Oleh: H. Ahmad Khomaini Syafeie, M.Ag

 

Segala puji hanya milik Allah Swt. Tuhan yang menjadikan ramadhan sebagai bulan ibadah puasa, bulan penuh rahmat, maghfiroh dan berkah. Salah satu keberkahan bulan ramadhan adalah ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu malam yang dikenal dengan malam ketetapan, malam keberkahan atau lailatul qadar. Sepatutnya kita bersyukur atas semua limpahan nikmat dan karunia-Nya terkhusus nikmat diberi kesempatan menghirup udara ramadhan 1442 H hingga saat ini Jumat, 18 Ramadhan. Dengan iringan doa semoga Amaliyah shaum Ramadhan kita dan amaliyah yang lainnya yang sudah dilaksanakan diridloi oleh Allah Swt. dan terus berdoa semoga kita bisa meningkatkan dan mengoptimalkan ibadah kita hingga akhir ramdhan tak terkecuali meraih lailatul qadar Aamiin.

Shalawat dan salam mari kita sanjungkan kepada baginda Rasulullah SAW,  keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia meneladani beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah, dan kelak di akhirat kita mendapat  syafaat dari beliau atas ijin Allah Swt. Aamiin

Kehadiran malam lailatul qadar yang menurut para ulama pasti akan datang, sangat ditunggu-tunggu oleh para hamba-hamba yang “berburu” kemuliaan di malam itu.

Frasa Lailatul Qadar atau Lail al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ, malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadhan, yang dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an.

Allah Swt. melalui rasul-Nya dan diteruskan oleh para pewarisnya yakni para ulama bahwa di dalam bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah ini, terdapat satu malam yang dikenal dengan  Lailatul Qadar, malam penentuan atau ketetapan yaitu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Pada malam yang penuh berkah itu, semua urusan manusia atau hamba-hamba yang “berjuang” dan “berburu” keberkahan lailatul qadar bisa merubah dan memperbaiki “takdir” jalan dan kualitas hidup yang lebih baik lagi.   Di antara kemuliaan malam tersebut ditandai dengan malam yang penuh keberkahan sebagaimana Allah berfirman dalam QS Ad Dukhan (44):3-4

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. Dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”.   Malam yang diberkahi ini dijelaskan secara detail dan jelas dalam satu surat khusus yakni Surat Al-Qadr:  

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar”.

Adapun terkait kapan Lailatul Qadar itu terjadi, ada beberapa riwayat yang perlu dicermati. Di antaranya, pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan” (HR. Bukhari)

Namun turunnya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi SAW:

“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Turunnya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan Ramadhan itu ditekankan lagi dalam hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi SAW bersabda:

 “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia lemah atau letih, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa” (HR. Muslim).

Tampaknya tidak ada yang pasti, atau memang ini menjadi misteri rahasia Yang Maha Kuasa. Ada yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh sahabat Ubay bin Ka’ab RA. Ada yang mengatakan, karena diambil dari jumlah huruf ليلة القدر sebanyak 9 huruf, dan disebut tiga kali dalam QS. Al-Qadar. Jadi, 9×3 = 27 kali. Berarti malam lailatul qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan. Pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat tersebut adalah pendapat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, tergantung kehendak Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:

Carilah ia (lailatul qadar) di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada malam ke sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa”  (HR. Bukhari).

Tampaknya Allah memang menyembunyikan tentang kapan terjadinya malam lailatul qadar secara pasti. Sebab jika diinformasikan secara pasti, seseorang tidak lagi semangat beribadah di malam lain.  Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencari dan berburu malam kemuliaan tersebut. Berburu dan mencari malam lailatul qadar adalah  bentuk kesyukuran hamba terhadap rahmat Allah dengan memperbanyak amalan ibadah di malam-malam tersebut.  Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini.

Adapun tanda lahiriyah tentang malam lailatul qadar berdasarkan sabda Rasulullah SAW di antaranya pertama, udara dan angin terasa tenang. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda:

“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan” (HR. Ath-Thayalisi).

Tanda kedua adalah malaikat turun membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada malam-malam lain.

Tanda ketiga, manusia tertentu dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat. Tanda keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih dan sejuk.   hal ini juga sesuai dengan hadits Rasulullah dari Ubay bin Ka’ab bahwa Rasulullah SAW bersabda : ”Shubuh dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik” (HR. Muslim).

Dari sekarang hingga  sepuluh hari terakhir nanti di bulan ramadhan ini, mari kita ikhtiarkan untuk bisa berusaha memantaskan diri untuk memndapatkan malam keberkahan (Lailatul qadar) dengan memohon kepada Allah Swt. kemantapan iman, kesehatan badan, keluasan dan kedalaman wawasan terutama terkait pemahaman tentang lailatul qadar dan mampu mengoptimalkan ibadah di malam tersebut.

Adapun metode atau cara untuk meraih lailatul qadar yang direkomendasikan adalah melalui i’tikaf di masjid. Namun jangan khawatir karena i’tikaf di masjid adalah salah satu cara untuk mendapatkan lailatul qadar. Bagi yang tidak bisa atau udzur melakukan i’tikaf di masjid maka bisa mengoptimalkan ibadah di malam tersebut dimana pun. Karena inti dari lailatul qadar adalah mendapatkannya. Dan hak prerogratif Allah Swt. kepada siapa kesempatan itu diberikan. Semuanya itu yang tertinggi adalah rasa nikmat berkhalwat (interaksi intens)dengan Allah Swt. salah satu cara Allah Swt untuk mewujudkannya via lailatul qadar. Semoga kita pantas mendapatkan malam penuh berkah tersebut sehingga Allah Swt. akan merubah hidup kita menjadi lebih baik dan lebih berkualitas. Hanya kepada Allah lah kita menuju dan menggapai keridhaan-Nya. Wallahu a’lam bishawab