TATKALA HARTA DAN JABATAN MENGGERUS HIDAYAH

Jan 2, 2026 | Artikel Islam

Harta dalam bahasa arab disebut “Mal”, oleh karenanya zakat harta disebut juga dengan istilah “Zakat Mal”. Kata bahasa arab “Maala – Yamiilu” artinya cenderung. Maka harta itu dalam bahasa arab disebut “Mal” karena manusia secara naluriah cenderung kepada harta sebagaimana disebut dalam firman Allah: “Bermegah-megahan harta telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur” (At-Takasur 1-2)

Sementara itu, pangkat dan kedudukan dalam bahasa arab disebut “Jah”. Sedangkan kata ”Ittajaha – Yattajihu” artinya mengarah. Adalah fitrah keumuman manusia untuk berebut memperoleh prestise melalui perolehan pangkat dan kedududukan (Jah) karena dengannya dia akan menggenggam kekuasaan dan harta. Oleh karena itu maka suatu hal yang sangat lumrah apabila kita melihat bahwa manusia selalu berlomba-lomba merebut pangkat, kedudukan, dan harta dengan berbagai cara, dan itu tentunya sah-sah saja sepanjang tidak melanggar rambu-rambu yang ditetapkan Allah (syari’ah Allah) dan bahkan melalui kedudukan, pangkat, kekuasaan dan harta seseorang akan lebih optimal menebar manfaat dan Da’wah Li I’la-i Kalimatillah.

Imam Ibnu Katsir yang karya tafsirnya sangat populer yakni Kitab Tafsir Ibnu Katsir, beliau menceritakan sebuah kisah tentang Ar-Rajjal bin Unfuwah secara gamblang dalam kitabnya “Al-Bidayah Wa An-Nihayah”. Kisah ini diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu.

Sosok Rajjal bin Unfuwah pada mulanya adalah sosok sahabat yang suka berkumpul dan duduk bersama Rasulullah. Saw. Pada satu kesempatan, tatkala Rasulullah reriungan bersama para sahabat dan Rajjal salah satu diantara mereka, tiba-tiba beliau bersabda yang membuat semua sahabat yang mendengarkannya merasa ketakutan. Rasulullah bertutur :

“Sesungguhnya di antara kalian ini, ada satu orang yang kelak di akhirat nanti (di neraka) gigi gerahamnya lebih besar dari gunung uhud”

Tentunya seluruh sahabat yang mendengar perkataan beliau merasa kaget bukan kepalang, sebab kabar ini disampaikan oleh seseorang yang tidak pernah bohong dalam hidupnya. Kabar ini dari langit yang tidak akan meleset kebenarannya. Kabar yang pasti 100% benar. Tapi siapakah diantara mereka ini dan yang pasti salah satu diantara mereka. Inilah yang membuat mereka tegang.

Singkat cerita, para sahabat yang kala itu ada di hadapan Nabi satu demi satu meninggal dengan keislaman yang sangat shalih. Sampai kemudian sepeninggal Nabi tersisa tinggal dua orang saja yakni sahabat Abu Hurairah dan Rajjal bin Unfuwah.

Ma’asyirol mukminin rohimani wa rohumakumullah

Arrajjal bin Unfuwah Adalah sosok yang pernah bertemu dengan Rasulullah saw dan berislam di hadapan beliau. Dia adalah seorang ahli ilmu yang ilmunya direguk langsung dari Rasulullah, bahkan dia memiliki kelebihan didalam keilmuan Al-Qur’an dan dia juga dikenal sebagai sosok yang gemar melakukan amal kebaikan. Dalam hal ini Rafi’ bin Khadij pernah bersaksi dengan mengatakan sebagai berikut:

“Sungguh Ar-Rajjal bin Unfuwah merupakan orang yang baik, berkelakuan baik dan sungguh istimewa perangainya. Dia sosok yang ahli membaca Al-Qur’an”

Pasca wafatnya Rasulullah dan pada masa kekhalifahan Abu Bakar As-Siddiq, Ar-Rajjal bin Unfuwwah ini diutus Khalifah untuk membendung fitnah Musailamah Al-Kadzab sang pendusta yang mengaku diri sebagai Nabi. Bermodalkan kecerdasan yang dimiliki Ar-Rajjal bin Unfuwah serta penguasaan yang bagus akan keilmuan Al-Qur’an maka berangkatlah dia dengan penuh rasa percaya diri, jejak langkahnyapun mantap, tak ada ada rasa ragu dan goyah sedikitpun.

