Oleh:Dr. Alvien Septian Haerisma, SEI., MSI
(Dosen Pascasarjana UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon &
Owner dan Founder ASHA MANAGEMENT)
Pada kesempatan yang mulia ini, Alfaqir mengajak kepada hadirin semua, tak terkecuali kepada diri saya sendiri untuk selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT. Ajakan ini bermakna bahwa kita harus terus berupaya sekuat tenaga untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara memacu semangat kita dalam beribadah. Taat atas perintah-perintah-Nya dan tunduk atas segala hal yang telah dilarang Allah SWT. Dengan begitu, arti takwa benar-benar bermakna untuk kita, memiliki efek positif, berubah menjadi hamba lebih baik lagi.
Rezeki dari Allah SWT adalah segala bentuk kebaikan yang dialirkan kepada hamba-Nya, bukan hanya berupa harta, tetapi juga kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang penuh kasih, ilmu yang bermanfaat, waktu yang berkah, hingga kesempatan untuk tetap beriman dan beribadah kepada-Nya. Sering kali manusia hanya menghitung rezeki dari apa yang tampak di tangan, padahal ada begitu banyak nikmat Allah yang hadir diam-diam dalam hidup: tubuh yang masih kuat untuk sujud, hati yang masih lembut untuk bersyukur, dan jalan hidup yang masih diberi kesempatan untuk kembali kepada-Nya. Karena itu, kebijaksanaan seorang hamba adalah belajar melihat rezeki dengan mata syukur, bukan hanya dengan ukuran dunia. Sebab rezeki yang paling indah bukan selalu yang melimpah jumlahnya, melainkan yang mendatangkan keberkahan, menjaga hati dari keluh kesah, dan membuat hidup semakin dekat kepada Allah SWT, Sang Pemilik langit dan bumi, yang memberi bukan hanya sesuai keinginan kita, tetapi sesuai dengan apa yang paling kita butuhkan.
Khotib menyampaikan terdapat “4 Tingkatan Rezeki” dari Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi banyak dikutip dan ditulis dalam kitab beliau yang berjudul “Tilka Hiya al-Arzaq” dan kitab magnum opusnya, “Tafsir Khawatir al-Sya’rawi”.
4 Tingkatan Rezeki itu sebagai berikut, diantaranya:
Pertama, rezeki berupa harta.
Uang: Ini adalah tingkat penghidupan terendah.
Rezeki berupa harta benda merupakan tingkatan dasar, sehingga semua orang bisa meraih rezeki tersebut. Baik itu hamba yang taat maupun yang ingkar. Rezeki berupa harta dan uang adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah yang paling mudah terlihat oleh mata, namun sejatinya ia merupakan tingkatan rezeki yang paling dasar dalam kehidupan manusia. Sebab rezeki dalam bentuk materi bisa diberikan kepada siapa saja, baik kepada hamba yang taat maupun yang masih jauh dari ketaatan. Harta hanyalah titipan, bukan tujuan; ia adalah sarana untuk menjemput keberkahan, bukan alasan untuk meninggikan diri.
Allah swt berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Mulk ayat 15 bahwa bumi diciptakan dengan mudah untuk dijelajahi dan diambil rezekinya oleh seluruh makhluk-Nya:
Dialah yang menjadikan untuk kamu bumi yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan (QS Al-Mulk 29: 15).
Kedua, rezeki berupa kesehatan.
Kesehatan: Ini adalah tingkat penghidupan tertinggi.
Kesehatan, masuk ke dalam rezeki yang luhur, karena kesehatan sangatlah mahal. Dengan sebab Sehat, manusia mampu beribadah, bekerja, menebar manfaat, dan menikmati setiap nikmat Allah dengan tubuh yang kuat serta jiwa yang lapang. Sering kali kesehatan baru terasa begitu mahal ketika ia mulai berkurang, maka mensyukurinya dengan menjaga tubuh, menenangkan pikiran, dan menggunakan hidup untuk kebaikan adalah bentuk kebijaksanaan yang menunjukkan bahwa kita memahami betapa agungnya karunia Allah tersebut.
Umat Islam juga dianjurkan untuk selalu bersyukur kepada Allah swt ketika diberi kesehatan walaupun mungkin hartanya sedang terbatas.
Rasulullah saw bersabda di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad: Tidak mengapa seseorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat (HR. Ibnu Majah No 2141 dan Ahmad 4/69).
