Oleh, Dr, KH. Abdul Hayi Imam, M.Ag
(Ponpes Gedongan Cirebon)
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jumat yang Dirahmati Allah Swt.
Mengawali khutbah ini, mari kita memanjatkan puji, dan bersyukur kepada Allah Swt. atas segala nikmat lahiriah dan bathiniah. Sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada baginda Nabi agung Muhammad Saw, kepada para keluarganya, sahabatnya serta para pengikutnya. Mudah-mudahan di yaumil akhir, kita diakui sebagai ummatnya.
Salah satu rukun khutbah adalah khotib wajib berwasiyat taqwa “Marilah kita terus berupaya secara maksimal menjalankan imarot (segala perintah Allah) dan menjauhi serta meninggalkan nahiyat (segala larangan-Nya). Baik yang bersifat qolbiyah (hati), qouwliyah (tutur kata, dan ucapan), maupun fi’liyyah (perbuatan, perilaku, Tindakan dan kebijakan). Yang Lazim disebut At-Taqwa).
Sahabat Ibnu Mas’ud RA. Berkata “Taqwa kepada Allah itu agar Allah tidak dilanggar aturan-Nya, diingat bukan dilupakan, disyukuri nikmat-Nya dan bukan diingkari.
Hadirin Rahimakumullah.
Sesungguhnya hidup yang kita jalani hari ini hanyalah “Hayatu Al-fanaiyyah” (kehidupan yang rusak akan berakhir). Allah Swt. Berefirman QS. Ali ‘Imran: 185
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamatlah pahala kalian disempurnakan”.
Jamaah Jumuah yang Dirahmati Allah,
Kita boleh mempunyai rumah megah, indah, tetapi rumah itu akan kita tinggalkan. Kita boleh mempunyai jabatan tinggi, tetapi jabatan itu akan kita tinggalkan. Kita boleh mempunyai harta, tetapi harta itu akan berpindah tangan. Kita boleh mempunyai keluarga ; Istri, Anak, Menantu, bahkan Cucu yang kita cintai, tetapi suatu saat kita akan berpisah dengan mereka. Yang kita bawa bukan rumah kita, bukan jabatan kita, bukan harta kita. Yang kita bawa adalah amal kebajikan kita.
Rasulullah Saw mengingatkan :
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing, atau seorang musafir” ( HR. Bukhori )
Seorang musafir tidak membangun rumah untuk selamanya di tempat persinggahan. Ia mempersiapkan bekal oleh-oleh untuk sampai tujuan.
Demikian pula kita. Dunia adalah tempat singgah sementara, akhirat adalah tempat tinggal abadi. Dunia adalah tempat beramal, akhirat adalah tempat menerima hasil dan pahala kebajikan.
Dunia adalah “Hayatu al-Fanaiyyah” sedangkan akhirat adalah “Hayatu al-Abadiyyah” Allah Swt. Berfirman : (QS.Al-‘Ankabut:64).
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui”.
Jamah yang Dimulyakan Allah
Setelah memahami bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan, marilah kita mengoreksi diri arah hidup kita. Yang perlu kita tanyakan bukan hanya : “Apa yang sudah saya dapatkan dalam hidup ini?” Tetapi yang lebih penting : “Apa yang sudah saya persiapkan untuk kehidupan setelah mati?”
- Sudahkah kita memperbanyak, dan memperbaiki Sholat?
- Sudahkah kita memperbaiki hubungan vertikal dengan Allah?
- Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti?
- Sudahkah kita mengembalikan hak orang lain?
- Sudahkah harta kita menjadi jalan menuju ridha Allah?
- Sudahkah kita meninggalkan amal yang kelak tetap mengalir pahalanya setelah kita tiada?
- Sudahkah kita mempersiapkan anak yang berkualitas (Benar aqidah, tauhid, dan keimanannya. Baik dalam beragama Islamnya. Mulia akhlaknya) yang kelak akan menjadi harapan kita mendoakan saat kita dalam ujian fitnah alam kubur dan akhirat?
Hadirin yang dimulyakan Allah
Selama kita masih hidup, pintu persiapan masih terbuka. Selama nafas masih ada, taubat masih sangat mungkin. Selama jantung masih berdetak, amal masih bisa bertambah. Selama nadi masih berdenyut, pintu maaf masih banyak kesempatan.
Tetapi ketika ajal kematian datang, kesempatan itu berakhir tak bisa ditunda walau sesaat, dan tak bisa didahulukan. Maka jangan sampai kita sibuk memperbaiki kehidupan yang sementara ( Hayatu Al-Fanaiyyah ) tetapi lupa mempersiapkan kehidupan yang abadi ( Hayatu Al-Abadiyyah ).
“Allahummaj’al khoyro a’marinaa aakhiroha, wa khoiyro a’maalinaa khowaatimahaa, wa khoiyro ayyaaminaa yauma nalqookak”
Jamaah yang Allah Rahmati Allah
Ada satu kenyataan yang tidak bisa kita hindari “Kullunaa Sanamuutu” (Kita semua akan mati). Yang membedakan kematian kita adalah ( Apa yang kita bawa ketika kematian datang? ).
Karena itu “Mari kita jadikan sisa umur sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal sholih, memperbaiki ibadah, mempererat silaturahmi, memaafkan dan meminta maaf kesalahan, menjaga tutur kata dan lisan, menolong sesama, dan memberi manfaat bagi umat manusia. Jangan menunggu tua dan udzur untuk bertaubat. Jangan menunggu sakit untuk mendekat kepada Allah. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai nikmat”. Karena kita tidak tahu “Mana yang lebih dahulu datang ; hari tua atau kematian?”. Mari kita gunakan Hayatu Al-Fanaiyyah) untuk (Hayatu Al-Abadiyyah). Semoga ketika kehidupan dunia berakhir, kita memperoleh kehidupan akhirat yang penuh rahmat, ampunan dan ridha Allah.
Demikian khutbah singkat ini semoga memberi manfaat bagi kita semua.









