Menatap Kehidupan yang Lebih Optimis dan Islami di Era New NormalPendahuluan

Tantangan  kehidupan beragama pada masa pandemi Covid-19 pada 3 bulan terkahir sungguh nyata dirasakan ummat ini.  Masjid-Masjid, rumah ibadah dan mimbar agamapun ditutup untuk sementara waktu. Sehingga kita dipaksa tinggal dan berktifitas di rumah dalam waktu yang cukup lama. Disinilah kita dapat meraskan banyak hal, yang pada akhirnya kita dituntut mampu mengambil hikmah dari apa yang sudah kita lakukan selama ini di rumah.

Selama pandemi Covid-19, kita merasa terasing, jauh dari keramaian. Hampir semua aktivitas kita menjadi terbatas, dan bahkan merasa asing dan jemu dengan situasi dan kondisi tersebut. Namun ada pula sebagian dari kita yang secara cepat mampu beradaptasi dan memahami situasi tersebut. Sehingga tetap mampu menghadapi situasi pandemi itu dengan tetap bersikap wajar, tidak panik dan mampu mengkondisikan diri. Islam sebagai ajaran yang sempurna dan komprehensif selalu  mendorong ummatnya untuk berpikir dan pandai mengambil hikmah dari Musibah ini. Diantaranya sikap hidup dan kehidupan kita ketika memasuki tatanan kehidupan baru, yang di Provinsi Jawa Barat dikenal dengan istilah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Kita dituntut untuk mampu menampilkan sosok pribadi muslim yang memang mampu hidup dengan tatanan baru yang lebih baik, khususnya dalam berprilaku kehidupan sehari-hari yang lebih optimis dan Islami.

  1. Semakin siap menghadapi ujian/cobaan dan memahami hakikatnya;

Bagi pribadi muslim yang beriman, pandemi covid-19 ini harus dipahami sebagai salah satu bentuk ujian yang bersifat  sunatullah, yang akan terjadi kepada siapapun dan dimanapun dari umat manusia ini. Karenanya kita dituntut mampu menghadapi semua ujian itu dengan baik, karena siapapun pada gilirannya akan merasakan diuji oleh Allah SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Albaqarah, 2: 155).

Cobaan yang diberikan oleh Allah SWT dapat berupa sesuatu yang buruk (sesuatu yang tidak mengenakan/mnyengsarakan, seperi Covid-19 ini), maupun ujian berupa sesuatu yang sifanya baik, seperti Allah SWT  memberikan kita anugerah jabatan yang tinggi, harta yang melimpah, dll juga merupakan ujian. Seperti digambarkan dalam Alqur’an Surah Al-Anbiya’ ayat 35: “….Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.

Sehingga dari penjelasan ayat-ayat tersebut, kita  memahami bahwa setiap kita pasti akan diuji, dan ujian itu adakalanya berupa sesuatu yang baik, juga yang buruk. Kedunya harus dihadapi dengan kembali kepada Allah dan dengan cara pandang yang sesuai tuntutan syari’at Allah SWT. Hikmahnya ketika kita mendapat ujian kebaikan, kita akan pandai bersyukur kepada Allah, dan ketika diuji dengan keburukan, kita berusaha untuk belajar bersikap sabar, tidak berburuk sangka kepada Allah, dan berusaha mencari hikmah dibalik semua ujian/cobaan keburukan yang terjadi tersebut, termasuk cara pandang untuk mempu menyeimbangkan antara kekuatan ikhtiar dan do’a kepada Allah adalah menjadi tuntunan agama Islam itu sendiri.

  1. Semakin dekat kepada Allah dan mengenal Kebesaran dan Pertolongan-Nya

Manakala seorang muslim mendapatkan ujian dari Allah SWT, baik berupa kebaikan maupun keburukan dan ia mampu memahami akan hakekat ujian tersebut. Maka ia akan mampu menjadikan dirinya semakin dekat kepada Allah SWT. Karena baginya tidak ada suatu musibah apapun yang terjadi kecuali karena izin-Nya.

