BULAN SAFAR BULAN SIAL, MITOS YANG BERTENTANGAN DENGAN SYARIAT

Jul 17, 2026 | Artikel, Artikel Islam, Berita, Info

Oleh, KH. Aziz Hakim Syaerozie, M.Fil

(Ketua PCNU Kabuaten Cirebon)

Jumat ini, kita memasuki hari yang kedua di bulan safar 1448 H. Bulan kedua dalam nama-nama bulan hijriyah yang jatuh setelah Muharram. Bulan yang konon dipahami sebagian Masyarakat awam sebagai bulan yang kerap mendatangkan “kesialan” bahkan musibah.  Sehingga bulan safar memiliki stigma negative. Padahal, stigma seperti itu tidak memiliki rujukan yang valid terlebih dalam perspektif Islam. Para ulama, di antaranya Imam Ibn Rajab al-Hambali (Latha’iful Ma’aarif) menegaskan bahwa semua waktu dan zaman tergantung pada aktifitas yang dilakukan. Jika disibukkan dengan kebaikan-kebaikan, maka zaman itu adalah zaman yang diberkahi. Sebaliknya, jika disibukkan dengan kemaksiatan, maka zaman itu tidak berkah dan tertimpa keburukan. Pendek kata, zaman dan waktu tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan apapun yang menimpa manusia, baik berupa kenikmatan maupun musibah.

A. Urgensi Tawhid (Mengesakan Allah)

Dalam aras sejarah, Mitos seperti bulan safar memiliki stigma negative di kalangan masyarakat awam, juga terjadi pada masa kehidupan Rasulullah menghadapi masyarakat jahiliyah. Dalam memahami taqdir misalnya, Masyarakat jahiliyah masih keliru memaknainya dengan meyakini kepercayaan animisme (kepercayaan benda-benda memiliki roh), tahayyul (mitos-mitos), dan syrik (menyekutukan dzat pencipta). Maka, Rasulullah sendiri mengisayaratkan tentang pentingnya menanamkan Tawhid, Kembali kepada Allah. Rasulullah bersabda:

“Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam (jenis penyakit kulit) sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR Al-Bukhari).

Korelasinya dengan bulan safar sebagai bulan “kesialan” banyak contoh di dalam praktik kehidupan Rasulullah yang justru tegas membantah mitos itu. Beberapa bukti diantaranya, Rasulullah SAW menikah dengan Sayyidah Khadijah pada bulan Safar. Rasulullah menikahkan putrinya yakni Sayyidah Fatimah az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib juga dilakukan di bulan safar.   Termasuk peristiwa monumental dan penting, yakni hijrah Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah juga bertepatan dengan bulan Safar. Ini menjadi bukti nyata bahwa Rasulullah tidak pernah mengkorelasikan bulan (zaman dan waktu) dengan apapun rencana tidakan-tindakannya dalam hal kebaikan.

Dengan demikian, Ajaran Tawhid menjadi sangat fundamental. Begitu pentingnya Tawhid, Rasulullah SAW bahkan mengutus para sahabat dalam misi dakwahnya untuk menyampaikan tawhid (mengesakan Allah) terlebih dahulu sebelum menyampikan lainnya. Diriwayatkan: Rasulullah berkata kepada sahabat Muadz Ibn Jabal RA:

 “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentawhidkan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan kepada manusia untuk ber-tawhid kepada Allah. salah satunya firman Allah SWT: “Tidaklah aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk menyembahku” ( al-dzariyat:56), bahkan tawhid itu sendiri terintisari dalam kalimat “La ilaaha Illallah”, di mana para ulama memberikan makna implist: tidak ada tuhan atau zat yang berhak disembah dengan benar di alam semesta ini melainkan Allah SWT.  Menafikan (nafi) semua sesembahan selain Allah dan menetapkan (itsbat) bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Tidak hanya menyangkut ibadah (penyembahan kepada Allah), Syirik berlaku juga kepada suatu keyakinan yang menyekutukan apapun selain kepada Allah. Termasuk di dalamnya menyekutukan pengaruh dari sebuah akibat. . Jika bulan Safar dihubungkan dengan mitos adanya kesialan, maka safar dianggap memiliki pengaruh kepada manusia. Padahal, seperti yang diajarkan dalam tawhid, segala perbuatan dan kejadian apapun semata milik Allah SWT. Maka, mitos sejenis itu adalah bentuk syirik kepada Allah SWT.

