Oleh: DR. Wahyudin, M.Pd.I

(Ketua Laziswa At-Taqwa)

 

Allah Swt menciptakan manusia sebagai mahluk yang memiliki kesempurnaan bentuk fisik (Ahsanu Attaqwim) dibandingkan dengan makhluk Allah yang lainnya. Disamping itu, Allah menganugerahkan akal dan pikiran sebagai potensi sekaligus bekal manusia dalam menjalani kehidupannya. Kehidupan manusia di alam semesta  tidak luput dari peristiwa dan fenomena yang Allah telah suratkan sebelumnya. Allah menciptakan mahluk didunia ini saling berpasangan atau berlawanan. Allah ciptakan siang dan malam, laki-laki dan perempuan, kehidupan dan kematian, sehat dan sakit, kaya dan miskin, gembira dan sedih, anugerah dan musibah dan sebagainya. Hal ini Allah ciptakan bukan tanpa alasan, tetapi untuk menunjukan salah satu bentuk kekuasaan-Nya.

Saat ini Allah memberikan salah satu ujian-Nya di seluruh dunia, khususnya di negara kita tercinta Indonesia Raya. Wabah corona atau covid 19 yang menimpa negara kita masih menjadi PR semua unsur masyarakat Indonesia untuk bisa mengatasi dan mencari solusi serta mencari penawar yang tepat sehingga terbebas dari wabah tersebut. Dampak dari wabah corona ini sangat dirasakan dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat. Diantaranya, pendidikan berjalan belum optimal, perekonomian masyarakat menurun dengan banyaknya masyarakat yang putus kerja, kegiatan keagamaan belum berjalan dengan normal, dan banyak hal lain yang terdampak dari wabah ini.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah tetapi belum mendapatkan hasil yang optimal. Hal ini disebabkan beberapa faktor salah satu diantaranya kesadaran masyarakat secara umum masih belum maksimal. Banyak ragam penyikapan masyarakat terhadap wabah ini, diantaranya; ada kelompok masyarakat yang meyakini wabah ini sangat berbahaya. Ada yang menggap itu hanya politis dan ada juga yang apatis. Ragamnya penyikapan masyarakat terhadap wabah corona atau covid 19 ini menjadi kendala besar untuk pemulihan kondisi dan keluar dari problem tersebut. Hal ini menjadi tugas seluruh masyarakat untuk menilai segala sesuatu yang terjadi secara obyektif dan proporsional.

Dalam perspesktif Islam, Ujian, Cobaan atau musibah itu adalah sunatullah. Sesuatu akan terjadi menimpa manusia yang buruk maupun yang baik itu karena kehendak-Nya. Manusia yang dibekali Allah akal dan pikiran harus bisa memaknai, mencari solusi dan menyikapi dengan bijak segala sesuatu yang terjadi. Satu hal yang harus diyakini bahwa Allah Swt tidak akan memberikan ujian dan cobaan diluar kemampuan hamba-Nya. Artinya manusia diberikan kemampuan untuk mengahadapi dan menyelesaikan semua masalah yang terjadi dimuka bumi ini. Pertanyaanya adalah siapa manusia tersebut? Bagaimana sikap atau karakteristik manusia yang mampu menghadapi semua ujian dan cobaan yang Allah berikan kepadanya?…

 

Kiat Sukses Menghadapi Musibah

Allah memberikan kitab suci Alqur’an kepada umat manusia sebagai petunjuk (Hudan linas) dalam menjalani kehidupan. Hal ini dikuatkan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya bahwa Rasullullah meninggalkan dua pedoman bagi umatnya, apabila umatnya menjadikan pedoman tersebut sebagai pedoman dalam kehidupannya, maka mereka tidak akan pernah tersesat (selamat) selamanya, dua pedoman itu adalah Alqur’an dan Assunnahm (Alhadits).

Allah Swt berfirman dalam surat Attaubah ayat 20, yang artinya: “ Orang-orang beriman, berhijrah, dan berjihad dijalan Allah baik dengan harta maupun jiwa mereka, maka Allah akan memberikan derajat besar untuk mereka, dan sesungguhnya mereka itu termasuk orang-orang yang menang (sukses)”. (QS. Attaubah: 20).

Dalam ayat tersebut, ada tiga karakter manusia yang Allah jamin dalam Alqur’an dengan apresiasi yang tinggi dan menang (sukses) dalam menghadapi apapun yang terjadi didalam kehidupannya. Karakter tersebut adalah karakter mu’min, muhajir dan mujahid.