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghobun:11).

Sehingga ia akan semakin merasakan kebesaran Allah SWT. Betapa tidak, makhluk yang bernama manusia yang kadang congkak, sombong, merasa paling hebat, dan sederet sifat buruk lainnya, sehingga sering melupakan Allah SWT. sebagai Dzat Yang Maha Pencipta, dihadapkan pada pandemi covid-19 yang saat ini sudah menembus 216 negara, dan terkonfirmasi 8.184.867, dengan jumlah korban meninggal 443.872 orang. Juga di Indonesia sudah menembus angka 42.762 (positif) dan meninggal 2.339 orang (covid19.go.id, 18 Juni 2020). Sehingga pandemi ini telah meluluh-lantahkan hampir seluruh aspek kehidupan(sosial, ekonomi,pendidikan, kebudayaan, bahkan keagamaan), yang sama sekali tak pernah kita duga sebelumnya. Betapa kita menyadari, bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Ketika Allah SWT. Yang Maha Kuasa dengan Qodho dan Qodar-Nya menguji kita dengan wabah ini, kita dibuat tak berdaya oleh makhluk Allah SWT. yang namanya VIRUS CORONA.

Disnilah seorang muslim yang beriman akan semakin menyadari akan kebesaran Allah SWT, dan tidak ada cara yang lebih tepat baginya, kecuali semakin mendekatkan diri kepada-Nya dan berdo’a memohon perlindungan dan pertolongan-Nya. Karena ia meyakini hakikatnya suatu ujian, musibah ini dari Allah, dan Allah pula lah yang berkuasa untuk mengangkat dan menghilangkan virus ini. Manusia hanyalah berikhtiar yang benar, menghampiri Taqdir Allah SWT untuk mendapatkan perlindungan dan kesehatan.

 

  1. Semakin Meneguhkan Kepemimpinan Keluarga

Memasuki tatanan kehidupan baru (new normal). Kiita sudah dibekali pengalaman yang cukup selama masa karantina (lockdown, stay at home) di rumah. Betapa tuntutan optimalisasi struktur dan fungsi keluarga menjadi sangat terasa. Bagi seorang kepala rumah tangga, kepemimpinan keluarga benar-benar teruji untuk mampu menghadapi keadaan selama karantina masa pandemi covid-19 di rumah. Dalam hal pelaksanaan Ibadah sholat misalnya, bagi orang-orang yang sudah memiliki pengalaman dan terbiasa sholat berjama’ah di Masjid, maka ketika harus melaksankan sholat berjama’ah di rumah dan harus menjadi Imam Sholat, maka baginya tidak akan terlalu merasa kaku dan kaget. Justru akan menjadi sebuah peluang untuk meneguhkan kepemimpinan keluarga, khususnya dalam fungsi keagamaan. Praktek-praktek Ibadah khusus di rumah menjadi sebuah sarana penguatan sendi-sendi keagamaan bagi anggota keluarga di rumah. Namun berbeda halnya, dengan seseorang yang memang jarang bahkan belum pernah sholat berjama’ah, serta tidak memiliki kemamapuan dasar agama yang memadai. Maka menghadapi masa karantina tersebut, menjadi tantangan tersendiri menghadapi tuntutan anggota keluarga (isteri, anak-anak, dan lainnya) dalam pelaksanaan Ibadah.

