PERTARUNGAN ANTARA HAQ DAN BATHIL  Oleh : KH. Ahmad Aidin Tamim

Oleh : KH. Ahmad Aidin Tamim

(Pengasuh Pondok Pesantren Modern Al-Muqoddas, Sumber Cirebon)

(Ketua PW Al-Jam’iyatul Washliyah Jawa Barat)

Adalah merupakan Qodarullah (ketetapan Allah) bahwa Pertarungan antara Haq dan Kebathilan adalah sesuatu yang abadi dan akan tetap terus berlangsung sampai hari Qiyamat. Pertempuran antara kebenaran dan kebohongan, kejujuran dan dusta akan terus berkecamuk pada kehidupan manusia sampai dengan hancurnya alam semesta ini. Antara Haq dan bathil, antara kebenaran dan thoghut, antara kebaikan dan kejahatan, antara jalan Allah dan jalan Syetan tak akan bisa bersatu untuk selamanya. Ini semua adalah ketetapan Allah. Swt.

Hal ini bermula tatkala Allah. Swt menciptakan makhluq yang bernama Adam. As lalu mengumpulkan para malaikat dan kemudian Allah. Swt  memerintahkan mereka untuk sujud kepada Adam. As sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur’an Surat Shod aya 72 – 78 sebagai berikut :

“Kemudian tatkala telah Aku sempurnakan kejadiannya (Adam) dan aku tiupkan ruh (ciptaan)Ku kepadanya, maka tunduklah kamu sekalian dengan bersujud kepadanya (72)  Lalu para malaikat itu bersujud semuanya (73)  Kecuali Iblis, ia menyombongkan diri dan nia termasuk golongan yang kafir (74) (Allah) berfirman: ‘Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah aku ciptakan denga kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombomgkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?’ (75) (Iblis) berkata: ‘Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau citakan dari tanah’. (76)  (Allah) berfirman: ‘Kalau begitu, keluarlah kamu dari surga..! Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk’. (77)  Dan sungguh, kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan (78)”

Dialog panas antara Allah dan Iblis tersebut kemudian dilanjutkan dengan tantangan Iblis terhadap Allah. Swt melalui janji penyesatan yang akan dilakukan Iblis terhadap anak cucu Adam yang akan terus dilakukannya sampai hari kiamat sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an Surat Al-A’rof ayat 16 – 17 sebagai berikut :

“(Iblis menjawab) Dan oleh karena Engkauntelah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus (16)  Kemudian aku pasti akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka yang bersyukur (17)”

Maka sejak itulah pertarungan antara Haq dan Thoghut, kebenaran dan kebathilan, ketulusan dan kepalsuan, kejujuran dan dusta terus saja berkecamuk dan tidak akan berhenti sampai dengan hari kiamat nanti. Sifat pertarungan tentunya saling berusaha mengalahkan, saling menguasai dan saling menundukkan antara satu dengan lainnya, sehingga dunia ini, bangsa ini hanya ada di dua kondisi dikendalikan oleh Al-Islam sebagai symbol kebenaran (Al-Haq) dengan tersingkirnya kebathilan serta kebohongan. Atau justru sebaliknya, bangsa ini dikendalikan dan dipimpin oleh kebohongan dan kebathilan sedangkan Al-Haq dan kebenaran terkalahkan dan tersingkir karena berserakannya kaum muslimin, sebagaimana pepatah arab mengatakan yang artinya:

“Al-Haq dan kebenaran yang tidak disiplin dan tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebathilan dan kebohongann yang disiplin dan terorganisir”.

Meskipun demikian, adalah merupakan sunnatullah  bahwa pada akhirnya kebathilan dan kebohongan tidak akan bisa tampil sebagai pemenang. Boleh jadi mereka menang tapi percayalah bahwa itu hanya untuk waktu yang sangat sementara dan pada ujungnya Al-Haq dan kebenaranlah yang akan tampil di permukaan. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah. Swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Isro’ ayat 81 :

“Dan katakanlah (Muhamad) : ‘Telah datang kebenaran dan yang bathil akan lenyap’. Sesungguhnya kebathilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap” (QS. Al-Isro, 81)

            Adalah merupakan sunnatullah bahwa Al-Haq (Al-Islam) akan selalu berhadapan dengan Thoghut (Kekufuran) karena memang Allah menciptakannya seperti itu. Tidak usah heran bila ada Ulama yang teguh berpegang pada kebenaran (Islam) dan konsisten menegakkan kebenaran itu  serta memperjuangkan tegaknya kebenaran dan keadilan lalu mendapatkan tantangan dari musuh-musuh Allah dengan perlakuan yang kejam, tidak berpri kemanusiaan, diperdaya dengan segala tipu daya, dusta dan kebohongan. Hal yang demikian ini sudah lama berlangsung sejak dahulu kala dan telah dialami oleh para nabi-nabiNya. Hal ini pula Allah. Swt tegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-An’am ayat 112  :