Imam As-Sanusi (895 H) mengutip pendapat Syekh Ibnu Dihaq (611 H), mendifinisikan syirk sebagai “Menyandarkan perbuatan [secara mandiri] pada selain Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi”. (As-Sanusi: Syarh ‘Aqîdati Ahli at-Tauhîd al-Kubrâ, 91).

Maksudnya, menganggap ada perbuatan secara mandiri yang dilakukan oleh selain Allah dan memiliki implikasi tanpa ada campur tangan kehendak Allah sedikit pun sehingga secara penuh perbuatan itu disandarkan kepadanya.

Dalam mengklasifikasi syrik, Ibnu Dihaq merinci ke dalam tiga kategori. Pertama, menyandarkan perbuatan pada bintang-bintang Dimana bintang-bintang itu berpengaruh pada alam yang ada di bawahnya seperti; tumbuhan, hewan dan atau segala materi lainnya. Hal ini tercermin seperti dalam ilmu zodiak dan astrologi. Kedua, menyandarkan perbuatan pada benda-benda Dimana benda-benda tersebut memilki efek secara mandiri dan meyakini kejadian tersebut tidak ada kaitannya dengan kehendak Allah. Contoh sederhananya, meyakini api membakar secara mandiri, makanan bisa mengeyangkan secara mandiri, pisau bisa melukai secara mandiri dan atau jenis-jenis sunnatullah lainnya (hukum alam). Padahal, dalam tawhid, hukum alam haruslah dipahami dengan dasar keyakinan bahwa api misalnya, dapat membakar semata karena adanya kekuatan membakar yang diberikan oleh Allah kepada dzat api itu sendiri. Tawhid mengajarkan kepada kita bahwa seluruh kejadian apapun merupakan kehendak dan kekuasaan Allah. Ketiga, menyandarkan perbuatan pada kehendak bebas manusia yang diberikan kekuasaan oleh Allah. Dalam pandangan ini, manusia seperti robot yang beroperasi dengan tenaga baterai dan bergerak sendiri dengan kecerdasan buatan tanpa ada kontrol lagi dari pembuatnya. Pandangan ini meniscayakan Allah tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan bila seorang manusia dengan kehendak bebasnya belum menentukan pilihan. Juga meniscayakan bahwa manusia sepenuhnya dapat memberi manfaat dan kerusakan secara mandiri tanpa bergantung pada kehendak Allah.

Ketiga jenis kategori ini adalah bagian dari syirik yang terkadang manusia lalai dan banyak mempraktikkannya.

B. Iman Kepada Qada dan Qadr Allah

Islam mengajarkan tentang iman. Fungsi Iman adalah sebagai fondasi ruhani yang membentuk karakter, memberikan ketenangan jiwa dan menjadikan pedoman moral dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu rukun Iman yang berjumlah enam adalah Iman kepada Qada dan Qadr Allah. Definisi simple dari Qada seperti diilustrasikan oleh syaikh Nawawi al-bantani (kasyifatus saja),  adalah Keputusan dan ketetapan Allah sejak zaman azali (sebelum alam semesta diciptakan) mengenai segala sesuatu yang akan terjadi pada makhluknya. Qada bersifat Qadim (terdahulu) dan mutlak, tercatat di lauhi al-mahfud, sedangkan Qadr adalah realisasi, penciptaan dan perwujudan dari qada yang telah sebelumnya ditetapkan di dalam lauhi al-mahfudz. Secara prinsip, Keduanya adalah kehendak (iradah) Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

“Tidak ada bencana (apapun) yang menimpa di bumi dan tidak (juga yang menimpa) dirimu, kecuali telah tertulis dalam Kitab (Lauhulmahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya hal itu mudah bagi Allah.” (al-Hadid:22)

