetapi harus bersinergis antara para pakar pendidikan, pemerintah, orang tua dan semua elemen masyarakat lainnya.

Dalam kontreks pendidikan agama Islam, saat ini banyak problem yang dihadapi, baik terkait jam pelajaran, kurikulum maupun model pembelajaran. Munculnya wabah coivid 19 menjadi problem baru dalam dunia pendidikan, kuhususnya pendidikan Agama Islam. Betapa tidak, karena mata pelajaran yang sudah didesain dalam kurikulum yang ada, terkendala dengan situasi yang ada. Kurikulum yang dipersiapkan untuk pembelajaran normal (tatap muka) di lembaga pendidikan tertentu, harus beralih pada kondisi sulit untuk diterapkan. Upaya antisipatif pemerintah dalam menghadapi kondisi tersebut telah dilakukan. Salah satunya mendesain ulang kurukulum dan model pembelajarannya. Kebijakan pembelajaran daring merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menyelenggarakan aktifitas pembelajaran dimasa pandemi. Namun demikian hal ini pun tak luput dari kendala, baik jaringan maupun yang lainnya. Disisi lain, keluhan orang tua dalam mendampingi anak-anaknya selama pembelajaran daringpun sangat beragam. Mulai dari sulitnya menondisikan anak-anak maupun biaya pembelian pulsa.

 

Keteladanan Sebuah Metode

Ada pendapat yang mengatakan bahwa metode lebih penting dari materi (Atthoriqah Ahamu Minal Maddah). Ungkapan ini menjelaskan bahwa metode memiliki peranan yang sangat urgen dalam pembelajaran. Salah satu diantaranya adalah metode keteladanan. Keteladanan berasal dari kata dasar ‘’Teladan’’ yang berarti perbuatan (barang dan sebagainya) yang dapat ditiru atau dicontoh. Sedangkan keteladanan berarti hal-hal yang dapat ditiru atau di contoh. Keteladanan adalah tugas yang melekat pada setiap orang tua secara alamiah karena kematangan dan kedewasaanya. Dalam keseharian anak, terutama ketika ia masih dalam masa-masa pertumbuhanya . Dalam rangka identifikasi kepribadianya ia masih banyak meniru dari orang tuanya. Hasbullah mengemukakan Bahwa tingkah laku, cara berbuat dan cara berbicara akan ditiru oleh anak. Dengan teladan ini, lahirlah gejala positif, yakni penyamaan dengan orang yang ditiru.Identifikasi positif itu penting sekali dalam pembentukan kepribadian. Karena itulah keteladanan merupakan alat pendidikan yang utama dan terpenting, sebab proses transfernya terikat erat dalam pergaulan antara orang tua dan anak serta pergaulan tersebut berlangsung secara wajar dan akrab.

Keteladanan dalam pendidikan adalah salah satu metode yang memiliki efektifitas tinggi dalam membentuk dan mempersiapkan anak secara baik secara sosial moral, maupun spiritual. Karena, seorang guru ataupun orang tua merupakan contoh ideal dalam panda‎ngan anak, yang tingkah laku dan sopan santunnya  akan ditiru. semua keteladanan itu akan melekat pada diri dan perasaannya, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, hal yang bersifat material, inderawi, maupun spiritual. Meskipun anak berpotensi besar untuk meraih sifat-sifat baik dan menerima dasar-dasar pendidikan yang mulia, ia akan jauh dari kenyataan positif dan terpuji jika dengan kedua matanya ia melihat langsung pendidikan yang tidak bermoral. Memang yang mudah bagi pendidik  adalah mengajarkan berbagai teori pendidikan kepada anak, sedang yang sulit bagi anak adalah mempraktekkan teori tersebut jika orang yang mengajar dan mendidiknya tidak pernah melakukannya atau perbuatannya tidak sesuai dengan ucapannya.

Pada dimensi inilah setiap orang tua maupun guru hendaknya harus memahami dengan baik bahwa setiap anak cenderung mengidentifikasi dirinya dengan orang yang dekat kehidupannya.Tugas utama dari pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pedidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain. Oleh karena itu, orang tualah yang selalu dekat dengan kehidupan anak. Maka, kualitas proses pengadopsian dan penyerapan segala sesuatu yang berasal dari orang tua juga sangat besar, yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam hal ini adalah kejelasan tentang keteladanan mana yang harus ditiru atau yang sebaliknya. Dengan keteladanan dimaksud untuk membiasakan anak mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam konsep Islam, kewajiban orang tua dalam memberikan keteladanan terhadap anak – anak adalah suatu yang sangat urgen. Hal ini karena keluarga berfungsi sebagai wahana pendidikan agama yang paling ampuh. Kesan yang paling ditimbulkan dari suasana rumah tangga yang diciptakan oleh orang tua amat besar pengaruhnya pada kejiwanan anak. Orang tua merupakan tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi anak, dengan orang tua sebagai kuncinya.

Dalam dunia  pendidikan banyak ditemukan keragaman bagaimana cara mendidik atau membimbing anak, siswa dalam proses pembelajaran formal maupun non formal (masyarakat). Namun yang terpenting adalah bagaimana orang tua, guru, ataupun pemimpin untuk menanamkan rasa iman, rasa cinta pada Allah, rasa nikmatnya beribadah shalat, puasa, rasa hormat dan patuh kepada orang tua, saling menghormati atau menghargai sesama dan lain sebagainya. Hal ini agak sulit jika di tempuh dengan cara pendekatan empiris atau logis.

