MAULID NABI DAN THE ANGRY BELIEVERSOleh: Eman Sulaeman Syahri

 

Momentum Maulid Nabi SAW tahun ini, tahun 2020 M atau 1442 H, kita mendapat ujian yang cukup serius.

Paris Prancis, pada jumat sore 16 Oktober 2020, seorang guru sejarah dibunuh oleh pemuda imigran muslim keturunan Chechna Rusia. Guru ini bermaksud mengajarkan kebebasan berpendapat dengan memperlihatkan kartun dari majalah Chalie Hebdo di ruang kelas kepada murid-muridnya. Dan pembunuhan tak berhenti di situ. Hampir dua pekan kemudian 3 orang dibunuh di dalam gereja di kota Nice Prancis oleh pemuda muslim keturunan Tunisia.

Tentu saja bukan sembarang kartun. Kartun olok-olok Nabi Muhammad, sebenarnya pernah terbit tahun 2015 dan telah menimbulkan kehebohan kaum muslimin yang pada akhirnya memicu berondongan tembakan ke kantor redaksinya. Setidaknya saat itu 12 orang tewas dan rentetan ikutan pembunuhan lain. Rupanya majalah Chalie Hebdo tak jera, pada 2 September 2020 menerbitkan ulang edisi 5 tahun lalu tersebut. Redakturnya tidak belajar bahwa walau atas nama kebebasan, siapapun tidak berhak mengolok-olok keyakinan pihak lain.

Sejumlah pemimpin dunia Islam, termasuk Presiden Indonesia, mengutuk sikap tidak tenggang rasa dari majalah Charlie Hebdo. Termasuk menyesalkan ucapan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang bernada menyudutkan Islam. Kita semua mengutuk sikap tak patut dari suatu kebudayaan yang mengatasnamakan kebebasan tapi menyinggung kebudayaan lain.

Tapi ujian sesungguhnya bukanlah objek olok-olok atau ucapan yang menyudutkan itu.  Ujian sebenarnya adalah respon kita yang mengaku pecinta Muhammad Rasulullah itu, terhadap perbuatan yang menyinggung kita. Karena pada dasarnya respon adalah sebuah pilihan: apakah kita semata-mata reaktif ataukah proaktif.

Sikap reaktif berlebihan dalam menanggapi perbuatan buruk kepada kita dengan balasan kekerasan justru menyebabkan citra buruk kepada agama kita sendiri. Dalam kehidupan praktis, orang menilai agama kita bukan dari membaca keindahan Al Quran dan kemuliaan ajaran Rasulullah, tapi dari melihat sikap dan perilaku kita selaku penganutnya. Dalam komunikasi antar budaya, tampilan wajah kasar dan perilaku kekerasan hanya akan menerbitkan kesan yang buruk. Semua itu akan menjadi pembenaran sikap Islamophobia, atau ketakutan berlebihan kepada Islam, bahwa Islam itu agama kekerasan dan teror.

Prinsip Emas Keadaban

Bisakah kita membayangkan apa respon Al Musthafa jika beliau masih hidup? Bagaimana Nabiur Rahmah yang peramah dan santun itu tidak mendendam kepada penduduk Thaif yang melempari batu kepada tubuh mulianya. Bagaimana Rasulullah tidak membalas Hindun yang merobek jenazah dan memakan jantung hati paman beliau Sayidina Hamzah sebagai penghinaan?

Bukankah Rasulullah ketika ditanya, “Agama itu apa, yaa Rasulullah?”, beliau menjawab “ Husnul khuluq, budi pekerti yang baik”. Setelah menjawab pertanyaan berulang tiga kali, kemudian beliau meringkasnya dengan contoh kongkrit, “Laa taghdhob, jangan marah”.

Pola stimulus – respon secara linear ada pada perilaku makhluk binatang, seperti percobaan yang terkenal oleh psikolog Pavlov. Ketika ada stimulus makanan, maka respon lapar akan muncul. Ketika ada stimulus menjengkelkan, maka naluri marah akan muncul. Semacam respon otomatis, seperti robot  ditekan tombolnya.

Sedangkan manusia adalah makhluk Tuhan yang berkesadaran dengan dianugerahi akal dan hati nurani, yaitu secara evolusioner memiliki otak neo cortex yang melebihi makhluk lain. Kemudian Tuhan mewahyukan agama untuk memperkuat sekaligus menyelaraskannya. Sehingga manusia bisa memilih respon pada perilakunya.

Terlebih-lebih Rasulullah sebagai manusia pilihan tentulah melampaui pengendalian diri manusia biasa. Tindakan beliau bukan berdasarkan naluri dan hawa nafsu, tetapi mengikuti petunjuk “illa wahyu yuuha”.

