Penulis, H. Eman Sulaeman

Penulis, H. Eman Sulaeman.

AKHIR ZAMAN DAN POTRET GAYA HIDUP MUSLIM

Oleh, Eman Sulaeman, M.Ag.

(Dosen IAI Bunga Bangsa Cirebon)

 

Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Q.S. Yusuf: 108)

 

 

Pendahuluan

Ada dua hal yang umumnya dicari oleh manusia dalam hidup ini: pertama ialah kebaikan (al-khair); kedua ialah kebahagiaan (as-sa’adah). Hanya saja, terkadang tiap orang memiliki pandangan yang berbeda ketika memahami hakikat keduanya. Perbedaan inilah yang menyebabkan lahirnya keragaman gaya hidup manusia.

 

Dalam pandangan Islam,  gaya hidup tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu: 1) gaya hidup Islami, dan 2) gaya hidup jahili. Gaya hidup Islami yaitu gaya hidup yang dibangun dari sudut pandang ajaran agama islam, berawal dari keta’atan kepada Allah serta berorientasi untuk mendapatkan ridlo-Nya. Sedangkan gaya hidup jahili, berawal dari trend budaya (yang berlawanan dengan ajaran islam) yang ujungnya hanya untuk mencari kepuasan (bukan kebenaran dan kebaikan).

Kita sebagai umat islam sudah menjadi keharusan untuk memilih gaya hidup Islami dalam kehidupan-nya. Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf: 108).

Berdasarkan ayat tersebut jelaslah bahwa bergaya hidup Islami hukumnya wajib atas setiap Muslim, dan gaya hidup jahili adalah haram baginya.

 

Akhir-akhir ini kita sangat prihatin dan sangat menyesal, sebab justru gaya hidup jahili (yang diharamkan) itulah yang melingkupi sebagian besar umat Islam. Fenomena ini mengingatkan kita terhadap salah satu hadits rasululloh SAW.

Artinya: “Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah z, shahih).

Hadits tersebut menggambarkan suatu zaman di mana sebagian besar umat Islam telah kehilangan jati dirinya, karena jiwa mereka telah terisi oleh jenis kepribadian yang lain. Mereka kehilangan gaya hidup yang hakiki karena telah mengadopsi gaya hidup jenis lain. Kiranya tak ada kehilangan yang patut ditangisi dan disesali selain dari kehilangan kepribadian dan gaya hidup Islami. Sebab apalah artinya mengaku (KTP-nya) sebagai orang Islam, kalau gaya hidup tak lagi Islami malah persis seperti orang kafir? Inilah bencana kepribadian yang paling besar.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda:

Artinya: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu hasan).

Al-Munawi menafsirkan Tasyabuh dalam hadits tadi memiliki arti tasyabuh fi dohri “Menyerupai suatu kaum artinya secara lahir berpakaian seperti pakaian mereka, berlaku/ berbuat mengikuti gaya mereka dalam pakaian dan adat istiadat mereka (tentunya yang negatif”.

Satu di antara berbagai bentuk tasyabbuh yang sudah membudaya dan mengakar di masyarakat kita adalah soal pakaian/ busana. Sering kita menjumpai umat islam (khususnya perempuan) yang busananya belum memenuhi standar seperti yang dikehendaki syari’at islam. Busana-busana itu masih mengekspose aurat (kecacatan diri) sebagai khas pakaian jahiliyah. Adapun yang lebih memprihatinkan lagi adalah ketika syariat islam menyuruh menutup aurat tersebut, malah dengan tegas mereka menuduh bahwa islam adalah agama yang radikal dan tidak sesuai dengan trend.

Bilakah,  kenyataan ini terjadi dikalangan keluarga Kita: istri, anak-anak atau handi taulan terdekat? Sudakah kita sempat mengingatkan dan mengajak pada kebaikan?

Marilah kita takut pada ancaman allah dalam masalah ini. Tentu kita tidak ingin ada dari keluarga kita yang disiksa di Neraka. Ingatlah, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam pernah bersabda:

Artinya: “Dua golongan ahli Neraka yang aku belum melihat mereka (di masaku ini) yaitu suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, mereka memukuli manusia dengan cambuk itu. (Yang kedua ialah) kaum wanita yang berpakaian (tapi kenyataan-nya) telanjang (karena mengekspose aurat), jalannya berlenggak-lenggok (berpenampilan menggoda), kepala mereka seolah-olah punuk unta yang bergoyang. Mereka itu tak akan masuk Surga bahkan tak mendapatkan baunya, padahal baunya Surga itu tercium dari jarak sedemikian jauh”. (HR. Muslim, dari Abu Hurairah z, shahih).

Jika tasyabbuh dari aspek busana wanita saja sudah sangat memporak-porandakan kepribadian umat, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tinggal diam. Sebab di luar sana sudah nyaris seluruh aspek kehidupan umat bertasyabbuh kepada orang-orang kafir yang jelas-jelas bergaya hidup jahili.

Jika Kita sudah merasa aman karena sudah menunjukan gaya islami, bagaimana dengan anak dan saudara Mu? Cukuplah Firman allah berikut yang bisa menyadarkan diri kita bahwa Kita harus peduli mengingatkan dan menyelamatkan mereka.

Allah berfirman dalam Q.S. At-Tahrim:6:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Membiarkan keluarga Kita dalam gaya hidup yang salah,  meskipun ia kelihatan bahagia menjalaninya, ketahuilah bahwa cara seperti itu pada akhirnya akan mejadikan petaka untuk kita berupa permusuhan di hadapan Allah. Oleh karena itu, membentengi keluarga kita dari serangan budaya yang buruk (tidak islami) adalah cara Kita mencintai kepada keluarga dan merajut kebahagiaan yang abadi sampai Kita bersama-sama menghadap Allah Swt.  Wallau’alam bi showab. ***