HATI SEBAGAI RAJA (PUSAT KENDALI) Oleh : Dr. KH. Toto Santi Aji, M.Ag

Jan 29, 2026 | Artikel Islam, Kegiatan Attaqwa Cirebon

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Kelebihan manusia dari makhluk- makhluk Allah yang lain dilihat dari berbagai segi, sisi dan dimensi. Allah anugrahi manusia dengan jasad yang sempurna, kemampuan berpikir yang baik, jiwa yang bisa memastikan nilai- nilai benar dan salah, juga baik dan buruk, serta merasakan dimensi spiritual dalam jiwa.

Secara garis besar manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasad dan ruh, dalam istilah lain fisik dan non-fisik. Adapun secara lebih rinci unsur-unsur dalam diri manusia terdiri dari jasad (fisik), akal, jiwa dan ruhani (ruh).

Imam al-Ghazali berpendapat bahwa nafs (jiwa), ruh (ruhani), qalbu (hati) dan aql (akal) itu bermakna satu. Dalam hal ini nafs (jiwa), ruh (ruhani) dan aql (akal) adalah sesuatu yang bermuara dalam qalbu (hati). Oleh sebab itu qolbu (hati) harus menjadi sentral pembinaan, pendidikan atau terapi karena didalamnya ada dimensi nafs (jiwa), ruh (ruhani) dan aql yang terintegrasi.

Nabi Muhamad saw berasbda,

“Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah/daging yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati”. (HR. Bukhari)

Hadits di atas menunjukan bahwa hati adalah sumber kendali atau inti dari keberadaan manusia, yang menentukan baik buruknya perilaku dan kehidupan manusia tersebut. Oleh sebab itu untuk mendidik dan menterapi manusia agar terjadi perubahan perilaku dan kehidupannya menjadi lebih baik harus dimulai dari hati.

Bahkan kondisi hati menjadi cerminan keimanan bagi seseorang. Pada saat dzikir mampu menyentuh hati secara terus-menerus hingga memberikan bekas yang kuat maka hati tersebut akan mudah menerima ayat-ayat Allah dengan penuh keimanan.

Dalam sebuah ayat Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut (didzikirkan atau diingatkan) nama Allah gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal,” (QS. AlAnfal [8] : 2)

“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami baru berislam’ karena iman (yang sebenarnya) belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu.” Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat [49] : 14)

Dalam ayat berikutnya Allah berfirman,

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar- Ra’d [13] : 28)

Ayat berikutnya 

“…. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih, mereka tunduk, sujud, dan menangis.” (QS. Maryam [19] : 58)

Mereka menyungkurkan wajah seraya menangis dan ia (Al-Qur’an) menambah kekhusyukan mereka.” (QS Al Isra [17} : 109)

Berdasarkan hadits dan ayat-ayat di atas menunjukan bahwa hati (qolbu) adalah raja yang berkuasa atas diri manusia, dimana hatilah yang akan menentukan gerak langkah perbuatan manusia, hati menjadi instrument terhantarnya ayat dalam jiwa dan tumbuhnya keimanan, serta hati mampu menghadirkan suasana ketenangan dalam diri manusia melaui dzikrullah (mengingat Allah). Adapun dzikrullah meliputi : Menyebut asma-asma Allah, membaca Al Qur’an, sholat, mengingat kematian dan hari pembalasan, mentadaburi alam, mentafakuri kehidupan dan segala hal yang dapat mengingatkan kita kepada Allah. Dari semua itu, dzikir yang paling utama adalah sholat. Sholat adalah Dzikrullahu Akbar (Dzikir yang paling besar). Dan setiap dzikir yang terhantar dalam hati akan menumbuhkan ketenangan, kelapangan, kesyahduan, kekhusyu’an hingga bertambahnya keimanan. Oleh karena itu ketenagan, kedamaian dan kebahagiaan hidup terletak dalam hati yang berdzikir bukan kepada fenomena dunia yang penuh dengan tipu daya.

Allah berfirman,

 “Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. AlFath [48] : 4)

Maka dapat disimpulkan bahwa, hati sebagai pusat kendali (raja), yang akan menentukan baik-buruknya, benar-salahnya, hingga Bahagia atau tidaknya kehidupan manusia. Wallahu’alamu bishshowaab.***

Follow Sosial Media At Taqwa :

Berita Terkait

Niat Puasa Ramadhan Lengkap dengan Doa Berbuka Puasa

Niat Puasa Ramadhan Lengkap dengan Doa Berbuka Puasa

Niat puasa Ramadhan menjadi bagian paling mendasar dalam ibadah puasa yang sering dianggap sepele, padahal memiliki peran sangat menentukan sah atau tidaknya puasa seseorang. Banyak umat Islam yang sudah terbiasa berpuasa setiap tahun, namun belum sepenuhnya memahami...

TATKALA HARTA DAN JABATAN MENGGERUS HIDAYAH

TATKALA HARTA DAN JABATAN MENGGERUS HIDAYAH

Harta dalam bahasa arab disebut “Mal”, oleh karenanya zakat harta disebut juga dengan istilah “Zakat Mal”. Kata bahasa arab “Maala – Yamiilu” artinya cenderung. Maka harta itu dalam bahasa arab disebut “Mal” karena manusia secara naluriah cenderung kepada harta...

SEBAIK-BAIKNYA BEKAL ADALAH TAQWA Oleh: H. Didin Nurul Rosidin KHUTBAH JUM’AT MASJID RAYA AT-TAQWA KOTA CIREBON

SEBAIK-BAIKNYA BEKAL ADALAH TAQWA Oleh: H. Didin Nurul Rosidin KHUTBAH JUM’AT MASJID RAYA AT-TAQWA KOTA CIREBON

KHUTBAH JUM’AT MASJID RAYA AT-TAQWA KOTA CIREBON 17 OKTOBER 2025 Oleh: H. Didin Nurul Rosidin SEBAIK-BAIKNYA BEKAL ADALAH TAQWA Khutbah I الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمُنْعِمِ عَلَى مَنْ أَطَاعَهُ وَاتَّبَعَ رِضَاهُ، الْمُنْتَقِمِ مِمَّنْ خَالَفَهُ وَعَصَاهُ، الَّذِى يَعْلَمُ...

Pin It on Pinterest

Share This