“SUMPAH PEMUDA DARI IKRAR PERSATUAN MENUJU AKHLAK PERADABAN”

Okt 30, 2026 | Artikel, Artikel Islam, Edukasi Umum, Khotbah Jum'at, Sholat

Oleh, Prof.Dr.KH.Dedi Djubaedi, MA

(Guru Besar UIN SIBER Syekh NUrjati Cirebon)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Dua hari yang lalu, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

Sembilan puluh delapan tahun silam, tepatnya 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai daerah, suku, bahasa, dan latar belakang berkumpul untuk mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Mereka mungkin berbeda daerah asal, berbeda adat, bahkan berbeda keyakinan. Tetapi mereka memiliki kesadaran yang sama: Indonesia tidak akan menjadi besar apabila anak bangsanya terus terpecah belah.

Ada pertanyaan penting yang patut kita renungkan:

Jika pemuda tahun 1928 mampu bersatu tanpa kemudahan teknologi, mengapa generasi sekarang yang memiliki teknologi canggih justru kadang mudah terpecah karena satu unggahan media sosial?

Inilah tantangan kebangsaan sekaligus tantangan keimanan kita.

1. Persatuan adalah perintah Allah, bukan sekadar semboyan bangsa

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 103:

“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.”

Ayat ini mengingatkan bahwa persatuan bukan hanya kebutuhan sosial, tetapi juga tuntunan agama. Islam tidak mengajarkan bahwa perbedaan harus melahirkan permusuhan.

Perbedaan dapat menjadi jalan untuk saling mengenal, menghargai, dan bekerja sama dalam kebaikan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Jamaah yang berbahagia.

Kita boleh berbeda pilihan, berbeda pendapat, berbeda organisasi, dan berbeda cara pandang. Tetapi jangan sampai perbedaan memutus silaturahmi, meruntuhkan persaudaraan, apalagi menghilangkan rasa kemanusiaan. Berbeda itu fitrah. Bermusuhan itu pilihan. Bersaudara adalah kemuliaan.

2. Pemuda hebat bukan hanya kuat fisiknya, tetapi kokoh imannya

Allah SWT mengabadikan kisah pemuda Ashabul Kahfi dalam QS. Al-Kahfi ayat 13:

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka.”

Perhatikan, jamaah sekalian!

Allah memuji para pemuda bukan karena kekayaannya, bukan karena popularitasnya, dan bukan karena banyaknya pengikut mereka. Allah memuliakan mereka karena keimanan dan keteguhan prinsip. Maka, anak-anak muda kita hari ini harus dibekali bukan hanya kecerdasan digital, tetapi juga kecerdasan moral dan spiritual.

Jangan sampai:

* Pintar menggunakan teknologi, tetapi tidak bijak menjaga lisan.

* Hebat berdebat, tetapi lemah menghormati orang tua.

* Banyak pengikut di media sosial, tetapi miskin keteladanan.

* Tinggi pendidikan, tetapi rendah integritas.

Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan. Teknologi tanpa moral dapat melahirkan kerusakan. Kekuasaan tanpa amanah dapat melahirkan ketidakadilan.

3. Sumpah Pemuda harus berubah menjadi amal nyata

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.

Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun. Ia merupakan panggilan moral untuk terus membangun bangsa.

Rasulullah SAW bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim)

Kekuatan yang dimaksud tidak terbatas pada fisik, tetapi juga keteguhan iman, kesungguhan berusaha, dan kemampuan menghadapi tantangan kehidupan. Bangsa ini membutuhkan generasi yang kuat ilmu pengetahuannya, kokoh integritasnya, bersih hatinya, dan luas kepeduliannya.

Khususnya bagi generasi muda Kota Cirebon, kota yang memiliki warisan sejarah Islam, perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan, mari jadikan warisan itu sebagai inspirasi untuk membangun masa depan.

Jadilah generasi yang menjaga masjid, mencintai ilmu, menghormati ulama, memuliakan orang tua, serta mampu hidup berdampingan dengan sesama. Jangan hanya bangga menjadi pewaris sejarah. Jadilah pencipta sejarah kebaikan!

4. Dari Sumpah Pemuda menuju sumpah pribadi

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.

Hari ini, marilah kita memperbarui komitmen pribadi. Jika para pemuda tahun 1928 berikrar untuk persatuan bangsa, maka sebagai umat Islam kita juga perlu memperteguh ikrar moral:

Aku tidak akan menjual kejujuran demi keuntungan.

Aku tidak akan mengorbankan persaudaraan demi kepentingan sesaat.

Aku tidak akan menggunakan ilmu untuk merendahkan orang lain.

Aku tidak akan menjadikan agama sebagai alasan untuk menyebarkan kebencian.

Aku akan terus belajar, terus berkarya, dan terus memberikan manfaat.

Sebab ukuran kemuliaan manusia bukan semata-mata pada gelar, jabatan, atau kedudukan, melainkan pada ketakwaan dan amal salehnya.

Pemuda 1928 bersumpah untuk Indonesia yang bersatu. Generasi hari ini harus berjuang untuk Indonesia yang berilmu, berakhlak, berkeadilan, dan bermartabat. (30 Oktober 2026)

Follow Sosial Media At Taqwa :

Berita Terkait

PENDIDIKAN SANTRI MENURUT HADITS TANQIHUL QAUL

PENDIDIKAN SANTRI MENURUT HADITS TANQIHUL QAUL

Oleh, KH. Syuja'i Amin (Ponpes Aziyadah Kota Cirebon) Marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. Karena, orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa kepada-Nya. Peningkatan takwa ini sangat penting dilakukan oleh kita mengingat...