  • Mu’min

Kata mu’min berasal dari bahasa arab, yaitu isim fail dari kata (أمن –  يؤمن – مؤمن) artinya orang yang beriman. Dalam diri seorang mu’min ada sebuah kekuatan yang sangat besar sehingga mampu menghadapi apapun yang terjadi menuimpa dirinya. Salah satu kekuatan tersebut adalah keyakinan yang luar biasa atas kekuasaan Allah Swt. Orang beriman tidak pernah takut sama siapapun selain Allah Swt. Keyakinan yang sangat tinggi inilah yang akan memeberikan energi sangat positif pada dirinya dan orang yang ada disekitarnya. Allah Swt memberikan gambaran umum tentang karakteristik seorang mukmin dalam Alqu’an. Salah satunya terdapat dalam surat al anfal yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah bergetar hatinya. Jika dibacakan ayat-ayat Allah semakin bertambah keyakinannya. Hanya kepada Allah mereka berserah diri. Mereka yang mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian riqzinya. Mereka adalah orang-orang beriman yang sesungguhnya. Bagi mereka derajat dan ampunan disisi Tuhannya dan rizqi yang mulia”  (QS Al Anfal; 2-4).

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa seorang mu’min sejati memiliki karakter yang sangat hebat. Dalam menjalani kehidupannya dia selalu bersama Allah Swt dengan penuh keyakinan dan kerinduan. Keyakinan Allah Mahakuasa menjadikan dia menkaji dan mendalami ayat-ayat-Nya serta bergantung kepada-Nya, menunaikan semua kewajibannya seperti menegakan sholat. Memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat sekitarnya dengan berbagi (shedekah).

Dalam konteks menghadapi musibah (ujian/cobaan) seorang mukmin memiliki sikap tawakal sebagai kunci kesuksesan dalam menghadapinya. Banyak orang yang keliru dalam memaknai makna tawakal. Diantaranya mereka memaknai tawakal sebagai sikap yang pasif, menyerah tanpa usaha (fatalisme). Dalam tafsir almishbah karangan Quraish Shihab dijelaskan bahwa tawakal berarti menjadikan Allah sebagai wakil saat bertawakal kepada-Nya. Tawakal bukan pasrah total tanpa usaha (ikhtiar) akan tetapi memaksimalkan segala upaya dan kemampuan yang dimiliki dan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah Swt sebagai Sang Penentu segalanya. Dalam menghadapi wabah corona misalnya, seorang mu’min akan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt sebagai Dzat yang Mahakuasa yang mempu mengadakan dan mentiadakan segala sesuatu diluar kemampuan manusia. Kemudian mu’min akan memaksimalkan usahanya dengan memperhatikan dan mematuhi segala anjuran para pakar atau ahli dibidangnya. Sehingga ada keseimbangan antara keyakinan yang dibangun kepada Allah dengan tindakan ril dalam kehidupannya.

  • Muhajir

Kata muhajir berasal dari bahasa arab, yaitu isim fail dari kata (هاجر– يهاجر- مهاجر)   artinya orang yang hijrah (pindah). Dalam Islam dikenal kaum muhajirin dan anshor. Muhajirin adalah orang yang ikut hijrah bersama Rasulullah Saw dari Makkah ke Madinah. Sedangkan Ansor adalah kaum atau masyarakat Madinah yang menyambut dan membantu kaum muhajirin. Peristiwa hijrah sudah berlalu pada masa baginda Rasulullah Saw. Namun demikin makna dan karakter muhajirin bisa diteladani sepanjang hayat manusia. Rasulullah Saw menjelaskan tentang definisi hakiki atau makna esensial dari muhajir atau muhajirin. Bahwa Muhajir itu adalah orang yang berpindah dari sesuatu yang dilarang Allah Swt (menuju ridha dan perintah-Nya). Artinya selalu berupaya menjadi baik bahkan yang terbaik menurut Allah Swt.

Dalam konteks menghadapi musibah, seperti wabah corona covid 19, seorang muhajir akan selalu berupaya mencari yang lebih baik, lebih aman sehingga bisa terhindar dari wabah tersebut. Kesehatan jasmani atau fisik akan selalu dijaga dan diperhatikan sehingga imunitas tubuh menjadi kuat. Kebisaan-kebisaan buruk seperti hidup tidak teratur, jorok, sembrono, apatis terhadap persoalan yang terjadi serta kebiasaan-kebiasaan negatif lainnya akan segera ditinggalkan. dia meyakini bahwa semua yang dilarang Allah Swt itu pasti merugikan, begitu juga sebaliknya semua yang diperintah dan di ridhoi Allah Swt itu akan mendatangkan manfaat yang besar serta keberkahan yang melimpah.

