MEMAKNAI TAHUN BARU HIJRIAH

Jun 17, 2026 | Artikel, Artikel Islam, Berita, Edukasi Umum

Oleh, KH. Abdus Salam

(Pengajar di Pondok Pesantren Tihamah, Cirebon)

A. Pembukaan

Kita telah memasuki tahun baru hijriah 1448 yang diawali dengan bulan Muharram berdasarkan ketetapan khalifah Umar bin Khatthab setelah berkonsultasi dengan para sahabat. Dipilihnya bulan Muharram sebagai awal kalender Hijriah karena bulan ini datang setelah bulan Dzulhijjah, yaitu bulan terjadinya Bai’at Aqabah yang menjadi awal tekad hijrah Rasulullah dan para sahabat ke Madinah. Selain itu, Muharram juga merupakan waktu ketika kaum muslimin telah menyelesaikan ibadah haji dan kembali ke negeri masing-masing sehingga menjadi momentum yang tepat untuk memasuki lembaran tahun yang baru. Adapun mengapa kalender ummat Islam diawali dengan peristiwa hijrah?

Jawabannya karena hijrah memiliki makna sejarah yang sangat stgrategis dalam perkembangan ummat Islam. Hijrah nabi Muhammad ke Madinah menjadi permulaan terbentuknya masyarakat dan pemerintahan Islam di Madinah. Dengan hijrah  ummat Islam memiliki kekuatan untuk menegakkan syari’at, menjadi jelas kubu kaum muslimin dan kaum kafir, serta terjadi banyak peristiwa besar seperti perang Uhud, Badar dan pembebasan kota Makkah. Berkat hijrah pula dakwah Islam bisa tersebar luas ke berabagai wilayah. Karenanya ummat Islam tidak boleh buta dengan sejarah kebesaran generasi sebelumnya agar menjadi sumber energi untuk bangkit menjadi ummat yang hebat sebagaimana generasi awal dahulu sebagaimana dinukil dari Imam Malik rahimahullah: “Generasi akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang dahulu telah menjadikan generasi awalnya baik.

Kalender hijriah juga harus dipahami ummat Islam karena persoalan-persoalan keagamaan yang terkait dengan hitungan waktu menggunakan penanggalan hijriah. Seperti itsbat awal Ramadhan dan awal Syawwal, ‘iddah bagi sebagian perempuan yang ditinggal mati suaminya atau diceraikan, penetapan puasa sunnah seperti hari Tasu’a dan ‘Asyura, serta prosesi ibadah haji yang pasti membutuhkan penetapan hari ‘Arafah.

B. Amal shalih paramater kualitas Manusia Terbaik

Dalam hadits yang berstatus hasan shahih riwayat Imam Attirmidzi dari sahabat Abdullah bin Busr Al Mazini Rasulullah SAW bersabda yang artinya :

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya. Seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya dan buruk perbuatannya.”

 Mengapa nabi Muhammad SAW bersabda demikian? Hal ini tidak lain karena mereka yang berumur panjang disertai amal shalih berarti telah mengerjakan shalat, puasa, sedekah, membaca al Qur’an, berdzikir dan amal shalih lain jauh lebih banyak dari orang yang berumur pendek. Dengan demikian di akhirat, di sisi Allah ia akan berada di derajat yang lebih tinggi dari yang berusia pendek.

Oleh karena itu selagi masih berada di dunia manusia harus selalu berupaya untuk melakukan aktivitas positif yang memberikan manfaat di dunia dan akhirat. Sebab setelah kematian tidak akan ada lagi kesempatan untuk beramal. Yang ada adalah balasan amal, sorga atau neraka.  Sebagai orang Islam yang setiap shalat pada doa iftitah menyatakan diri bahwa hidup mati kita semata-mata untuk Allah, tahun baru tidak boleh dimaknai hanya dengan mengadakan perayaan. Harus ada instrospeksi dan evaluasi terhadap apa saja yang telah dilakukan di tahun sebelumnya. Apakah di tahun sebelumnya kita telah banyak mengerjakan perbuatan positif yang bermanfaat untuk Islam dan kaum muslimin atau sebaliknya?

