MARHABAN YA RAMADHAN 1447 H PESAN PUASA: SPIRITUAL, MORAL DAN SOSIAL

Feb 13, 2026 | Kegiatan Attaqwa Cirebon

Oleh Hajam (Dosen UIN Syekh Nurjati Cirebon)

Marhaban Ya Ramadhan

Dengan suka cita umat Islam akan kembali menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H dengan berpuasa selama satu bulan penuh. Nabi Muhammad saw bersabda barang siapa bergembira hatinya untuk menyambut bulan ramadhan maka akan dibebaskan dari api neraka. Maka orang tua, kaum muda, anak-anak meyambut bulan puasa dengan romantismenya dan pengalamanya masing-masing. Suatu pengalaman spiritual yang sungguh indah. Mengapa umat Islam khususnya bagi orang yang beriman diwajibakan puasa? Karena kelemahan manusia yang terbesar ialah ketidaksanggupannya untuk mampu menahan diri dari godaan dan jebakan bisikan ibis dan tipu muslihat hawa nafsu, seperti yang dialami Nabi Adam as dan Siti Hawa ketika keduanya berada di surga tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya dari jebakan iblis, yaitu agar keduanya jangan mendekati buah khuldi.disebutkan dalam al-Qur’an: Kami berfirman, “O Adam! Tinggallah kamu dan istrimu dalam Taman, dan makanlah makanan dari sana apa yang kamu sukai. Tetapi jangan dekati pohon ini supaya kamu tidak menjadi orang yang zhalim” (Q., 2:35).

            Jiwa manusia acapkali terpenjara oleh tubuhnya sendiri karena dorongan hawa nafsunya. Kita dapat menyaksikan betapa manusia didera hawa nafsu untuk mengejar kepuasan tubuh seperti makan, minum, berpakaian, berhubungan seks, ambisi kekuasaan dengan melampiaskan egoisme dengan melakukanya dengan segala cara tidak perduli halal atau haram, tidak melihat haq atau batil. Deraan hawa nafsu sering kali dapat mengalahkan akal sehat. Hasrat untuk memenuhi kebutuhan tubuh adalah sah dan bersifat alami siapa pun tidak bisa menolaknya, hanya manusia tidak seperti binatang, karena dalam diri manusia ada dimensi ruh/jiwa sebagai kekuatan kedalamanya yang merindukan keadaban, kebenaran, kesucian, keindahan yang menjadi fitrahnya. Karena itu ruh/jiwa manusia tidak selamanya merasa tenang, damai melihat kelakuan tubuh diri sendiri. Sering kali berbagai hasrat tubuh itu berlawanan dengan hasrat ruh/jiwa .Hasrat untuk pemenuhan tubuh hendaknya dikendalikan agar pemenuhan tubuh tidak bertentangan dengan hasrat ruhnya sehingga tidak berlawanan dengan fitrahnya. Puasa merupakan cara Allah untuk mendidik dan melatih agar seseorang dalam memenuhi segala dorongan tubuhnya tidak melakukanya secara membabi buta yang melanggar etika sosial keagamaan dan melanggar harmoni sosial kemasyarakatan     .

Selanjutnya di antara banyak kelemahan manusia, yang paling penting adalah pandangannya yang pendek. artinya, manusia cenderung tertarik kepada hal-hal yang mengkilat, glamour, hal-hal yang bersifat segera, dan cenderung mengabaikan aspek jangka panjang. Al-Quran banyak sekali memperingatkan hal itu. Ingatlah wahai manusia bahwa kamu lebih suka kepada yang segera dan lupa kepada yang jangka panjang (Q., 75: 20). Puasa latihan untuk menahan diri dan sanggup untuk menunda kesenangan sementara, karena yakin akan adanya kesenangan di belakang hari yang lebih besar; jadi, berpikir jangka panjang.

Berbagai permasalahan yang sering timbul dalam kehidupan ini banyak diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang dalam menahan dirinya atau tidak mampu dalam mengendalikan dirinya akibat dorongan hawa nafsu yang liar, seperti kejadian tawuran antar pelajar, mengambil hak milik orang lain  dengan cara mencuri, merampok, korupsi, penyalahgunaan obat terlarang dan free sex merupakan contoh perilaku yang timbul karena ketidakmampuan dalam mengendalikan diri (self control).

 Puasa hukumnya wajib, berarti kita Wajib untuk sanggup menahan diri. Ada dua dalam menahan diri:

Al-imsak ‘An berarti Menahan diri dari luar (eksternal) terhadap hal-hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan, minum, hubungan badan antara suami istri di siang hari dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Al-imsak Bi berarti Menahan diri dalam (internal), yaitu menahan diri dari gejolak hawa dan nafsu yang cenderung pada keinginan-keinginan yang bersifat syahwat (keinginan tak terkendali), ma’siat (pelanggaran), fakhsya (kekejian/susila), fasad (kerusakan), dan munkarat (kejahatan).