Allah Swt memerintahkan manusia untuk hidup bersih, hati-hati, jaga kesehatan, waspada, disiplin dan sikap terpuji lainnya. Semuanya memiliki manfaat besar yang akan kembali kepada manusia itu sendiri. Jika manusia melanggar perintah-Nya sudah pasti akan mendapatkan kerugian. Secara umum orang terpapar virus corona itu diakibatkan karena kecerobohan dan apatis terhadap protocol kesehatan yang sudah ditetap ahli kesehatan. Saat anjuran memakai masker, jaga jarak jauhi berkerumun, selalu cuci tangan dan menjaga stamina serta imunitas tubuh disampaikan oleh pemerintah dan orang-orang yang berwenang dibidang itu diabaikan, maka virus corona akan sulit dicegah dan dikendalikan. Adanya kebijakan adaptasi kebiasaan baru pun belum menunjukan dampak positif yang significan karena sulitnya orang-orang meninggalkan tradisi lama. Disinilah karakter seorang muhajir dibutuhkan yaitu suatu prilaku yang selalu berupaya keras meninggalkan semua hal yang berdampak buruk menuju yang terbaik.

 

  • Mujahid

Kata mujahid berasal dari bahasa arab, yaitu isim fail dari kata (جاهد- يجاهد- مجاهد)   artinya orang yang berjihad. Seringkali dijumpai kata mujahid diartikan sebagai orang yang berperang (mengangkat senjata), dan itu merupakan salah satu arti yang bisa ditemukan dalam kamus. Dalam konteks ini mujahid adalah orang yang sungguh-sungguh di jalan Allah Swt. Jalan Allah dapat dartikan segala hal yang bisa mengantarkan manusia menuju ridha Allah. Allah berjanji kepada hamba-Nya dan orang-orang yang sungguh-sungguh dijalan-Ku, maka sungguh akan Aku tunjukan jalan kepadanya

Meningkatnya zona merah di Kota Cirebon dan sekitarnya ini salah satu bukti bahwa masyarakat belum memiliki kesadaran penuh tentang bahayanya wabah corona covid 19. Betapa tidak, saat awal kebijakan adanya pembatasan sosial (social distanching) kemudian dilanjutkan dengan pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) Cirebon berhasil menjadi zona hijau (aman) dari wabah. Pada saat era new normal diberlakukan, sebagian masyarakat merasa benar-benar kondisi sudah aman kemudian lupa akan protokol kesehatan akhirnya Cirebon menjadi Zona Merah.

Dalam kondisi saat ini sangat diperlukan peran para mujahid yang mampu memberikan penyadaran kepada masyarakat supaya tidak apatis terhadap wabah yang terjadi. Karena sikap apatis masyarakat akan berimpikasi pada kerugian yang akan dirasakan semua pihak termasuk masyarakat didalamnya. Dalam menghadapi musibah atau wabah seorang mujahid akan memaksimalkan seluruh kemampuan dirinya untuk berikhtiar lahir dan bathin. Berjuang dalam kebaikan untuk keselamatan dan kemaslahatan umat manusia.

Segala sesuatu milik Allah, datang dan kembali kepada-Nya. Manusia diberikan potensi akal dan pikiran untuk menkaji dan memahami segala fenomena yang terjadi dalam kehidupan. Jika musibah datang menimpa,maka cara sukses untuk menghadapinya adalah: (1) Dekatkan diri kepada yang Mahakuasa yang menentukan segala sesuatu ada dan tiadanya yaitu Allah Swt, Yakini bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak dan ketentuan-Nya; (2) Maksimalkan ikhtiar dengan mencurahkan segala kemampuan yang dimiliki, belajar dengan orang-orang yang Allah augrahi kemampuan dibidangnya sebagai panduan lahiriah dalam menghadapi musibah tersebut; (3) Jangan pernah putus asa dalam berikhtiar, selalu mencoba dan berusaha lagi saat ikhtiar itu mengalami kegagalan; (4) Bersungguh-sungguhlah dalam menjalani kebaikan, jangan pernah takut sama siapapun saat menjalani kebenaran. Yakinlah bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang benar dan berusaha untuk mencari kebenaran. Wallahu’alam bishowab