Memasuki masa Adaptasi Kebiasaan baru ini, kita diharapkan lebih mampu meneguhkan kepemimpinan keluarga dalam melaksankan fungsi keagamaan, kasih sayang, perlindungan, pendidikan, sosial-budaya, ekonomi, kesehatan (reproduksi) dan pembinaan lingkungan. Fungsi kepemimpinan keluarga dalam Islam pada hakekatnya adalah amanah dan tanggung jawab yang harus dijaga dan dilaksankan dengan merawat, mengarahkan dan mendidik diri kita  dan anggota keluarga agar terhindar dari keburukan (ancaman api neraka). Sebagaimana dalam Alqur’an Surah Al-Tahrim: 6: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka…”

 

  1. Semakin Menumbuhkan Sikap Empati dan Ta’awun dengan Sesama;

Segala daya dan upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan semua elemen masyarakat untuk secara sungguh-sungguh menanggulangi Covid-19.  Jumlah total anggaran yang digelontorkan Pemerintah RI untuk penanggulangan Covid-19 ini hingga 4 Juni 2020 mencapai Rp. 677,2 Triliun (kompas.com).  Jumlah anggaran yang sangat pantastis. Apa makna terpenting dari semua itu, bukan sekedar berapa besar anggaran yang dianggarkan Pemerintah semata-mata. Namun yang lebih penting bagi kita ummat  beragama, selama masa pandemi covid-19 ini adalah bagaimana menumbuhkan sikap empati kepada sesama kita, terutama kepada para pasien, tenaga medis, dan para relawan kemanusian yang berjuang untuk penanggulangan wabah ini serta seluruh lapisan masyarakat yang terdampak. Bentuk empati kita kepada mereka adalah dengan tetap mengikuti protokol kesehatan dan pola hidup bersih dan sehat.

Kedisiplinan kita dalam mentaati protkol kesehatan demi untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 ini adalah bukti kita menolong sesama kita. Jangan sampai karena sikap “ngeyel” kita, merasa diri kita sehat dan kuat, namun sebenarnya secara tidak sadar kita telah membawa virus (carrier) kepada sesama kita. Karennya memasuki masa AKB ini sikap empati kita tidak sekedar dibuktikan memabntu secara materil dengan uang, sembako, dan lain-lain, melainkan sikap kedisiplinan kita dalam menjaga protokol kesehatan adalah dalam rangka melaksanakan kaidah ushul fiqh “laa dhororo walaa diroro” (tidak membahayakan diri dan orang lain);  dar’ul mafaasidi muqoddamun ala jalbil mashalih (meminimalisir/menolak kemadharatan yang lebih besar itu wajib didahulukan dari pada mengambil suatu keutamaan/kemaslahatan).

 

  1. Semakin Memahami makna Kebersamaan dan Persaudaraan

Ujian pandemi Covid-19 telah mampu mengubah tatanan kehidupan sosial masyarakat di dunia yang melampaui batas-batas wilayah demografi, ras, suku, bangsa dan agama. Tak satupun negara yang mampu menolak musibah ini. Sehabat China dan Amerika yang menjadi 2 kekuatan besar di dunia saat ini, merasa kewalahan menghadapi wabah ini.  Dalam menghadapi ancaman wabah ini tak satupun negara yang mampu berdiri sendiri dalam mengatasi wabah ini, satu sama lain saling membutuhkan, terutama terkait ketersediaan fasilitas kesehatan dan sarana pendukung lainnya. Disinilah makna penting bagi ummat beragama untuk mampu mengahdirkan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan dalam menanggulangi covid-19. Kehadiran Islam yang rahmatan lil’alamiin bagi kita bukan hanya dalam wacana, melainkan sebagai cara pandang agama kita yang luas, bijak, mampu membangun harmonisasi dalam keanekaragaman.  Allah SWT telah menjadikan ujian Covid-19 kepada kita untuk mengingatkan pula akan pentingnya makna kebersamaan dan merajut persaudaraan dalam kebaikan bukan dalam kejahatan. Sebagaimana dalam Alqur’an Surah Al-Maidah ayat 2 : “….Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

 

