MENDIDIK NAFS. MENYUCIKAN JIWA DAN MEMPERBAIKI AKHLAK

Okt 16, 2026 | Artikel, Artikel Islam, Khotbah Jum'at, Sholat

Oleh: Prof Didin Nurul Rosidin, MA, PhD

(Guru Besar UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Marilah kita menjaga perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan memperbaiki hati yang kelak kita bawa menghadap-Nya. Alhamdulillah, hari ini Allah masih memberi kita kesempatan datang ke rumah-Nya. Kita masih dapat mendengar azan, mengambil air wudu, dan bersujud di hadapan-Nya.

Di antara orang-orang yang dahulu duduk bersama kita di masjid ini, mungkin ada yang kini telah kembali kepada Allah. Ada orang tua kita, sahabat kita, atau tetangga kita yang dahulu masih dapat mengucapkan salam, tetapi sekarang hanya dapat kita kirimi doa. Sementara kita masih diberi umur. Karena itu, kesempatan hari ini sungguh berharga. Masih ada waktu untuk memohon ampun. Masih ada waktu untuk meminta maaf. Masih ada waktu untuk memperbaiki diri, sebelum perjalanan kita di dunia berakhir.

Di tengah kesibukan hidup, kita sering kelelahan mengurus banyak hal. Kita memikirkan nafkah, pendidikan anak, pekerjaan, kesehatan, dan masa depan keluarga. Semua itu merupakan tanggung jawab yang perlu kita jalankan. Namun, di tengah kesibukan tersebut, ada yang juga memerlukan perhatian kita: jiwa kita sendiri, nafs kita sendiri.

Pernahkah kita duduk sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: “Bagaimana keadaan hatiku hari ini?” “Mengapa aku begitu mudah marah?” “Mengapa aku sulit ikut bahagia ketika orang lain mendapat nikmat?” “Mengapa aku ingin dihargai, tetapi sering melukai orang-orang yang menyayangiku?” Pertanyaan-pertanyaan ini patut kita bawa ke dalam hati. Sebab, terkadang orang yang paling sering menerima luka dari ucapan kita justru orang yang paling dekat dengan kita. Di luar rumah kita mampu tersenyum dan berbicara lembut. Namun, ketika pulang, istri, suami, anak, atau orang tua kita menerima wajah yang keras dan kata-kata yang tajam. Marilah kita bertanya dengan jujur: sudahkah orang-orang di rumah merasakan kebaikan akhlak kita?

Allah SWT Berfirman,

 “Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 7–10).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa jiwa perlu dirawat. Kesombongan, iri hati, keserakahan, dan kebencian dapat tumbuh ketika kita membiarkannya. Kita tentu merasa tidak nyaman apabila pakaian kita kotor. Kita segera membersihkannya. Namun, ketika hati kita dipenuhi kedengkian, terkadang kita membiarkannya berhari-hari, bahkan bertahun-tahun.

Ada pertengkaran kecil yang terus kita simpan. Ada saudara yang lama tidak kita sapa. Ada kesalahan orang lain yang selalu kita ingat, sementara kesalahan sendiri mudah kita lupakan. Betapa beratnya hidup ketika hati terus memikul kebencian. Marilah kita memohon kepada Allah agar diberi kekuatan untuk melepaskan dendam, memperbaiki hubungan, dan menjaga hak sesama. Apabila ada kezaliman yang perlu diselesaikan, tempuhlah dengan adil, tanpa membiarkan kebencian menguasai seluruh hidup kita.

Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din bahwa nafs dapat menunjuk pada dorongan syahwat dan amarah, serta dapat pula menunjuk pada diri atau jiwa manusia yang berubah sesuai dengan keadaan batinnya. Penjelasan ini mengajak kita mengenali diri dengan lebih jujur. Dalam diri kita ada keinginan, ada kemarahan, dan ada kemampuan untuk memilih serta memperbaiki diri.

