Prof. Dr. H. Khaerul Wahidin, M.Ag

( Rektor UMC )

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqarah: 218).

 

 

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nisa: 100).

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hasyr: 9-10).

Kesimpulan dari inti surat al baqorah : 218 annisa 100. Al hasyr 9 -10

  1. Amanu – wahajaru – wajahadu = yarju rahmatallah wallahu ghofururrahim
  2. Yuhajiru fi sabilillah = yazid muraghoman katsiratan wasa’atan
  3. Al- itsar wal akha = muflikhun (pemenang)

 

Dalam sejarah peradaban Islam, kaum muslimin terkenal sebagai umat pemenang bukan pecundang, menangan bukan elehan, menang sebagai kesatria, bukan dengan curang, bukan dengan dzalim, fitnah, ghibah, menyakiti dan mencaci maki, menganiyayai, menang terhormat, dengan kejujuran, kemenangan dengan cara beriman, berstrategi disertai ruhul jihad dan persatuan.

Dalam surat 91 Assyam Allah bersumpah dengan 7 panorama kehidupan, matahari, bulan, siang dan malam, langit dan bumi, yang ketujuh dengan hati yang bercahaya penuh gemerlap kemenangan. Prof. Hamka menyebutnya laksana padi menunduk penuh kedamaian dan kekhusyuan.

 

  • Wassymsi waduhaaha
  • Wal qamari idzaa talaaha
  • Wannahari idzaa jallaaha
  • Wallayli idzaa yaghsyaaha
  • Wassamai wa maa banaaha
  • Wal ardhi wama thahaaha
  • Wanafsiwwama sayyaha

 

  1. Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari,
  2. Demi bulan apabila mengiringinya,
  3. Demi siang apabila menampakkannya,
  4. Demi malam apabila menutupinya (gelap gulita),
  5. Demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan),
  6. Demi bumi serta penghamparannya,
  7. Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya,

 

Ketujuh sumpah Allah ini menunjukkan pentingnya perintah yang Allah tunjukkan yaitu sungguh menanglah orang yang membersihkan hatinya dan sungguh merugi orang yang mengotori jiwanya (Assyyam 9-10)

  • Qod aflaha man zakkaaha
  • Wa qod khooba man dassaaha
  1. “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.”
  2. “Dan sesunguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

 

Dalam situasi negeri pandemi manusia menjadi dijatuhkan martabatnya dari kemuliaan, keberkahan dan kemenangan karena mendzalimi Tuhannya, dan menyusahkan makhluqNya, sebagaimana dalam disebutkan dalam Surat An Nahl ayat 122.

Dan Allah telah membuat sesuatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu Allah merasakan kepadanya pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”

Memuliakan orang beriman menjadi modal bagi tercapainya kemenangan, sebagaimana terdapat dalam surat Al-Hasyr 9-10

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (kaum Ansor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Ansor) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Ansor) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada merweka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

“Orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansor) mereka berdoa, Ya Rob, berilah kami ampunan dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami dan janganlah Engkau memberikan kedengkian dalam hari kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Robb sesungguhnya Engkau Maha Penyantun  lagi Maha Penyayang.”

Dan orang-orang yang beimanan bilamanana menujukkan keikhlasannya dalam imannya maka Allah berikan rasa aman dan keberkahan dalam hidupnya seperti dalam surat Al Anam :82

 

Marilah kita sama berdoa kepada Allah “Ya Allah muliakanlah para pemimpin negeri ini yang memuliakan rakyatnya dan hinakanlah mereka yang mendzalimi rakyatnya.