T A U B A T
Oleh, Prof. Dr. K.H. Farihin Nur, M.Pd.
(Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon
dan Guru Besar UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon)
Taubat itu wajib dilakukan oleh hamba Allah dari segala macam dosa, termasuk kemaksiatan yang dilakukan seorang hamba kepada Allah yang tidak terkait dengan hak-hak anak cucu Adam. Taubat memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi agar bisa diterima oleh Allah SWT.
Pertama, berhenti dari maksiat. Kedua, menyesali perbuatannya. Ketiga, berjanji untuk tidak mengulangi kembali perbuatan buruknya. Jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, maka taubat dianggap tidak sah.
Jika kemaksiatan itu terjadi berkaitan dengan hak-hak anak cucu Adam maka syarat taubatnya menjadi empat, yakni tiga yang disebutkan tadi dan ditambah satu lagi yaitu minta pembebasan dari hak pemiliknya, jika berupa harta atau benda dan sejenisnya maka dikembalikan kepada pemiliknya, jika berupa tuduhan maka harus meminta maaf kepadanya, dan jika berupa pergunjingan atau ghibah maka harus meminta meminta maaf kepada orang yang dibicarakan. Taubat menjadi wajib hukumnya, saat seseorang melakukan dosa. Jika seseorang bertaubat dari sebagian dosa maka sah taubatnya, namun masih tersisa baginya sebagian dosa yang lain.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 31 :
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, semoga kamu beruntung”.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Huud ayat 3 :
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya”.
Ayat tersebut mengandung makna bahwa wajib hukumnya bagi kita untuk senantiasa beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadis dari Sahabat Abi Hurairah R.A, dia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Demi Allah sesungguhnya aku beristighfar memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali”. (Hadis riwayat Imam Bukhari).
Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda :
“Wahai manusia bertaubatlah kamu kepada Allah dan beristighfarlah kepada-Nya, maka sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali”.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim diceritakan, bahwa Allah lebih senang dengan taubat hambanya ketika dia bertaubat daripada seseorang yang berada di atas rahilah atau tunggangannya di bumi antah berantah, kemudian tunggangannya tersebut lepas darinya termasuk makanan dan minuman yang dibawanya, dia putus asa kemudian mencari pohon dan bernaung di bawahnya, dia betul-betul putus asa dengan kepergian tunggangannya tadi. Selang beberapa waktu kemudian, tiba-tiba tunggangannya kembali dan berdiri di depannya. Ia pun memegang tali kendali tunggangannya itu. Lalu berkata dengan penuh kebahagiaan “Wahai Tuhan. Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhanmu”. Karena sangat bahagia, ia mengucapkan kalimat yang salah. “Aku adalah Tuhanmu”.
Peristiwa ini merupakan sebuah metafora yang menggambarkan bagaimana rasa senangnya Allah terhadap hambanya yang taubat melebihi rasa senangnya si fulan tadi yang kehilangan tunggangannya di bumi antah berantah. Kemudian tunggangannya tersebut kembali kepadanya. Semoga kita bisa mengambil ibrah dari cerita tersebut. Wallahu ‘Alam.
Diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Sahabat Abi Sa’id Al Khudri, bahwa baginda Nabi bersabda: “Dahulu kala ada seorang laki-laki membunuh sembilan puluh sembilan orang, kemudian dia bertanya adakah orang yang paling alim di negeri itu. Lalu ditunjukkanlah ia untuk mendatangi seorang rahib atau pendeta. Ia pun menghampiri pendeta yang dimaksud untuk bertemu. Lelaki tersebut kemudian bercerita bahwa dirinya telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, dia bertanya:
“Apakah ada peluang baginya untuk bertaubat?”.
Pendeta menjawab: “Tidak ada”.
Si lelaki tersebut geram, lalu membunuh pendeta itu. Sehingga lengkaplah jumlah korbannya menjadi seratus orang yang dibunuh.
Kemudian dia bertanya, “Adakah orang alim lain di negeri ini?”.
Ia pun ditunjukkanlah kepada seorang laki-laki yang alim, kemudian dia menghadapnya, dia bercerita bahwa dirinya telah membunuh seratus orang sambil bertanya apakah ada peluang bagi dirinya untuk bertaubat?
Sang alim menjawab ada, pergilah kamu ke sebuah tempat, di sana ada sekelompok orang yang menyembah Allah maka ikutlah beribadah bersama mereka, jangan pernah kembali ke tempat asalmu karena itu adalah tempat yang buruk. Kemudian berangkatlah laki-laki tersebut dan baru sampai setengah perjalanan ajal kematian menjemputnya.
Melihat kejadian tersebut Malaikat rahmat dan Malaikat adzab berdebat. Berkata Malaikat rahmat, dia datang untuk bertaubat telah menghadapkan hatinya kepada Allah, dan Malaikat adzab berkata dia belum melakukan kebaikan apapun, kemudian datanglah Malaikat (lain) menemui mereka dalam wujud manusia untuk memutuskan persoalan tersebut sambil berkata, “Ukurlah antara dua jarak bumi, ke arah mana yang paling dekat, maka itulah haknya”.
Kemudian jarak langkah kaki si lelaki tersebut diukur dan ternyata jaraknya lebih dekat kepada tempat yang dituju yakni tempat peribatan, maka diambillah laki-laki tersebut oleh Malaikat rahmat, yang berarti bahwa taubatnya diterima oleh Allah SWT. Hadis ini sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Semoga kita dapat mengambil ‘ibrah/pembelajaran dari cerita tersebut. Wallahu ‘Alam.







