3 (TIGA) HAL PERBUATAN-PERBUATAN YANG DAPAT MENUNDA KEMATIAN Oleh, Muhammad Taufik, S.AgOleh, Muhammad Taufik, S.Ag

(Ketua Baznas Kota Cirebon/ Wakil Ketua II At-Taqwa Centre Cirebon)

 

Marilah kita memanjatkan Puja dan Puji Syukur kehadirat Allah SWT dengan nikmatnya dan hidayahnya kita dapat berkumpul disini menunaikan shalat berjamaah.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah menyampaikan Agama yang sempurna kepada umat manusia. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang selalu berpegang teguh dengan sunnah Beliau hingga ajal menjemput kita. Aamiin.

Kematian pasti datang, tetapi kapan waktunya? tak ada yang tahu kecuali Tuhan. Ia bisa datang kapan saja, dalam waktu dekat atau lama, usia muda atau tua. Karena itu kita tak bisa membatasi usia manusia. Manusia bisa saja wafat dalam usia beberapa hari pasca lahirnya, atau saat lahirnya, tetapi juga manusia bisa wafat ribuan tahun kemudian. Intinya kematian adalah ketentuan pasti, tetapi waktunya bukanlah suatu yang ditentukan kepastiannya.

Allah SWT Berfirman dalam Q.S Al-Anam ayat 2 yang berbunyi:

“Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menentukan ajal (masa hidup tertentu) dan ada lagi ajal yang pasti (ajal musamma) di sisi-Nya” (Qs. Al-Anam: 2).

Untuk memahaminya, ingatlah yang disebut dengan hukum sebab-akibat. Yaitu, segala yang terjadi pasti ada sebabnya. Jika sebabnya sempurna dan terpenuhi, maka terjadilah akibatnya. Kematian adalah salah satu peristiwa di alam, maka tentu juga memiliki sebab-sebabnya. Karena itu, jika ada yang mati, kita pun bertanya penyebab kematiannya? Apakah karena sakit, kecelakaan, di bunuh, atau bunuh diri. Ribuan atau jutaan hal bisa menjadi sebab kematian seseorang. Kalau kita mengetahui sebab kematian dan menghindarinya, maka terhindar pula kita dari kematian segera.

Hal inilah yang dilakukan Sayidina Umar bin Khattab, ketika beliau diberitahukan bahwa di suatu daerah terkena wabah penyakit, maka dia memilih untuk tidak memasuki daerah itu. Maka Seseorang berkata kepadanya, “bukankah hal itu sudah ditakdirkan Tuhan dan kita menghindarinya?” kemudian Sayidina Umar menjawab, “Saya menghindar dari takdir Tuhan untuk memasuki takdir Tuhan yang lainnya.” Jawaban Sayidina Umar ini menunjukkan pemahaman beliau atas prinsip sebab-akibat dalam takdir ilahi, termasuk takdir kematian.

Jadi, takdir kematian juga memiliki syarat atau sebabnya. Kalau syarat-syarat atau sebabnya belum terpenuhi maka kematian tidak akan menjemputnya, seperti tertera dalam firman Allah SWT dalam Q.S Ali Imran ayat 145, Q.S Yunus ayat 49 dan Q.S Al-Rad ayat 39 yang berbunyi:

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (Q.S. Ali Imran : 145).

Tapi, kalau semua syarat-syarat atau sebab-sebabnya telah terpenuhi, maka kematian pasti terjadi, tak bisa ditunda lagi, “Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) memajukan(nya).”(Q.S. Yunus : 49)

Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah”. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).

Sederhananya, ajal (kematian) memiliki potensi untuk mengalami penundaan karena adanya halangan yakni belum terpenuhi syarat atau sebabnya. Alquran menegaskan, “Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitb” (Q.S. al-Rad : 39).

Terjemah Arti: Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).

Sayidina Ali berkata, “Allah menciptakan ajal, lalu memanjangkan dan memendekkannya, memajukan dan menangguhkannya, dan menghantarkan pada kematian melalui sebab-sebab ajal itu.”

Karena itulah, terdapat banyak riwayat yang menjelaskan bahwa usia bisa diperpanjang atau diperpendek. Artinya, ada perbuatan-perbuatan yang dapat memperpanjang usia, dan ada pula perbuatan-perbuatan yang memperpendek usia manusia.

Berikut perbuatan-perbuatan yang membuat umur kita panjang antara lain sebagai berikut:

  1. Ringan Tangan / Suka Sedekah

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sedekah seorang muslim bisa meningkatkan umurnya, bisa mencegah kematian yang su’ul khotimah, Allah bakal menghapus sifat arogan, kefakiran, dan sifat berbangga diri darinya” (HR Thabrani)

Sedekah merupakan kata yang gampang diucapkan, tetapi sukar untuk dilaksanakan. Apabila kondisi ekonomi sedang susah, maka jangankan melaksanakan sedekah, terbesit niat untuk bersedekah pun sama sekali tidak. Kita disibukkan dengan memikirkan kebutuhan nasib diri sendiri yang wajib tanpa ingat bakal orang lain.

Apabila kondisi ekonomi sedang mapan, harta membeludak dimana-mana, maka penyakit kikir menjelma dalam bentuk rasa sayang terhadap harta benda tersebut. Kita bakal merasa tidak rela apabila harta kekayaan hasil jerih payah diberbagi begitu saja pada orang lain. Kelebihan harta yang ada pun akhirnya malah ditumpuk tanpa sempat dikeluarkan sebagai sedekah.