Sehingga respon terbaik seorang Ibadurrahman, hamba Tuhan Yang Pengasih, ketika diprovokasi oleh orang jahil akan terkendali tetap bersikap damai. Sikap proaktif yang terukur. Seperti digambarkan oleh Al Quran:

Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil (bodoh) menyapa mereka (dengan hinaan), mereka mengucapkan salam”.  (QS Al Furqan 25: 63).

Ada temuan menarik dari penelitian sosio-historis tentang penggunaan kata jahil pada jaman pra-islam, jaman jahiliah yang sering diterjemahkan sebagai jaman kebodohan itu. “Jahil” yang secara harfiah berarti bodoh, ternyata di saat itu penggunaannya dilawankan dengan kata “Hilm” yang secara harfiah berarti lemah lembut dan menahan diri. Lawan katanya bukan “Ilm” yang berarti ilmu dan kepintaran. Sehingga makna terapan dari istilah jahil adalah agresifitas, emosional yang disebabkan sikap tidak rasional. Dan lawannya adalah hilm yang bermakna sikap menahan diri sesuai akal sehat.

Diturunkannya Rasulullah pada masyarakat jahiliah adalah untuk mengubahnya menjadi beradab berlandaskan kesadaran ketuhanan. Dari banyaknya prinsip-prinsip Al Quran tentang kebajikan dan keadaban, di antaranya ada dua prinsip penting, yaitu:

Pertama, balaslah penghormatan dari pihak lain dengan penghormatan yang lebih baik atau setara.

Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau yang sepadan dengannya. Sungguh Allah memperhitungkan segala sesuatu”.  (QS Annisa 4: 86).

Kedua, balaslah kejahatan dari pihak lain dengan setara atau memaafkan akan lebih baik.

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishas berkenaan dengan orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Tetapi barangsiapa memperoleh maaf dari saudaranya hendaklah dia mengikutinya dengan baik, dan membayar tebusan kepadanya dengan baik. Demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhanmu. Barangsiapa melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat azab yang sangat pedih”. (QS Al Baqarah 2: 178).

Inilah The Golden Rules atau Prinsip Emas Keadaban sebuah masyarakat berbudaya. Bahkan Al Quran mengajarkan secara indah:

Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia”. (QS Fussilat 41: 34).

Tapi bukankah uraian tentang ajaran dan teladan Nabi itu menjadi semacam paradoks dalam peristiwa Charlie Hebdo ini? Apakah cukup dikatakan secara apologetik bahwa itu fenomena umum perbedaan de jure dan de facto?  Apa pasal?

Islam Dan Islamisme

Barangkali cara pandang Prof. Bassam Tibi, seorang cendekiawan muslim kelahiran Damaskus Suriah yang sekarang bermukim di Jerman, cukup membantu menjelaskan fenomena di atas. Dia membedakan Islam dan Islamisme.

Islam adalah agama, dasarnya adalah akhlak atau moralitas dan kesadaran ketuhanan atau spiritualitas. Tujuan yang ingin dicapainya adalah kebenaran dan keadaban. Motto perjuangannya adalah “Rahmatan lil ‘alamiin, atau rahmat bagi semesta alam”.

Sedangkan Islamisme adalah gerakan sosial politik, dasarnya adalah emosi sosial dan kesadaran kelompok. Tujuan yang ingin dicapainya adalah kemenangan dan kekuasaan politik. Motto perjuangannya adalah “‘Izzul islam wal muslimiin, atau kejayaan Islam dan kaum muslimin”.

Tentu, walaupun sepintas sangat mirip, dua fenomena itu secara substansial berbeda. Dan perilaku responnyapun berbeda dalam memaknai peristiwa sosial, karena berbeda prioritas rujukan. Islam merujuk kepada teladan Rasulullah, sedangkan Islamisme mengacu kepada perumus ideologinya. Sesederhana itu, meski elaborasinya cukup pelik.

Ada kelompok orang yang tidak bisa membedakan antara Islam dan Islamisme, dalam penjelasan Bassam Tibi. Dua di antaranya penting kita cermati:

Pertama, orang yang mengidap Islamophobia. Dalam pandangan orang semacam ini, Islam dipersepsi sebagai biang teror dan ancaman yang menakutkan. Mungkin orang semacam Emmanuel Macron dan Donald Trump termasuk dalam kategori ini.

Kedua, orang yang menganut Islamisme itu sendiri. Dalam pandangan orang semacam ini Islam dipersepsi selalu dalam ancaman para musuh pembencinya.

Penutup

Dalam momentum bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, kita mesti merenungkan dan meneladani kembali keagungan Rasulullah sebagai model yang membumikan maksud Risalah Tuhan. Diantara anjuran ringkasnya adalah laa taghdhob, jangan kamu jadi pemarah. Jika tidak, dalam kehidupan multi kultural ini akan  jadi semacam paradoks: kaum muslimin malah disebut the angry believers, orang beriman yang pemarah. Hal ini akan semakin menjadi bahan olok-olok selanjutnya dari para orang jahil.  Damai di bumi. Salam.  Wallahu a’lam bishowab.