Seperti dalam ketarangan literatur tafsir al-Qur’an, ayat ini menegaskan bahwa semua bencana dan malapetaka yang terjadi di permukaan bumi, baik yang menyangkut bencana alam maupun kecelakaan manusia serta penyakit dan musibah-musibah lainnya sesungguhnya sudah ditetapkan sebelumnya dan tertulis di Lauhul Mahfudz. Bahkan hal ini sudah ditentukan sebelum Allah menciptakan alam semesta itu sendiri. Hal ini berarti, tidak ada suatu pun yang terjadi di alam ini yang luput dari pengetahuan Allah dan tidak tertulis di Lauhul Mahfudz.   Menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi itu sangatlah mudah bagi Allah, karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang telah ada maupun yang akan ada nanti, baik yang besar maupun yang kecil, yang tampak dan yang tidak tampak sekalipun. Ayat ini sekaligus menafikan bentuk kepercayaan kepada juru ramal, dukun dan sejenisnya. Manusia diajarkan untuk ber-tawhid, hanya percaya kepada Allah SWT dzat yang mengendaki dan menentukan segala sesuatu.  Dalam konsep tawhid ahlus sunnah, Qada dan Qadr adalah kehendak Allah yang bersifat ghaib. Maka, manusia tidak boleh besifat pasif. Manusia didorong untuk  memaksimalkan ruang “ikhtiar” (usaha dzohir) semaksimal mungkin. Sekalipun, hakikat semuanya tidak memberikan pengaruh atas Keputusan dan ketetapan Allah SWT.

C Kunci Sukses: Berprasangka Baik pada Allah.

Dalam konsep tawhid, manusia diajarkan untuk senantiasa berprasangka baik kepada Allah SWT. Hal ini merupakan bagian dari kerangka besar menuju tawhid yang sempurna, sesuai ajaran Rasulullah SAW. Allah SWT melalui hadist Qudsi menyatakan:

“Sikapku tergantung bagaimana dugaan hambaku, bila menduga baik maka akan kuberi kebaikan. Maka, jangan sekali pun ada dugaan yang tak baik kepadaku.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan pentingnya Husnuzzon (berprasangka baik) kepada Allah atas segala ketetapan Allah yang terjadi dalam kehidupan kita. Sekalipun itu sebuah musibah, jika kita berprasangka baik, maka hati kita akan senantiasa mengatakan bahwa musibah itu mungkin bagian dari desain Allah untuk mengangkat drajat kita di masa yang akan datang. Dengan cara ber-khusnudzzon, tentu saja, hakekatnya kita senantiasa terus berdoa memohon kepada Allah agar senantiasa dijaga kehidupannya dari malapetaka, kemiskinan dan kehancuran.

Imam Hasan al-bashri mengisyaratkan bahwa konsep  Husnuzzhan billah (berprasangka baik kepada Allah) secara implisit sejatinya medorong manusia untuk beramal soleh. Seorang mukmin yang berprasangka baik kepada Allah SWT pasti akan terus dibarengi oleh upaya memperbaiki amal perbuatannya secara berkelanjutan.

Selain itu, berprasangka baik kepada Allah SWT, juga menjadi symbol bahwa seorang hamba cinta kepada sang Khaliq. tentu saja, setiap mukmin yang mampu menata hati dan berlapang dada atas setiap ketetapan Allah akan mendapatkan apresiasi besar di akhirat nanti.

Selebihnya, Syaikh Ibn Abi Dunya banyak mengutip kisah-kisah orang yang selamat di akhiratnya lantaran berbaik sangka kepada Allah. sebut saja kisah Malik Ibn Dinar. Konon, sepeninggal Imam Malik Ibn Dinar, seseorang Bernama Suhail saudaranya Hazam al-Qith’i bercerita bahwa ia pernah bertemu Malik Ibn Dinar dalam mimpinya. Di bawah alam sadarnya dia bertanya: “Wahai Abu Yahya (nama lain Malik Ibn Dinar), aku takjub luar biasa melihatmu dalam kondisi demikian berseri indah. Apa yang telah kau persiapkan di dunia sebelum menghadap Allah SWT?.  Tanya Suhail dalam kondisi terpaku dan bengong keheranan. Lalu Imam Malik Ibn Dinar menjawab; “Aku datang membawa gemilang dosa yang tidak sedikit, namun itu semua habis terbayar oleh baik sangkaku kepada Allah SWT berprasangka baik kepada Allah SWT dan yakin akan Rahmat dan ampunanNya adalah penyelamat dari keputusasaan atas dosa-dosa masa lalu. Maka, Malik Ibn Dinar yakin bahwa khusnudzzan billah (berbaik sangka kepada Allah) sejatinya adalah senjata untuk menghapus keraguan dan dosa. (Husnuzzan Billah: Syaikh Ibn Abi Dunya).

Follow Sosial Media At Taqwa :

Berita Terkait