attaqwacirebon.com-CIREBON. Selasa, 14 Juli 2020. Ada 32 santri putra dan 40 santri putri mukim RTQ At-taqwa yang terdaftar Tahun 2020. Untuk memulai kegiatan belajar, RTQ melaksanakan rapat orang tua santri. Kegiatan ini untuk memberikan penjelasan kepada orang tua dan santri tentang sistem belajar pada masa AKB.

Rapat ini dihadiri oleh Koordinator UKM At-taqwa Ust. H. Syaeful Badar, M.A., Ketua RTQ At-taqwa, dan Dewan Guru. Syaeful menjelaskan tentang sejarah At-taqwa terlebih dahulu. Masjid At-taqwa berdiri pada tahun 1905 M dengan nama Tajug Agung. Pada masa bupati pertama Cirebon Salmon Sulaiman Suryadiningrat. Seorang keturunan Jepara yang dipilih oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda saat itu. “Dia adalah yang mendesain adanya masjid, Alun-alun Kejaksan, dan pendopo” ujar Syaeful.

Tentu perkembangan At-taqwa telah jauh maju dengan banyaknya perubahan. RTQ adalah salah satu program At-taqwa yang merupakan lembaga pendidikan alquran dengan banyak peminat. Baik santri mukim atau reguler, telah banyak alumni yang berhasil menjadi hafidz dan hafidzoh. Setiap tahun, RTQ mewisuda santrinya lebih dari 100 orang.

Di masa AKB ini, RTQ berusaha untuk tetap mematuhi aturan pemerintah dengan melaksanakan protokol kesehatan. RTQ juga mengikuti arahan Ketua At-taqwa Centre tentang jadwal masuk sekolah yang berpedoman pada keputusan mentri pendidikan. Ini dilakukan demi menjaga keselamatan dan kondusifitas. Sehingga, santri yang mulai belajar hanya santri yang telah terdaftar sebelumnya. Itu dengan aturan ketat serta sistem pembelajaran daring. Ketua RTQ At-taqwa Ust. Dr. H. May Dedu, Lc., M.E.Sy., mengatur regulasi masuknya santri baru sebagai bentuk adaptasi dengan kondisi AKB. “Sementara santri baru, belum bisa mulai pembelajarannya” tutur Dedu. (Ibn).