Padahal dengan jelas pada hadist di atas, Rasulullah SAW bersabda bahwa sedekah seorang muslim bisa meningkatkan umurnya, mencegah su’ul khotimah –akhir hayat yang jelek- dan menghapus kearoganan, kefakiran dan berbangga diri. Al Qur’an juga menyatakan bahwa orang-orang yang bakal mewarisi surga seluas langit dan bumi merupakan mereka yang mau bersedekah di kala lapang maupun sempit.

Salah satu yang bias diteladani yakni ibunda Aisyah R.A yang menyedekahkan seluruh dirham yang beliau peroleh sementara di rumah, beliau menambal bajunya sendiri. Sungguh belum ada muslimah masa saat ini yang bisa menyaingi amalan sedekah beliau. Muslimah masa saat ini sibuk mempercantik diri, ketimbang mempercantik hati.

  1. Menyambung Tali Silaturrahim

Menyambung tali kasih dan persaudaraan bukan hanya diperbuat dengan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan dari sisi darah. Rasulullah SAW dan genarasi seusainya mencontohkan bahwa silaturahmi mereka sambung dengan erat antar sesama saudara muslim. Jadi tali silaturahmi ini mempererat persatuan dan kejayaan Islam pada masanya.

Si penyambung silaturahmi juga bisa langsung merasakan kegunaaan dari silaturahmi tersebut. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang ingin rezekinya dibutuhas dan umurnya panjang, maka hendaklah ia bersilaturahmi”. (HR Bukhari). Jadi silaturhami bisa meluaskan rezeki dan memperpanjang umur kami –kebaikannya bisa dipetik hingga kelak-.

Di zaman serba canggih teknologi kini ini wajibnya ajang silaturahmi terus meningkat sebab batas penghalang ruang dan waktu telah tidak jadi persoalan lagi. Tetapi kenyataan mengatakan sebaliknya. Tidak sedikit orang yang justru nasib terisolir tidak dekat dengan keluarganya, tidak pula mengetahui tetangganya.

Mungkin kawan dunia maya kami terbukti tidak sedikit, tetapi tetap saja kami jangan jadi jauh dengan tetangga dan kerabat yang dekat. Sebab setidak sedikit-tidak sedikitnya kawan dunia maya yang dimilki, apabila kami terkena musibah maka yang pertama kali datang membantu pastilah tetap tetangga dan kerabat yang lokasinya dekat dengan kita. Jadi jangan hingga kami memutuskan silaturahmi dengan orang-orang yang ada di dunia nyata.

  1. Mengabdi Terhadap Kedua Orang Tua

Amalan ketiga yang bisa ‘memperpanjang usia’ yakni mengabdi terhadap kedua orang tua. Dalam suatu  hadist riwayat Al Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa bahagia (berharap) Allah memperpanjang umurnya dan meningkatkan rizkinya maka hendaklah mengabdi pada kedua orang tuanya dan menyambung hubungan sanak famili”. Apalagi apabila kami mendapati kedua orang tua yang telah lanjut usia. Maka merawat mereka bisa jadi ladang amal tiket menuju surga.

Tetapi butuh juga diperhatikan bahwa mengabdi pada kedua orang tua, bukan berarti menuruti segala perintahnya yang melanggar syariat. Sebagai contoh, Nabi Ibrahim yang berayahkan seorang pembuat patung berhala. Nabi ibrahim menentang Kebiasaan ayah dan kaumnya yang menyembah tuhan tidak hanya Allah. Lalu apakah Nabi Ibrahim a.s dicap sebagai anak durhaka? Pasti tidak, sebab permengenaian Ibrahim dengan ayahnya merupakan permengenaian dalam faktor agama, dimana Nabi Ibrahim menjadi pihak yang berada dalam kebenaran dan ayah beliau berada di jalan yang salah.

Apabila Nabi Ibrahim malah menuruti kehendak ayahnya dengan ikut menyembah berhala, pastinya Nabi Ibrahim menjadi orang salah dan bukannya orang saleh. Yang butuh kami ikuti apabila kami dihadapkan pada situasi serupa yakni, tutur kata Nabi Ibrahim a.s tetap lembut terhadap ayahnya mesikipun beliau menentangnya. Nabi Ibrahim pun tetap memintakan ampunan Allah SWT bagi ayahnya. Inilah wujud bakti Ibrahim terhadap orang tua.

Sedangkan zaman kini tidak sedikit ayah dan anak yang cekcok dampak persoalan sepele keduniawian. Sang anak mengeluarkan kata-kata kasar bahkan menyumpahi ayahnya sendiri dengan sumpah serapah layaknya pada musuh bebuyutan. Tidak hingga disana, tidak sedikit pula permasalahan dimana sang anak menghunus senjata dan diarahkannya pada sang ayah. Tidak ragu, tangan si anak menebaskan senjata tersebut untuk mengakhiri nasib ayahnya selama-lamanya. Bagaimana mau diluaskan rizki dan ‘dipanjangkan usia’ apabila kita tetap memperbuat kedua orang tua tidak pada semestinya? Naudzubillahi min dzalika.