Oleh, Dr. H. Ahmad Syathori, M.Ag
Pengurus Masjid Raya At-Taqwa Kota Cirebon
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan merupakan bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia sekaligus bekal yang akan menyelamatkan kita di akhirat.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 102).
Kita telah memasuki pertengahan bulan Muharram, salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Bulan ini bukan sekadar penanda pergantian tahun Hijriah, tetapi menjadi momentum untuk melakukan hijrah, yaitu berpindah menuju kehidupan yang lebih baik.
Banyak orang mengira bahwa hijrah hanya berarti perpindahan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa makna hijrah jauh lebih luas. Hijrah adalah meninggalkan segala sesuatu yang dibenci Allah menuju segala sesuatu yang diridhai-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah.” (HR. Sahih al-Bukhari).
Hadis ini menunjukkan bahwa hijrah adalah proses perubahan diri yang terus berlangsung sepanjang hidup. Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, tetapi berpindah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari kelalaian menuju ketaatan, dari egoisme menuju kepedulian.
Perjalanan hijrah Rasulullah SAW mengajarkan setidaknya tiga nilai besar yang sangat relevan bagi kehidupan kita.
Pertama, hijrah mengajarkan keberanian untuk berubah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki semangat memperbaiki diri. Keluarga yang bahagia dimulai dari pribadi yang berakhlak mulia. Demikian pula seorang mukmin akan memperoleh kemuliaan apabila berani meninggalkan dosa dan menggantinya dengan amal saleh.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hakikat hijrah adalah meninggalkan segala yang dicintai hawa nafsu menuju segala yang dicintai Allah SWT. Selama seorang hamba terus memperbaiki dirinya, maka ia sedang menempuh jalan hijrah yang sesungguhnya.
Kedua, hijrah mengajarkan pentingnya ikhtiar yang disertai tawakal.
Ketika berhijrah, Rasulullah SAW telah mempersiapkan segala sesuatu dengan sangat matang. Beliau memilih teman perjalanan, menentukan rute, bahkan bersembunyi di Gua Tsur. Setelah semua ikhtiar dilakukan, barulah beliau bertawakal kepada Allah.
Allah SWT mengabadikan peristiwa itu dalam firman-Nya:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah [9]: 40).
Menurut Ibnu Katsir, kalimat ini menunjukkan puncak keyakinan Rasulullah SAW kepada pertolongan Allah setelah seluruh usaha dilakukan. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah ikhtiar yang maksimal.
Ketiga, hijrah mengajarkan pentingnya membangun persaudaraan.
Sesampainya di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau membangun masyarakat yang kokoh bukan atas dasar suku atau kekayaan, tetapi atas dasar iman.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10).
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa persaudaraan karena iman merupakan ikatan yang lebih kuat daripada hubungan keturunan, sebab ia dibangun atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Oleh karena itu, marilah kita menjadikan hijrah Rasulullah SAW sebagai inspirasi kehidupan. Berhijrahlah dari meninggalkan salat menuju menjaga salat, dari lisan yang menyakiti menjadi lisan yang menyejukkan, dari sifat kikir menjadi dermawan, dari permusuhan menuju persaudaraan, dan dari cinta dunia yang berlebihan menuju cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa istiqamah dalam berhijrah menuju kehidupan yang penuh keberkahan. Dan marilah kita jadikan sisa umur yang Allah berikan sebagai kesempatan untuk terus berhijrah menuju kebaikan. Hijrah yang paling mulia bukanlah perpindahan tempat, melainkan perpindahan hati menuju ketaatan, perpindahan akhlak menuju kemuliaan, dan perpindahan amal menuju keikhlasan.