Kita ingin hidup berkecukupan. Keinginan itu dapat mendorong kita bekerja dengan sungguh-sungguh. Tetapi kita perlu menjaga agar keinginan tersebut tidak membuat kita mengambil hak orang lain. Kita ingin dihormati. Namun, kita perlu belajar menerima nasihat, mengakui kesalahan, dan menghormati orang yang kedudukannya lebih sederhana. Kita dapat merasa marah ketika diperlakukan tidak adil. Namun, kita tetap harus menjaga ucapan dan tindakan agar tidak melahirkan kezaliman yang baru.

Mendidik nafs berarti belajar memimpin diri sendiri. Belajar mengatakan, “Cukup,” ketika keinginan mulai berlebihan. Belajar menahan ucapan ketika amarah sedang memuncak. Belajar mengakui, “Saya salah,” ketika hati ingin terus membela diri.

Al-Qur’an menyebut keadaan jiwa yang dapat menjadi cermin bagi kita. Ada nafs al-ammarah bi al-su’, jiwa yang mendorong kepada keburukan. Allah SWT berfirman,

“Sesungguhnya nafs itu benar-benar menyuruh kepada keburukan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf [12]: 53).

Dorongan buruk sering datang disertai alasan yang terasa masuk akal. Ketika hendak berbohong, muncul bisikan, “Sekali ini saja.” Ketika hendak mengambil yang bukan hak kita, muncul alasan, “Aku sedang membutuhkan.” Ketika hendak menghina, muncul pembenaran, “Dia memang pantas mendapatkannya.” Apabila terus diikuti, kita dapat terbiasa melakukan kesalahan tanpa merasa bersalah. Karena itu, ketika hati masih merasa gelisah setelah berbuat dosa, jangan segera menutup kegelisahan tersebut dengan pembenaran. Berhentilah sejenak. Akui kesalahan itu di hadapan Allah. Mohonlah ampun dan perbaikilah apa yang dapat diperbaiki.

Ada pula nafs al-lawwamah, jiwa yang mencela dirinya atas kesalahan. Allah SWT berfirman,

“Dan Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 2).

Mungkin di antara kita ada yang sedang memikul penyesalan. Menyesal karena pernah membentak orang tua. Menyesal karena kurang memberikan perhatian kepada anak. Menyesal karena mengkhianati kepercayaan. Menyesal karena sudah lama menjauh dari ibadah. Saudaraku, bawalah penyesalan itu kepada Allah. Selama masih diberi kehidupan, bersungguh-sungguhlah untuk bertaubat. Apabila orang yang kita sakiti masih dapat kita temui, datanglah dan mintalah maaf. Apabila ada hak yang kita ambil, kembalikanlah. Apabila ada kewajiban yang kita abaikan, mulailah menunaikannya. Jangan menunggu hati terasa siap sepenuhnya. Mulailah dengan langkah yang dapat kita lakukan hari ini.

Kita mendambakan nafs al-muthma’innah, jiwa yang tenteram dalam ketaatan kepada Allah. Allah SWT berfirman,

 “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr [89]: 27–30).

Betapa kita berharap memperoleh panggilan yang penuh kemuliaan ini. Setelah panjangnya perjalanan hidup, setelah lelah mencari nafkah, setelah menghadapi berbagai kehilangan dan ujian, kita berharap dapat kembali kepada Allah dengan jiwa yang Dia ridai. Ketenteraman itu kita usahakan sejak sekarang. Dengan menjaga ibadah, mencari rezeki yang halal, menunaikan amanah, dan belajar menerima ketentuan Allah. Orang yang tenteram tetap dapat menangis ketika kehilangan. Ia tetap dapat merasa takut menghadapi kesulitan. Namun, di tengah semua itu, ia berusaha menjaga kepercayaan kepada Allah dan terus menjalankan kewajibannya.

Bagaimana kita memulai perjalanan memperbaiki jiwa? Imam Al-Ghazali, dalam pembahasannya tentang riyadhat al-nafs, mengajarkan bahwa akhlak dapat diperbaiki melalui latihan dan kesungguhan. Artinya, kita memiliki tanggung jawab untuk berubah. Kebiasaan buruk yang sudah lama melekat tetap perlu kita hadapi dengan sabar. Apabila kita kikir, berlatihlah memberi, meskipun sedikit. Apabila kita sombong, belajarlah mendengarkan orang lain. Apabila kita mudah marah, berlatihlah menahan ucapan sampai pikiran kembali jernih.