Ada tiga cara dalam konep menahan diri menurut Imam al-Ghazali merupakan proses berkesinambungan dalam rangka mencapai derajat tertinggi di sisi Allah dan untuk mencapai kesempurnaan akhla serta kesucian jiwa, tiga konsep tersebut sebagai berikut:

TAKHALLI: Mengosongkan hati dan perbuatan-tingkah lakunya dari sifat-sifat tercela (akhlaqul madzmumah) atau prosespembersihan diri dari penyakit hatidan sifat-sifat buruk seperti sombong, iri dengki,riya, ujub dan kikir. Sabda Rasulullah, “Barang siapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan kotor dan (tak bisa meninggalkan) perbuatan kotor maka Allah tidak punya kepentingan apa-apa bahwa orang itu meninggalkan makan dan minum,” (HR Bukhari). Dengan kata lain, puasanya akan sia-sia. Oleh karena itu, Umar pun mengatakan, “Banyak sekali orang puasa namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar.”

TAHALLI: mengisi hati yang telah bersih dengan sifat-sifat terpuji (akhlaqul karimah), seperti tobat, sabar,syukur, ikhlas, ridho, dan rendah hati.

TAJALLI: Manifestasi al-Haq (Manifestasi Ketuhanan) pada hati dan perbuatan. Kehendak hati dan Kehendak perbuatan akan mengikuti kehendak Tuhannya, karena telah terbukanya nur cahaya ilahi di dalam hati sehingga merasakan kehadiran Tuhan.

Puasa sebagai latihan untuk mengingkari diri sendiri dari hal-hal yang bisa membuat kita lupa kepada Allah Swt. Itulah yang disebut îmân-an (dengan penuh percaya kepada Allah).

Puasasecara intrinsik bertujuan mencapai derajat ketakwaan, yakni lahirnya kesadaran diri bahwa Tuhan selalu hadir bersama kita, mengawasi, dan melihat semua perbuatan kita. Inilah sebenarnya hakikat takwa, yakni merasa dekat dengan Tuhan. Spiritualitas puasa adalah proses meningkatkan kesadaran dan keimanan kita kepada Allah, dengan cara niatkan puasa dengan ikhlas karena panggilan Allah swt dan sungguh-sungguh. Memperbanyak zikir, tadarus al-Qur’an, shalat malam, dan beri’tikaf. Yang dimaksud dengan i’tikâf (dalam bahasa Arab ‘berhenti’) adalah agar orang berhenti dari kegiatan yang bersifat kekinian atau rutinitas, kemudian merenungi hakikat dirinya. Dalam idiom bahasa Jawa sangat populer disebut dengan “mengetahui sangkan paraning dumadi. Atau melakukan perenungan eksistensial tentang asal-usul dirinya. Amalan zikir juga disebutkan sebagai ibadah yang amat mulia, bahkan dikatakan paling tinggi pahalanya. Sebab dalam zikir juga terkandung perenungan, introspeksi, self examination dan refleksi.

Puasa juga mengandung pesan moral dan sosial. Puasa dapat melatih kesabaran dan menjaga kesehatan lahir dan batin. Puasa memilki dimensi kesadaran kemanusiaan. Puasa melatih kepekaan dan kepedulianterhadap problem sosial masyarakat. Puasa melahirkan kesetaraan, kerukunan, keharmonisan terhadap ragam perbedaan. Puasa sebagai Madrasah untuk menanamkan nilai-nilai Moral dan nilai-nilai sosial. Puasa dapat menjaga harta dengan zakat, sedakah, dan berbagi untuk para kaum lemah (anak yatim, anak-anak terlantar, faqir miskin)

Demikian catatan ringan dan sederhana semoga bermanfaaf dan mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangannya selamat menyambut datangnya bulan Suci Ramadhan. Semoga Allah swt memberkahi kita di bulan Sya’ban ini dan semoga Allah swt mentakdirkan kita kembali untuk berjumpa dengan bulan Suci Ramadhan 1447 H yang penuh dengan ampunan, keberkahan dan kerahmatan.

Follow Sosial Media At Taqwa :

Berita Terkait

HATI SEBAGAI RAJA (PUSAT KENDALI) Oleh : Dr. KH. Toto Santi Aji, M.Ag

HATI SEBAGAI RAJA (PUSAT KENDALI) Oleh : Dr. KH. Toto Santi Aji, M.Ag

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Kelebihan manusia dari makhluk- makhluk Allah yang lain dilihat dari berbagai segi, sisi dan dimensi. Allah anugrahi manusia dengan jasad yang sempurna, kemampuan berpikir yang baik, jiwa yang bisa memastikan nilai- nilai...

Pin It on Pinterest

Share This