“MENELADANI NABI SEBELUM DAN SESUDAH RAMADHAN” Oleh, Mohamad Taufik, S.A.g, MP.d (Wakil Ketua At-Taqwa Centre Kota Cirebon)

Feb 21, 2026 | Artikel Islam

Usamah bin Zaid r.a. pernah bertanya langsung kepada Rasulullah saw :

: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟

Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau banyak berpuasa di bulan lain seperti engkau berpuasa di Sya’ban.”

Nabi ﷺ menjawab:

: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ  تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Itu bulan yang sering dilalaikan manusia antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan itu amal-amal diangkat kepada Allah, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.”
(HR. An-Nasa’i)

Sebelum Ramadhan, Nabi ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Dalam riwayat dari Usamah bin Zaid, beliau bertanya tentang hal itu, dan Nabi ﷺ menjelaskan bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia.

Dalam hadis riwayat Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan oleh Sahih Bukhari disebutkan:

“Rasulullah ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.”

Beliau juga melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir. Ini fakta sejarah yang shahih. Realitas Umat Islam Menghadapi Ramadhan (saat Ini)

1. Ramadhan bergeser dari tazkiyah ke ritual tahunan.

Mayoritas uma, sibuk menyiapkan jadwal, bukan  menyiapkan diri.

Ramadhan diperlakukan sebagai event, bukan proses pembentukan karakter.

2. Orientasi “sah” mengalahkan orientasi “diterima”.

لَوْ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ تَقَبَّلَ مِنِّي عَمَلًا وَاحِدًا فِي رَمَضَانَ، لَكَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Seandainya Allah menerima satu amalku saja di bulan Ramadhan, itu lebih aku cintai daripada dunia dan seisinya.”.

3. Ramadhan menjadi bulan konsumsi, bukan pengendalian.

Fakta sosial yang sulit dibantah:

Belanja meningkat, Sampah makanan naik, Meja buka sering berlebihan yang terjadi: konsumsi dipindahkan waktunya, bukan dikendalikan.

Betapa rindunya Nabi ﷺ kepada Ramadhan.
Beliau menyambutnya dengan ibadah, bukan dengan kelalaian.

Bagaimana dengan kita? Apakah hati kita bergetar menyambut Ramadhan? Ataukah kita lebih sibuk menyiapkan hidangan daripada menyiapkan keimanan?

Ramadhan adalah undangan cinta dari Allah. Namun tidak semua yang hidup hari ini akan menemuinya esok hari.

Bahaya terbesar adalah ketika Ramadhan datang tetapi tidak mengubah kita.

Puasa hanya menahan lapar.Tarawih hanya menjadi kebiasaan.Al-Qur’an hanya terdengar tanpa direnungi.

Jika sebelum Ramadhan kita lalai, saat Ramadhan kita biasa saja, dan setelahnya kita kembali pada maksiat — maka di mana letak keberhasilan puasa kita?

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus.  Na’udzubillah. Kabar baiknya, Allah Maha Pengampun.

Nabi ﷺ menunjukkan bahwa setelah Ramadhan, semangat ibadah tetap terjaga. Beliau melanjutkan dengan puasa Syawal, puasa Senin-Kamis, dan qiyamul lail sepanjang tahun.

Artinya, Ramadhan adalah madrasah. Siapa yang lulus, akan terlihat perubahan akhlaknya.

Jika setelah Ramadhan kita:

  • Lebih menjaga shalat
  • Lebih lembut kepada keluarga
  • Lebih ringan bersedekah

Itulah tanda keberkahan.

Agar kita meneladani Nabi ﷺ, lakukan tiga hal:

  1. Sebelum Ramadhan: Perbanyak taubat dan puasa sunnah.
  2. Saat Ramadhan: Maksimalkan Al-Qur’an dan sedekah.
  3. Sesudah Ramadhan: Pertahankan amal walau sedikit tapi istiqamah.

Mulailah dari yang sederhana — tetapi konsisten.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai titik perubahan.
Teladani Nabi ﷺ sebelum, saat, dan sesudahnya.

“Ramadhan bukan tentang ritual yang padat, tapi perubahan yang konsisten.”

Follow Sosial Media At Taqwa :

Berita Terkait

NILAI-NILAI HIJRAH RASULULLAH SAW SEBAGAI INSPIRASI KEHIDUPAN

NILAI-NILAI HIJRAH RASULULLAH SAW SEBAGAI INSPIRASI KEHIDUPAN

Oleh, Dr. H. Ahmad Syathori, M.Ag Pengurus Masjid Raya At-Taqwa Kota Cirebon Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan merupakan bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di...

MENJAGA AKAL, MENYELAMATKAN PERADABAN

MENJAGA AKAL, MENYELAMATKAN PERADABAN

(Refleksi Islam: Hari Anti Narkotika International 26 Juni 2026) Oleh, Prof.Dr.H.Achmad Kholiq, MA (Guru Besar Hukum Islam UIN Syeikh Nurjatin Cirebon) A.    Pengantar Setiap tanggal 26 Juni, dunia memperingati Hari Anti Narkotika Internasional sebagai...

MEMAKNAI TAHUN BARU HIJRIAH

MEMAKNAI TAHUN BARU HIJRIAH

Oleh, KH. Abdus Salam (Pengajar di Pondok Pesantren Tihamah, Cirebon) A. Pembukaan Kita telah memasuki tahun baru hijriah 1448 yang diawali dengan bulan Muharram berdasarkan ketetapan khalifah Umar bin Khatthab setelah berkonsultasi dengan para sahabat. Dipilihnya...