Konsep keteladanan yang dapat dijadikan sebagai cermin dan model dalam pembentukan kepribadian seorang muslim adalah ketauladanan yang di contohkan oleh Nabi Muhammad Saw mampu mengekspresikan kebenaran, kebajikan, kelurusan, dan ketinggian pada akhlaknya. Dalam keadaan seperti sedih, gembira, dan lain-lain yang bersifat fisik, beliau senantiasa menahan diri. Bila ada hal yang menyenangkan beliau hanya tersenyum. Bila tertawa, beliau  tidak terbahak-bahak. Diceritakan dari Jabir bin Samurah: “beliau tidak tertawa, kecuali tersenyum.” Jika menghadapi sesuatu yang menyedihkan, beliau menyembunyikannya serta menahan amarah. Jika kesedihannya  terus bertambah beliau pun tidak mengubah tabiatnya, yang penuh kemuliaan dan kebajikan.

 

Rasulullah Sebagai Sumber Keteladanan

Alloh SWT mengutus Rasulullah SAW sebagai teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi seluruh manusia dalam merealisasikan sistem pendidikan Islam. Setiap perbuatan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari merupakan prilaku Islami yang bersumber dari Al-Qur’an. Sayidah Aisyah ra sendiri pernah berkata bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an (khulukuhul Qur’an). Dengan demikian sebagai muslim, hendaknya menjadikan Rasul sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari. Karena keagungan keteladanan yang sempurna hanya dimiliki Rasulullah pembawa risalah abadi, kesempurnaannya menyeluruh dan universal, baik yang berhubungan dengan masalah ibadah, atau yang menyangkut kepatuhan atau kesabaran. Ini semua perlu diteladani dengan harapan agar kita menjadi manusia yang bermental islami yang seluruh aspek kejiwaannya didasari dengan nilai-nilai luhur Al-Qur’an dan Hadits.

Pada saat manusia dalam kandungan Ibunya, kemudian ditanya tentang kesaksian bahwa Allah adalah Tuhannya, dia mengakui Allah sebagai Tuhan. Dengan demikian, kesanggupan mengenal Allah adalah kesanggupan paling awal dari manusia. Ketika Rasulullah bersama Sayidah Siti Khodijah sedang mengerjakan sholat, sayyidina Ali masih kecil datang dan menunggu sampai selesai, kemudian beliau bertanya: “Apakah yang sedang Anda‎ lakukan?”. Dan Rasul pun menjawab: “Kami sedang menyembah Alloh, Tuhan pencipta alam semesta”. Lalu Ali spontan menyatakan ingin bergabung. Hal ini menunjukkan bahwa keteladanan dan kecintaan yang kita pancarkan kepada anak, serta modal kedekatan yang kita bina dengannya, akan membawa mereka mempercayai pada kebenaran prilaku, sikap dan tindakan kita. Dengan demikian, menabung kedekatan dan cinta kasih dengan anak, akan memudahkan kita nantinya membawa mereka pada kebaikan-kebaikan.

Pada keluarga Rasulullah terdapat banyak suri tauladan yang sangat menarik dan penting untuk ditiru dan diteladani umatnya. Orang-orang yang memperoleh tatapan sekilas darinya dapat merasakan keindahan surga dan kengerian neraka. Beliau gemetar selama  sholat, menggigil karena takut neraka dan terbang dengan sayap keinginan akan surga. Perilaku beliau memberi inspirasi dan berkah kepada setiap orang di sekelilingnya. Anak-anak dan istri-istri beliau juga merasa kagum dan takut manakala beliau berkhotbah, memberi perintah, dan apa-apa yang mereka alami dan dilakukan  serta memberi contoh melalui tindakan mereka. Anda‎ikan semua ahli pendidikan berkumpul dan menyatukan semua pengetahuan mereka tentang pendidikan, mereka tidak bisa seefektif Nabi.

Keteladanan inilah yang nampaknya menjadi sarana yang paling efektif dalam menyampaikan materi pendidikan beliau.  Beliau tampil sebagai contoh kongkrit dari semua materi dakwah dan pendidikan yang beliau sampaikan. Murid-murid beliau tidak pernah lagi bertanya seperti apa contoh kongkrit dari kejujuran, kesederhanaan, toleransi, dan lain sebagainya. Karena mereka dapat menyaksikan semua itu secara langsung, pada guru mereka sendiri, yaitu Rasulullah. Keteladanan yang beliau tampilkan. Adalah betul-betul menjadi langkah dan strategi pendidikan yang amat manjur dan jitu untuk menularkan semua kecerdasan yang beliau miliki. Sebab, semua yang beliau tampilkan baik berupa perbuatan ataupun perkataan mampu menyedot perhatian besar para peserta didiknya sehingga dengan penuh kesadaran yang tinggi mereka ingin untuk meniru dan melaksanakan apa yang dikatakan dan dikerjakan oleh beliau. Wallohu’alam bishowab.