Di lain pihak, sahabat Abu Hurairah merasa semakin risau dan semakin galau yang luar biasa karena dia beranggapan jangan-jangan dirinya yang dimaksudkan dalam sabda Rasulullah saw yang ia dengar sendiri bersama beberapa sahabat lainnya saat itu, yang kini sudah pada wafat dengan keshalihan imannya masing-masing dan sekarang tersisa tinggal dua orang yakni dirinya dan Ar-Rajjal bin Unfuwah yang gagah, berani, cerdas, ahli Al-Qur’an. Keringat kecemasan semakin bercucuran. Desir rasa keraguan, was-was dan kekhawatiran masuk dalam pikiran dan perasaan silih berganti. Sahabat Abu Hurairah terus saja bersembunyi dalam selimut ketakutan yang luar biasa. Matanya tak kunjung bisa terpejam saat diupayakan untuk tidur. Rasa cemas itu tidak pernah bisa hilang sampai takdir menyingkap tabir satu diantara dua orang yang bernasib celaka itu.

Ma’asyirol mukminin rohimani wa rohumakumullah

Sesampainya Ar-Rajjal bin Unfuwah di Tengah-tengah bani Hanifah, dan sebelum dia memulai berbicara topik-topik penting tentang klaim kenabian Musailamah Al-Kadzab, tiba-tiba justru Musailamah yang membuka pembicaraan dengan memberikan iming-iming pembagian setengah Kerajaan yang dia pimpin. Tawaran Nabi palsu itu menggoyahkan fikiran dan pendirian Ar-Rajjal bin Unfuwah dengan seketika.

Ar-Rajjal yang sarat dengan keilmuan, yang menguasai ilmu Al-Qur’an, yang selama ini dikenal dengan orang Sholeh dan berprilaku baik sebagaimana diungkapkan oleh kesaksian Rafi’ bin Khadij, kali ini dia tergerus oleh bujuk rayu pangkat dan kekuasaan, hanyut dalam bayangan kemewahan harta yang dijanjikan oleh Musailamah Al-Kadzab. Bak gayung bersambut, Ar-Rajjal pun mengamini tawaran Musailamah dan siap menjadi penguat seruan kemurtadannya.

Dampak yang timbul di tengah-tengah Masyarakat luas dari Keputusan Ar-Rajjal ini ternyata jauh lebih besar dari pada kerusakan yang ditimbulkan oleh Musaelamah itu sendiri. Hal ini bisa dimaklumi karena sosok Ar-Rajjal yang dikenal sering bersama Rasulullah saw, yang fasih Al-Qur’an, yang cerdas dan menguasai ilmu Al-Qur’an, semua ini memiliki daya tarik tersendiri di tengah masyarakat sehingga masyarakat berbondong-bondong mengikuti jejak Ar-Rajjal beramai-ramai murtad secara massal mengakui kenabian Musailamah Al-Kadzab dan pada saat yang bersamaan jumlah pengikut Musailamah kian nmembludak.

Tepat pada tahun 12 Hijriyah, pecahlah perang melawan kaum murtaddin yang terkenal dengan sebutan perang Yamamah, yakni perang terbesar yang dikerahkan oleh Khalifah Abu Bakar As-siddiq dalam rangka memberantas habis kemurtadan. Perang Yamamah ini dipimpin oleh seorang komandan besar yaitu Khalid bin Walid. Pasukan dibawah pimpinan Khalid ini akhirnya mampu menumpas habis tentara-tentara kaum murtaddin. Musailamah Al-Kadzab jatuh dan mati tersungkur tertancap oleh tombak yang dibidikkan oleh Wahsyi bin Harb yang tatkala sebelum beliau masuk islam, Wahsyi bin Harb ini yang memburu Hamzah dalam perang Uhud dan merobohkan Hamzah dengan tombaknya. Sementara itu, Ar-Rajjal bin Unfuwah mati dalam keadaan kafir pada perang Yamamah ini ditebas oleh pedang Zaid bin Al-Khattab saudara seayah dari Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab. Ar-Rajjal bin Unfuwah mati dalam keadaan hina meskipun dia seorang yang cerdas, pandai, menguasai ilmu-ilmu Al-Qur’an, sering pula duduk-duduk bersama Rasulullah saw. Sedangkan di sisi lain, sahabat Abu Hurairah merasa terbebas dari belenggu katakutan akan kebenaran sabda Rasulullah saw yang pernah ia dengar langsung, ia telah keluar dari suasana batin yang penuh kegamangan..

