Oleh, H. Muchamad Nidzom, S.Ag, M.Pd.I
Kasi PD Pontren Kemenag Kota Cirebon
Marilah sejenak kita tundukkan hati. Kita tinggalkan hiruk-pikuk dunia, karena waktu terus berjalan, usia terus berkurang, dan kematian semakin dekat tanpa pernah mengirimkan kabar.
Kita tidak tahu, berapa lama lagi mata ini akan memandang dunia. Kita tidak tahu, berapa kali lagi kaki ini akan melangkah ke masjid. Kita tidak tahu, apakah Jum’at hari ini akan menjadi Jum’at terakhir dalam hidup kita. Maka marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah berfirman :
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“Dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Saat ini kita berada di Rabiul Awal, bulan yang mengingatkan kita kepada seorang manusia yang namanya paling sering disebut oleh lisan orang-orang beriman, yaitu Nabi Muhammad ﷺ. Beliau bukan sekadar seorang nabi yang kita kenal namanya, tetapi beliau adalah manusia yang wajib kita cintai, kita hormati, dan kita teladani. Allah SWT berfirman :
﴿ لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴾
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan keselamatan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Cinta sejati kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan ucapan, tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan.
Kita mengatakan mencintai Nabi, maka mari kita lihat shalat kita. Apakah kita sudah menjaga shalat sebagaimana Nabi mengajarkan?
Kita mengatakan mencintai Nabi, maka mari kita lihat lisan kita. Apakah lisan kita digunakan untuk dzikir, nasihat, dan perkataan yang baik, atau justru untuk ghibah, fitnah, dan menyakiti sesama?
Kita mengatakan mencintai Nabi, maka mari kita lihat akhlak kita. Apakah kita sudah menjadi orang yang jujur, amanah, penyayang, pemaaf, dan peduli kepada sesama?
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka Maulid Nabi jangan berhenti sebagai acara tahunan. Jangan berhenti pada membaca shalawat dan mendengarkan kisah kelahiran beliau.
Jadikan Maulid sebagai momentum untuk memperbarui cinta kita kepada Rasulullah ﷺ.
Mari kita perbanyak shalawat.
Mari kita membaca sirah dan sejarah perjuangan beliau.
Mari kita ajarkan anak-anak kita mencintai Rasulullah ﷺ.
Mari kita hidupkan sunnah beliau di rumah dan lingkungan kita.
Dan yang paling penting, mari kita meneladani akhlak beliau.
Rasulullah ﷺ datang membawa rahmat dan kedamaian. Beliau tidak mengajarkan kebencian, kesombongan, permusuhan, dan kezaliman. Allah SWT berfirman :
﴿ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ ﴾
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing :
Benarkah kita mencintai Rasulullah ﷺ?
Jika benar, mari kita ikuti sunnahnya.
Jika benar, mari kita jaga shalat kita.
Jika benar, mari kita perbaiki akhlak kita.
Jika benar, mari kita sayangi keluarga dan tetangga kita.
Jika benar, mari kita tinggalkan maksiat dan memperbanyak amal saleh.
Semoga Maulid Nabi tahun ini menjadi momentum lahirnya perubahan dalam diri kita. Bukan hanya semakin banyak shalawat yang keluar dari lisan kita, tetapi juga semakin baik akhlak dan amal kita.
Semoga Allah SWT menanamkan cinta kepada Rasulullah ﷺ di dalam hati kita, memberikan kita kekuatan untuk mengikuti sunnah beliau, dan kelak mengumpulkan kita bersama beliau di dalam surga-Nya.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.







