OPTIMIS DALAM MENGHADAPI MUSIBAH

Oleh, Dr. H. Sahrudin, M.Pd.I 

(Pengurus At-Taqwa Centre)

 

Macam- macam ujian dan musibah akan menimpa manusia. Apabila dirinya tidak ditimpa musibah, tentu akan menimpa anaknya, istrinya, atau anggota keluarga lainnya. Apabila musibah tidak menimpa diri, kadang-kadang menimpa harta. Harta yang dia miliki tiba-tiba lenyap, dicuri orang atau kebakaran. Apabila musibah itu tidak menimpa Harta, kadang-kadang menimpa pangkat atau kedudukan; sedang asyik-asyik dalam kebahagiaan, menduduki jabatan yang lumayan tiba-tiba dipecat atau diturunkan pangkat, atau dialih tugaskan.  Kadang-kadang juga musibah itu menimpa badan,  sedang sehat wal afiat tiba-tiba jatuh sakit. atau sedang aman dan tentram tiba-tiba perang,  manusia diliputi rasa takut, sandang pangan susah diperoleh, bahkan jumlah anggota keluarga berkurang. Terhadap semua musibah itu umat Islam harus bersikap sebagaimana yang diajarkan Allah yaitu sabar.

Sholat Jum’at Masjid Raya Attaqwa, 17 September 2021

Allah SWT.  berfirman:

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al- Baqarah: 155)

Allah memberi kabar gembira terhadap manusia yang mendapat musibah tetapi sabar dan berserah diri kepadanya disertai dengan doa:

” Ya Allah, semoga Engkau memberi pahala terhadap musibah yang menimpaku dan semoga Engkau menggantikannya dengan yang lebih baik.”

Orang-orang sabar itu kemudian berkata:

” Kami adalah milik Allah dan Sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya.”

 Allah berjanji terhadap orang-orang yang ditimpa musibah tetapi mereka sabar dengan berupa pahala, kebaikan, rezeki dan yang lebih baik.

Allah swt berfirman:

” Sesungguhnya hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar. 10)

Nabi Muhammad SAW , bersabda:

“Apabila kamu sekalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, Allah pasti memberi rezeki kepada kamu sekalian sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung yang berangkat pagi-pagi dari sarangnya dengan perut kosong, tetapi pulang sore dalam keadaan kenyang.” ( Riwayat Turmudzi)

Kewajiban kita adalah meyakinkan bahwa Allah tidak pernah mengingkari janji. Apabila   manusia benar-benar sabar dalam menerima berbagai macam musibah dan tawakal kepada Allah, maka Allah tidak akan membiarkan umatnya ada dalam kesengsaraan selama-lamanya. Apabila seorang muslim merasa terlalu lama berada dalam kesusahan atau musibah maka dia harus cepat-cepat meneliti diri atau intropeksi diri barangkali ada perbuatan dosa yang sering dilaksanakan atau belum sempat bertobat, sebab dosa yang terdapat dalam diri seseorang yang merupakan penghalang untuk memperoleh kebahagiaan, sebagaimana yang diminta dalam doanya. Marilah kita perhatikan Sabda Rasulullah SAW:

” Jauhilah oleh kalian perbuatan maksiat, karena sesungguhnya seorang hamba yang berbuat dosa akan tertutup rezekinya meskipun sudah ditawarkan kepadanya. ” (Riwayat Ahmad)

Sebaliknya apabila seseorang taat kepada Allah, menjauhi larangan-larangan-Nya akan mendapatkan pertolongan Allah, sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad SAW:

” Ada tiga macam manusia yang memiliki hak untuk mendapat Pertolongan Allah, yaitu: 1. Orang yang menikah karena takut melakukan zina. 2. Orang (hamba sahaya) yang menyicil utangnya dengan niat akan melunasi. 3. Orang yang bersedia untuk berjuang dijalan Allah.” (Riwayat Ahmad)