Ma’asyirol mukminin rohimani wa rohumakumullah

Sebagaimana Khotib telah sampaikan di awal khutbah, bahwa kecenderungan manusia terhadap harta, kemewahan, tahta, kedudukan dan kekuasan memang sangat kuat sekali. Terlalu banyak orang yang hancur dunianya dan celaka akhiratnya karena terpedaya oleh kedudukan, jabatan dan kemewahan harta. Tidak ada yang dapat menyelamatkan manusia dari godaan ini kecuali keteguhan iman-nya, sedangkan iman bersifat Yazid wa Yankush terkadang menguat dan terkadang pula melemah. Tak ada yang dapat mengokohkan keimanan seseorang kecuali adanyanya perpaduan yang serasi pada dirinya antara ilmu dan ibadah.

Seseorang boleh cerdas, pinter, dengan sederet gelar serta beragam title boleh dia sandang, menguasai berbagai disiplin ilmu keagamaan seperti Tafsir, Hadits, Fiqih ataupun Tauhid dll, akan tetapi tanpa diimbangi dengan ibadah yang memadai maka keilmuan itu akan kering tanpa nilai. Demikian pula aktifitas ibadah, bilamana tanpa disertai dengan ilmu maka takkan bermakna. Hal ini tergambar pada kisah cerita tentang Ar-Rajjal bin Unfuwah yang dia adalah seorang yang cerdas dan ahli ilmu Al-Qur’an tanpa dibarengi dengan aktifitas ubudiyah yang berimbang. Kita semua berlindung kepada Allah swt agar jangan sampai terjadi pada kita. Amin

Fadhilatus Syaikh Abdul Hamid Ismail Zahiy mengatakan bahwa sholat adalah bibit utama dari semua bentuk ibadah dan ketaatan. Itu karenanya maka sholat disebutkan dalam kisah Isra’ Mi’raj Rasulullah saw adalah satu kewajiban yang diserah terimakan secara langsung antara Allah swt kepada Nabi kita Muhammad saw.  Dari sholat yang baik, khsyuk dan benar yang dilakukan seseorang maka akan berdampak pada kekokohan iman-nya. Kekokohan iman itu akan tergambar pada aktifitas kehidupannya yang baik untuk diri dan keluarganya dan pada saat yang bersamaan dapat menebar kebaikan pada sesama. Fasilitas jabatan, kedudukan, pangkat dan harta akan menjadikannya lebih optimal dalam menyebarkan manfaat dan kebaikan kepada umat dan Masyarakat.

Dalam sebuah hadits Muslim yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: “Paling dekatnya seorang hamba dari Tuhannya adalah tatkala dia sedang bersujud kepada-Nya, maka perbanyaklah do’a tatkala sedang bersujud”.

Kisah kewajiban sholat yang tersirat dalam perjalan Isra’ Mi’raj adalah sholat fardhu lima waktu, sholat yang wajib, sholat yang tidak boleh tidak harus dilaksanakan oleh seorang muslim dalam situasi dan kondisi bagaimanapun. Apabila kewajiban ini tertunaikan dengan baik, khusyuk dan benar, maka tentunya seseorang akan termotifasi untuk lebih banyak lagi melaksanakan sholat-sholat sunnah lainnya sehingga dia lebih sering bersujud kepada Allah swt, dan dengan kata lain dia akan semakin akrab dengan Allah swt.

Kata akrab dalam terminology bahasa arab berasal dari kata Qorib yang berarti dekat. Isim Tafdhil dari kata Qorib adalah Aqrob yang berarti lebih dekat, lalu kata ini populer dalam bahasa Indonesia menjadi kata Akrab.  Nah, keakraban seorang hamba dengan Allah swt tentunya dapat terjalin melalui sujud-sujud yang berkwalitas. Ketika keakraban dengan Allah swt dapat terjalin dengan baik, maka tentunya keimanan seseorang akan kokoh tak tergoyahkan. Demikianlah makna dari sebuah ayat yang menyebutkan: “Sesungguhnya sholat itu dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”. (Al-Ankabut-45). Patutlah kita evaluasi sholat kita dengan serius, apabila sholat kita tidak mencapai tahapan ini patut kiranya dipertanyakan apakah sholat kita bisa diterima Allah. Swt atau tidaknya.