Apakah tindakan kita sering merugikan persatuan ummat Islam dan melanggar banyak ketentuan agama Islam atau tidak ?. Jika kita merasa banyak dosa dan kemaksiatan yang kita kerjakan pada tahun sebelumnya maka di awal tahun baru kita harus bertaubat dan berkomitmen untuk tidak mengulangi dosa-dosa tersebut pada tahun berikutnya. Jika dosa itu terkait dengan hak Allah tentu cukup dengan penyesalan dan tekad untuk tidak mengulanginya kembali. Namun jika terkait dengan hak sesama manusia maka harus ada permohonan maaf kepadanya dan mengembalikan hak kepadanya. Dengan demikian taubat koruptor tidak cukup dengan penyesalan dan mendapatkan hukuman. Tapi harus disertai pengembalian harta kepada pihak yang berhak atau kepada negara apabila merupakan harta negara.

C. Urgensi Mengaplikasikan Kandungan Surat Al ‘Ashr

Waktu yang bergulir dari detik, menit, hari, bulan hinga tahun adalah sesuatu yang sangat berharga hingga Allah sampai bersumpah dengannya. Dalam surat al’ashr yang bermakna waktu, Allah bersumpah bahwasanya semua orang akan mengalami kerugian kecuali orang yang memiliki iman, mengerjakan amal shalih, saling berwasiat untuk melaksanakan kebenaran dan bersikap sabar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam surat al ‘ashr ayat 1 – 3 :

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,  kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Agar manusia tidak mengalami kerugian dalam hidupnya, Allah menetapkan 4 syarat yang seluruhnya harus mampu diaplikasikan dalam kehidupan dunia.

Pertama : Iman dengan rukunnya yang berjumlah enam yaitu iman kepada Allah, para malaikat, seluruh kitab suci yang diturunkan Allah, para rasul, taqdir dan kepada hari kiamat. Iman yang benar akan mendorong manusia untuk melaksakan syariat Islam dalam kehidupan di dunia.

Kedua : amal shalih yang mencakup banyak ragam. Baik ibadah vertikal seperti shalat maupun ibadah horizontal dengan sesama manusia. Hubungan iman dan amal shalih ini harus terjalin dengan baik. Iman yang benar harus melahirkan amal shalih dan amal shalih yang benar harus muncul semata-mata karena Allah bukan kepentingan pribadi yang bersifat pragmatis. Amal shalih yang lahir bukan dari keimanan yang benar dalam kacamata agama Islam tidak akan memberi manfaat di akhirat kelak. Karenanya menurut aqidah Islam, amal kebajikan orang yang meninggal dalam keadaan tidak beriman tidak menjadi sebab memperoleh pahala akhirat, meskipun Allah dapat memberikan balasan berupa kenikmatan di dunia

Ketiga : Saling berwasiat dalam kebenaran, berpegang teguh dengannya dan mempraktikkannya. Karenanya ummat Islam harus berjuang bersama dalam mengamalkan, menyebarkan dan mempertahankan kebenaran yang digariskan dalam agama Islam. Salah satu dari pengamalan ayat ini adalah melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar yang tanpanya masyarakat akan jatuh dalam kemerosotan moral dan tindakan jahat. Amar ma’ruf nahi munkar juga harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Di mana mencegah kemungkaran dengan menggunakan tindakan fisik secara umum adalah wilayah aparat pemerintah, agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Sedang tugas Masyarakat khususnya para ulama Adalah menyuarakan ditutupnya lokasi kemaksiatan dan dihentikannya praktik-pratik kejahatan.  Ummat Islam juga harus mampu berdakwah kepada  ummat lain bahwa agama yang dipeluk adalah kebenaran yang akan mengantarkan ummat manusia meraih kebahagiaan dunia akhirat.