Ketiga, rezeki berupa keturunan saleh.
Kebaikan anak-anak: itulah penghidupan yang terbaik.
Memiliki anak-anak saleh adalah salah satu bentuk penghidupan terbaik yang Allah titipkan kepada hamba-Nya, karena kehadiran mereka bukan hanya menjadi penyejuk mata di dunia, tetapi juga harapan doa, amal jariyah, dan kebahagiaan yang terus mengalir hingga akhirat. Anak yang tumbuh dalam iman, akhlak, dan kasih sayang adalah rezeki yang nilainya jauh melampaui harta, sebab dari lisannya yang mendoakan orang tua, dari langkahnya yang menebar kebaikan, tersimpan keberkahan hidup yang tidak akan pernah putus.
Begitupun dengan doa yang dilantunkan Nabi Ibrahim as untuk meminta keturunan yang saleh juga disebutkan dalam Al-Qur’an, sebagaimana surat Ash Shaffaat 23, ayat 100, yang berbunyi:
Artinya: Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.
Keempat, rezeki berupa Ridha Allah SWT.
Keridhaan Tuhan semesta alam adalah rezeki yang lengkap.
Rezeki berupa ridha Allah swt merupakan puncak dan kesempurnaan segala rezeki, sebab ketika seorang hamba telah mendapat ridha-Nya, maka hidupnya akan dipenuhi ketenangan, langkahnya diberkahi, hatinya dilapangkan, dan seluruh nikmat dunia terasa lebih bermakna karena bermuara pada cinta serta kedekatan kepada Sang Pemilik segala kehidupan.
Karena tidak semua makhluk Allah mendapatkan ridha-Nya. Karena ridha Allah hanya diberikan kepada hamba yang beriman dan taat kepada-Nya. Maka beruntunglah hamba yang mendapatkan rezeki berupa ridhanya Allah swt. Karena ketika Allah sudah ridha dengan hamba, maka jaminannya adalah surga.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Taubah 9: Ayat 72:
Artinya: Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung (QS At-Taubah: 72).
Allah SWT berfirman dalam QS. Asy-Syura ayat 27:
“Sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.
Hubungan Ikhlas, Sabar dan Ridha
Keikhlasan dan kesabaran adalah fondasi ketenangan jiwa dalam menjalani hidup, di mana puncak dari sebuah penerimaan adalah rasa ridha terhadap segala ketentuan-Nya.
Ikhlas adalah perbuatan lapang dada yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT tanpa mengharapkan imbalan atau pujian. Menanamkan sikap tulus ini membuat kita terbebas dari beban ekspektasi manusia. Saat kebaikan dibalas dengan kebaikan, kita bersyukur; namun saat tidak dihargai, hati kita tetap damai karena tujuan amal kita murni hanya mencari rida Allah.
Dalam mengarungi kehidupan, sabar menjadi kunci utama untuk menghadapi segala ujian, cobaan, dan musibah. Sabar menahan jiwa dari keluh kesah dan menjaga langkah kita agar tetap berada di jalan kebaikan. Dengan kesabaran yang kuat, setiap kesulitan yang datang akan terasa lebih ringan karena kita menyadari bahwa setiap ujian pasti ada hikmahnya.
Puncak dari kesabaran adalah sikap ridha, yakni kerelaan penuh dalam menerima segala qadha dan qadar (ketetapan dan takdir) dari Allah. Ketika seseorang telah mencapai tingkat ridha, ia tidak lagi mempertanyakan mengapa suatu musibah terjadi. Ia meyakini bahwa apapun takdir yang tertulis adalah skenario terbaik yang Allah berikan untuk kehidupannya di dunia maupun akhirat.
Doa yang selalu kita kumandangkan seperti:
Rodhitu billahi robba wabil islami dina wabi muhammadin nabiyya warasula, rabbii zidnii ‘ilmaan warzuqnii fahmaan.
Artinya: Aku ridha Allah SWT sebagai Tuhanku, dan Islam sebagai agamaku, dan Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasulku. Ya Allah tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku pemahaman yang baik.
Demikianlah khutbah Jumat singkat ini, semoga ada hikmah dan faedah dalam kehidupan kita sehari-hari. Rezeki sudah ditetapkan oleh Allah SWT, hanya kita manusia menjemputnya dengan Ikhlas, dengan pentingnya bersabar dan sikap Ridha berbaik sangka kepada Allah SWT. Aamiin.