Kedudukan, pangkat, jabatan dan kemewahan harta adalah satu prestise yang luar biasa dalam pandangan kebanyakan manusia. Ketika seseorang memperoleh itu semua, maka semua orang akan menaroh hormat kepadanya dan bahkan akan menuruti perintahnya. Bayangkan apabila kita memperolehnya dengan anugerah dan izin Allah serta terbalut dalam ridho-Nya pasti akan menghadirkan manfaat yang luar biasa di tengah-tengah kehidupan. Yang demikian ini telah banyak terjadi dalam sejarah, sebut saja sahabat Abdur Rahman bin Auf, Utsman bin Affan, Khalifah Umar bin Abdul Aiz dan sederet nama-nama orang sholih lainnya. Itu makanya dalam ayat lain Allah swt berfirman: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat tahajud (sebagai satu ibadah) tambahan bagimu. Mudah-mudahan (dengan begitu) Tuhanmu mengangkatmu ke tempat kedudukan yang terpuji” (Al-Isra’ – 79).

Ma’asyirol mukminin rohimani wa rohumakumullah

Mengakhiri khutbah saya pada jum,at ini dimana kita telah tinggalkan tahun 2025 dan pada saat ini kita telah menginjakkan kaki kita di tahun 2026, saya selaku khotib mengajak untuk sama-sama merenung sejenak untuk mengevaluasi kerja-kerja kita, aktifitas harian kita yang berdampak pada kesholehan kita, berdampak pada penguatan iman islam kita, kerja-kerja dan aktifitas yang bisa kita jadikan investasi amal kita sebagai bekal kematian kita.

Terlalu sering kita merenung, terlalu sering kita melamun, terlalu sering pula kita menghitung-hitung sejauh mana prestasi kerja-kerja kita. Lagi-lagi kita terjebak dengan ukuran prestasi perolehan dunia dan harta atau bahkan kedudukan. Sudah berapa seringkah kita mengevaluasi persiapan akan hadirnya ajal kematian kita, sudah pastikah kalua kita ini akan aman dan selamat dari ancaman siksa neraka, amalan apakah yang kita andalkan nuntuk mmenghadapi itu semua. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang semustinya sering kita gaungkan dalam alam fikiran kita dan terlebih lagi saat kita merasa bertambah usia yang berarti kita semakin mendekat ke terminal kematian.   Allah berfirman : “Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun” (Al-A’raf – 34)

Demikian khutbah singkat yang dapat kami sampaikan. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terima kasih atas segala perhatian.           Jum’at, 2 Januari 2026 :  (AHMAD AIDIN TAMIM)

Follow Sosial Media At Taqwa :

Berita Terkait

Niat Puasa Ramadhan Lengkap dengan Doa Berbuka Puasa

Niat Puasa Ramadhan Lengkap dengan Doa Berbuka Puasa

Niat puasa Ramadhan menjadi bagian paling mendasar dalam ibadah puasa yang sering dianggap sepele, padahal memiliki peran sangat menentukan sah atau tidaknya puasa seseorang. Banyak umat Islam yang sudah terbiasa berpuasa setiap tahun, namun belum sepenuhnya memahami...

SEBAIK-BAIKNYA BEKAL ADALAH TAQWA Oleh: H. Didin Nurul Rosidin KHUTBAH JUM’AT MASJID RAYA AT-TAQWA KOTA CIREBON

SEBAIK-BAIKNYA BEKAL ADALAH TAQWA Oleh: H. Didin Nurul Rosidin KHUTBAH JUM’AT MASJID RAYA AT-TAQWA KOTA CIREBON

KHUTBAH JUM’AT MASJID RAYA AT-TAQWA KOTA CIREBON 17 OKTOBER 2025 Oleh: H. Didin Nurul Rosidin SEBAIK-BAIKNYA BEKAL ADALAH TAQWA Khutbah I الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمُنْعِمِ عَلَى مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّبَعَ رِضَاهُ، الْمُنْتَقِمِ مِمَّنْ خَالَفَهُ وَعَصَاهُ، الَّذِى يَعْلَمُ...

Pin It on Pinterest

Share This