Dalam keseharian, latihan itu tampak sederhana: mengucapkan terima kasih, meminta maaf tanpa menambahkan pembelaan diri, mendengarkan anak sampai selesai berbicara, atau menyapa saudara yang selama ini kita jauhi. Tindakan-tindakan kecil tersebut dapat menjadi awal perubahan yang berarti.

Ibn Miskawaih, dalam Tahdzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A‘raq, menjelaskan pentingnya keseimbangan daya pikir, daya keinginan, dan daya amarah. Daya-daya jiwa yang terdidik melahirkan kebijaksanaan, kemampuan menjaga diri, keberanian, dan keadilan. Dari pandangan ini kita belajar untuk memberikan tempat bagi pertimbangan yang jernih sebelum bertindak. Ketika marah kepada anak, pikirkanlah akibat ucapan kita terhadap hatinya. Ketika tergoda memperoleh keuntungan, periksalah apakah caranya halal. Ketika diberi kekuasaan, ingatlah orang-orang yang haknya berada dalam tanggung jawab kita. Ada keputusan yang hanya memerlukan beberapa detik, tetapi akibatnya dapat dirasakan orang lain selama bertahun-tahun. Karena itu, berhati-hatilah ketika berbicara dan bertindak.

Rasulullah SAW bersabda,

 “Orang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat. Orang kuat ialah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhari).

Mari kita renungkan hadis ini. Betapa besar kekuatan yang diperlukan untuk menahan kata-kata yang sudah hampir keluar dari mulut. Betapa besar keberanian yang diperlukan untuk mengakui kesalahan di hadapan istri, suami, anak, atau bawahan kita. Namun, dari kesediaan itulah hubungan dapat diperbaiki. Orang yang kita sayangi dapat kembali merasa aman berada di dekat kita. Jangan sampai keluarga selalu berhati-hati berbicara karena takut terhadap kemarahan kita. Jadikanlah kehadiran kita membawa kasih sayang dan ketenteraman.

Sepulang dari masjid ini, marilah kita membawa satu niat yang sungguh-sungguh: memperbaiki satu perkara dalam diri kita. Apabila selama ini salat kita sering terlambat, mulailah menjaganya. Apabila lisan kita sering menyakiti, mulailah menahannya. Apabila kita sedang berselisih dengan saudara, carilah jalan untuk memperbaiki hubungan. Malam nanti, sebelum tidur, luangkanlah waktu sejenak untuk memeriksa diri:“Ya Allah, siapa yang telah aku sakiti hari ini?” “Amanah apa yang belum aku tunaikan?” “Kebaikan apa yang dapat aku lakukan esok hari?” Lalu mohonlah pertolongan Allah. Sebab, kita mengetahui betapa lemahnya diri kita tanpa bimbingan-Nya.

Rasulullah SAW mengajarkan doa yang artinya:

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaannya dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah pelindung dan penguasanya.” (HR. Muslim).

Kelak, ketika perjalanan kita di dunia sampai pada akhirnya. Rumah yang kita tinggali akan kita tinggalkan. Harta yang kita kumpulkan akan berpindah tangan. Jabatan yang kita pegang akan diteruskan orang lain. Sebelum saat itu tiba, marilah kita menggunakan umur ini untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama. Semoga ketika orang-orang terdekat mengingat kita, mereka mengingat kasih sayang, kejujuran, dan kebaikan yang pernah kita berikan. Semoga Allah mengampuni kekurangan kita, menerima taubat kita, dan membimbing langkah kita. Aamiin YRA. (Cirebon, 16 Oktober 2026)

Follow Sosial Media At Taqwa :

Berita Terkait

MEMBANGUN MASYARAKAT YANG RELIGIUS, HARMONIS DAN PEDULI

MEMBANGUN MASYARAKAT YANG RELIGIUS, HARMONIS DAN PEDULI

Oleh, Dr. H. Anisul Fuad, M.Si (Dosen UIN SIBER Syekh Nurjati Cirebon) Pendahuluan Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana membangun hubungan yang baik dengan sesama manusia. Kedua hubungan...