 “Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh, yang terdiri dari syetan-syetan dari bangsa manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukan-nya,. Maka biarkanlah mereka bersama kebohongan yang mereka ada-adakan” (QS. Al-An’am 112)

Syeikh Abu Qotadah Al-Falistiniy menerangkan bahwa Al-Qur’an banyak menjelaskan cara kebathilan (Thoghut) memerangi Al-Haq (Islam) dengan menggunakan sihir. Sebagai contoh adalah peristiwa yang dialami oleh Nabi Musa yang melawan Fir’au dimana Fir’aun selaku penguasa menyewa tukang sihir untuk mengalahkan Musa lalu terjadilah peperangan ular sihir yang itu adalah kebohongan yang dibuat penguasa melawan ular mukjizat yang itu adalah kebenaran Allah. Swt dan berakhir dengan kemenangan. Nasib nahas yang dialami si tukang sihir yang kemudian syahid di tangan penguasa Fir’aun tatkala dia bertemu dengan hidayah Allah dan berbalik menjadi pembela Musa. Demikianlah karakter penguasa dzolim yang selalu menggunakan cara-cara dusta dan kebohongan untuk menutupi kebohongan dirinya serta bertindak jahat dan kejam dengan membunuh siapa saja yang berlawanan dengan dirinya dan membantai siapa saja yang melawan kebijakannya. (QS. Thoha 17-21)

Oleh karena itu maka adalah merupakan fitrah bagi manusia untuk condong kepada Al-Haq dan kebenaran. Karena di dalam Al-Haq itu tersimpan kedamaian, keindahan, kenyamanan, ketenangan, keamanan yang semua manusia pasti mendambakan hal-hal tersebut. Sedangkan pada kebathilan dan kebohongan tersimpan nilai-nilai kebalikan, maka secata fitrah manusia akan menentang kebathilan dan kebohongan itu. Akan tetapai kalau ada manusia yang tampaknya lebih condong kepada kebathilan dan kebohongan, maka dipastikan orang tersebut pada hakekatnya telah bertentangan dengan nuraninya karena dikuasai oleh nafsu syetan, hati dan pikirannya sudah tergadai oleh kepentingan jabatan atau nominal uang atau karena faktor penyelamatan dirinya akibat dari kejahatannya di masa lampau.

Berkaitan dengan tragedi pembunuhan 6 orang syuhada’ laskar FPI yang mengusik perhatian seluruh warga negara yang kemudian muncul pro dan kontra akibat kedua belah pihak mengklaim diri sebagai korban, pada kasus ini sesungguhnya kebenaran telah TAMPAK dan kebohongan telah benar-benar NYATA. Pro dan kontra adalah hal lumrah dan merupakan sunnatullah sebagaimana Haq dan Bathil yang selalu terus berbenturan. Persoalannya adalah sebagian dari kita bisa melihat dengan jelas Haq dan Bathil itu dan sebagian dari kita pandangannya tertutup kabut tebal sehingga tidak bisa melihat Haq dan Bathil. Kabut tebal penghalang pandangan itu adalah maksiat dan dosa yang harus dilebur dengan Istighfar. Itu sebabnya ada do’a yang sering kita panjatkan sebagai berikut :

“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami bahwa sebuah kebenaran tampak benar dalam pandangan kami dan anugerahilah kami kemampuan untuk mengikuti dan membelanya, serta perlihatkanlah bahwa kebathilan dan kebohongan tampak jelas terlihat dalam pandangan kami dan anugerahilah kami kemampuan untuk supaya kami bisa menjauhi dan melawannya”

            Do’a ini mengisyaratkan agar kita terus melakukan evaluasi diri serta terus beristighfar memohon ampun kepada-Nya agar kita selalu berjalan dengan sinar hidayah-Nya sehingga kita bisa melihat kebenaran adalah benar dan kebohongan adalah bohong. Do’a ini pula memberi isyarat kepada kita bahwa kita harus membela kebenaran dan melawan kebathilan sesuai dengan kadar kemampuan kita masing Biyadihi atau Bilisanihi atau bahkan cuma Biqolbihi. Ingatlah cerita tentang dialog antara burung pipit dan cicak pada kisah dibakarnya Nabi Ibrohim. As.