  1. Semakin Mematangkan Mental dan Kemandirian

Pada awal Covid-19 ditetapkan sebagai Pandemi oleh WHO pada pertengahan Maret 2020 dan ditetapkan Pemerintah RI sebagai bencana Nasional Non-Alam, tak sedikit diantara kita yang mengalami rasa panik, takut, khawatir, waswas, tegang dan sejenaisnya. Suatu sikap mental yang dianggap wajar dalam menghadapi peristiwa yang dianggap luar biasa/darurat. Namun lama kelamaan sikap panik tersebut tidak menguntungkan bagi daya tahan tubuh (imun) seseorang. Sehingga mental panik itu justru akan menjadikan seseorang semakin rentan terjangkit suatu penyakit. Sebagaimna yang diungkapkan Ibnu Sina dalam kitabnya Athlas lin Nashri wal Intaji wal I’lamiy (2015, Cet.I, hlm. 161). “bahwa sikap mental panik (al-wahm) adalah separoh dari penyakit; ketenangan (al-ithmi’nan) adalah separoh dari obat; dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan (al-Shobr bidayat al-syifaa’). Artinya dari pengalaman pandemi covid-19 ini, kita terus mendapat pelajaran, dari Zona Ketakutan kemudian beralih ke zona belajar, kita terus belajar dari pengalaman yang terus terjadi, dan akhirnya terus menuju zona tumbuh, mana kala kita terus belajar memaknai wabah ini akan terus menumbuhkan sikap empati dan peduli untuk menolong sesama.

Wabah ini pula telah menuntun kita untuk menjadi seorang pribadi  yang lebih mandiri dalam menata kehidupan yang lebih baik. Mandiri secara ekonomi, keilmuan, wawasan keagamaan, bahkan mandiri untuk mampu merawat dan mendisiplikan diri sendiri. Sehingga kita akan terbiasa  untuk memiliki ketahanan mental dan kemandirin manakala menghadapi berbagai ujian/cobaan yang akan terjadi.

 

  1. Semakin Semangat dan Optimis dalam Menjalani Kehidupan

Beragam pengalaman yang penuh tantangan selama masa pandemi covid-19 telah memberikan pembelajaran yang berharga bagi kehidupan kita. Dimulai dari sikap mental-spiritual (was-was, panik, takut, yakin, pasrah, percaya diri, bahkan angkuh) menghadapi wabah ini, pengorganisasian keluarga selama masa karantina, pendidkan keluarga, keterbatasan berinteraksi sosial secara langsung dengan sesama, kesusahan ekonomi, merasakan nikmatnya membantu sesama yang sedang susah, susahnya memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang baru, yang belum menjadi kebiasaan kita (penggunaan aplikasi/teknologi pembelajaran, informasi dan komunikasi, dan sejenisnya) yang serba online; ibadah di rumah, sampai sikap keraguan mengganti sholat Jum’at dengan dzuhur di rumah, dan lain-lain.

Semua pengalaman tersebut hakikatnya karena qudrat dan irodat Allah SWT yang telah menguji kita dengan pandemi covid-19. Bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT, tidak akan ada lagi keraguan, terlebih su’uzhan kepada-Nya, melainkan tetap pandai mengambil hikmah dan berkah dari ujian ini. Bila semua ini telah kita jalani, dan saat ini kita telah memasuki era new normal (AKB). Maka semua itu adalah bekal yang sangat berharga, agar kita tetap semangat dan optimis dalam menjalani kehidupan ini menuju kehidupan yang benar-benar lebih baik. Kita meyakini janji Allah SWT. :“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5).

Penutup

Setelah kita mengalami saat-saat sulit dan susah pada masa pandemi covid-19. Keimanan kita harus semakin bertambah kokoh kepada Allah SWT, bahwa kebesaran dan pertolongan Allah SWT itu nyata bagi kita, yang berusaha sungguh-sungguh menghadapi dan memaknai wabah ini sesuai dengan tuntunan-Nya. Kita tetap semangat menatap masa depan kehidupan kita yang benar-benar lebih baik, dengan tetap memaksimalkan kebiasaan ikhtiar, sabar dan tawakkal kepada Allah SWT dalam menghadapi semua cobaan hidup. Wallahu a’lam bi al-Shawwab !