Keempat : Saling berwasiat dalam kesabaran. Sabar adalah sikap mengendalikan diri dalam mengatasi masalah dengan tetap berada dalam rel yang digariskan syari’ah. Kesabaran diperlukan untuk menjaga kontinuitas beribadah, meninggalkan kemaksiatan dan menghadapi musibah. Dengan kesabaran menjalin hubungan dengan Allah manusia akan selalu sadar akan tujuan Allah menjadikan mereka di dunia. Dengan kesabaran meninggalkan kemaksiatan, manusia berusaha untuk menjauhkan diri dari sifat kebinatangan yang hanya memuaskan nafsu atau sifat iblis yang selalu bersikap jahat. Dan dengan sabar dalam menghadapi musibah manusia akan mengembangkan sikap berserah diri dengan berprasangka baik kepada Allah bahwa di balik musibah ada hikmah yang bisa dipetik untuk membuat hidup lebih baik.

Terkait sikap sabar, dalam surat Ali ‘Imran ayat 146 Allah berfirman yang artinya :

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar,”

serta dalam Al Baqarah ayat 153 :

“Sesungguhnya Allah Bersama orang-orang yang sabar.”

Ayat 146 surat Ali Imran menunjukkan bahwa kesabaran akan menyebabkan kebersamaan dengan Allah dalam arti Allah akan memberikan pertolongan, bimbingan, dukungan dan penjagaan.  Bukan kebersamaan fisik atau dzat yang tentu mustahil terjadi. Sedang ayat 156 surat Al Baqarah menegaskan bahwa Allah mencintai orang-orang sabar dalam arti Allah akan memberikan pahala dan kedudukan tinggi di sisi-Nya.

D. Amaliah Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan mulia atau al asyhur al hurum ; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Ada beberapa amaliah sunnah yang dianjurkan dilaksanakan di bulain mulia ini. Di antaranya adalah memperbanyak puasa sunnah sesuai hadits nabi Riwayat imam Muslim yang artinya :

 “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.

Terlebih lagi berpuasa pada hari ‘Asyura yaitu tanggal 10 Muharram yang dimuliakan pula oleh ummat dahulu, berdasarkan sabda nabi Muhammad SAW yang artinya :

 “Puasa Asyura’ aku berharap pada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya.”

Lebih sempurna lagi apabila didahului puasa Tasu’a (9 Muharram) berdasarkan hadits nabi Muhammad SAW Riwayat Imam Muslim yang artinya,  

Jika aku masih hidup hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” atau disertai puasa tanggal 11 Muharram untuk membedakan diri dari kaum Yahudi sebagaimana dijelaskan para ulama.”

E. Penutup

Demikianlah salah satu cara memaknai tahun baru. Yaitu dengan cara mengamalkan pesan yang terkandung dalam surat al ashr. Jika ummat Islam yang mayoritas mampu mengamalkannya maka  negara kita akan menjadi negara yang para pejabatnya mampu mengelola negara dengan baik dan rakyatnya sejahtera. Bukan negara yang rakyat dan pemimpinnya saling mencaci maki tiada henti. Manfaatkanlah umur yang diberikan Allah dengan sebaik-baiknya. Karena Umur adalah modal kehidupan manusia yang berkurang setiap detik lewat dan tidak akan Kembali lagi. Hanya dengan menjaga iman, amal shalih, serta menegakkan dan menyebarkan nilai-nilai kebenaran Islam dan kesabaran, hidup kita akan bernilai di dunia dan akhirat.   

Follow Sosial Media At Taqwa :

Berita Terkait

Tata Cara Wudhu yang Benar Sesuai Sunnah Rasulullah S.A.W

Tata Cara Wudhu yang Benar Sesuai Sunnah Rasulullah S.A.W

Wudhu menjadi salah satu ibadah yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Sebelum melaksanakan shalat, setiap muslim wajib memastikan dirinya berada dalam keadaan suci dari hadas kecil. Oleh sebab itu, memahami tata cara wudhu yang benar sesuai tuntunan...

Shalat Sunnah Rawatib: Pengertian, Jenis, Tata Cara, dan Keutamaannya

Shalat Sunnah Rawatib: Pengertian, Jenis, Tata Cara, dan Keutamaannya

Dalam kehidupan seorang Muslim, shalat sunnah rawatib menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan karena memiliki hubungan erat dengan salat wajib lima waktu. Rasulullah ﷺ sendiri menjaga amalan ini secara rutin sehingga para sahabat pun meneladaninya. Shalat...