Macam-macam musibah dan kesulitan hidup bukan hanya dialami oleh umat Nabi Muhammad SAW, tetapi beliau pun pernah mengalami berbagai macam musibah dan kesulitan hidup; bahkan musibah yang menimpa Rasulullah ketika beliau sedang membutuhkan bantuan untuk menyebarkan Islam di Mekah. Pada tahun ke-10 dari ke-Nabian nya beliau di ditimpa musibah yang sangat berat, yaitu meninggalnya Siti Khodijah, istrinya, yang sangat dibutuhkan untuk menegakkan Islam didunia ini. Siti Khodijah satu-satunya wanita yang pertama memeluk Islam, seorang pejuang Islam yang mengorbankan harta dan kekayaannya untuk kepentingan Islam. Rasulullah Saw,  yang ditinggalkan merasa sedih, sebab Dia bukan hanya sebagai istri Rasulullah tetapi sebagai pejuang Islam. Namun Rasulullah Saw, menyerahkan nasibnya kepada Allah dengan cara Munajat dan Taqarrub kepada-Nya. Belum beres musibah yang satu, datang lagi musibah yang kedua, yaitu meninggalnya Abu Tholib, pamannya yang selalu membela. Selaku manusia Rasulullah tentu amat merasa sedih, kesedihan dan kesusahan yang menimpa beliau benar-benar diluar kemampuannya, bahkan kejadian itu hampir menghilangkan semangat beliau untuk melanjutkan perjuangan menegakkan Islam, agama Allah.

Setelah Rasulullah wafat, pimpinan negara dipegang oleh sahabat, Abu Bakar. Beliau pun tidak luput dari macam-macam ujian dan cobaan, bahkan cobaan itu tidak pernah dialami ketika Rasul masih hidup. Pada awal pemerintahan Abu Bakar, ujian yang pertama adalah adanya orang-orang murtad, kembali lagi kepada ajaran Jahiliyah; kembali adanya orang yang tidak mau membayar zakat dengan alasan karena Rasulnya sudah wafat. Lebih dari itu ada beberapa orang yang mengaku sebagai nabi pengganti Nabi Muhammad Saw.  Semua godaan ini dihadapi dengan tabah oleh Abu Bakar bahkan ditumpas habis, sehingga agama Islam tetap tegak. Semua itu tercapai karena ketawakalan, ketekunan, dan kesabaran Khalifah Abu Bakar ra. 

Untuk memperkuat diri agar bisa sabar dan tawakal, atau bisa mengatasi berbagai macam musibah yang menimpa kita, bahkan agar musibah itu jangan berlarut, maka selaku orang muslim harus memperhatikan beberapa perkara:

  1. Kuatkan iman kepada Allah, yakinlah bahwa musibah yang menimpa merupakan ujian terhadap iman kita, apabila lulus dari ujian Insya Allah iman kita akan meningkat.
  2.  Sabar,  dalam arti tahan ujian dan berusaha agar cepat bisa lepas dari bermacam-macam musibah dengan jalan yang diridhoi Allah.
  3. Tawakal kepada Allah, yaitu menyadari bahwa manusia hanya berusaha, sedangkan hasilnya bergantung kepada takdir Allah. Bahkan bertafakur lah bahwa segala yang menimpa kita adalah baik menurut Allah.
  4. Harus tetap tekun beribadah kepada Allah, jangan terganggu karena ditimpa musibah, sertailah dengan salat tahajud, salat hajat, dan istikharah sebagai permohonan kita kepada Allah.
  5. Perbanyaklah bersedekah, cintai fakir miskin, sebab bersedekah dan mencintai fakir miskin akan menolak bala.
  6. Ajaklah orang lain untuk Amar ma’ruf dan nahi munkar, sebab siksa Allah akan datang apabila manusia sudah melupakan Amar Ma’ruf dan nahi munkar.
  7. Perbanyak istighfar, sebab musibah itu kadang-kadang berhubungan dengan dosa manusia, jelasnya merupakan siksa, bukan ujian.
  8. Jauhi macam-macam maksiat, baik maksiat lahir maupun maksiat Kalbu.

Dengan cara demikian insya Allah kita bisa terlepas dari berbagai macam musibah.