T A U B A T Oleh: H. Jajang Badruzaman, M.Ag (Kemenag Kota Cirebon)Oleh: H. Jajang Badruzaman, M.Ag

(Kemenag Kota Cirebon)

 

Bertaubat menurut pengertian bahasa ialah kembali. Sedang menurut pengertian syara’ adalah berhenti dari melakukan segala perbuatan yang tercela menurut syara’ kepada perbuatan yang terpuji.

Abu Ishak Ibrahim Al Matlubi berwasiat :” wahai saudaraku, wajib atas dirimu selalu bersikap lurus dan bertaubat”. Taubat ada permulaan dan ada kesudahannya. Ada pangkal dan ujungnya, ada dasar dan puncaknya. Permulaan taubat yaitu bertaubat dari dosa-dosa besar kemudian dari dosa-dosa kecil, dari perkara yang makruh atau dibenci, dari perkara yang menyalahi keutamaan, dari prasangka baik terhadap diri sendiri, dari prasangka bahwa dirinya adalah kekasih Alloh SWT.,dan prasangka bahwa dirinya benar-benar telah bertaubat, dan akhirnya bertaubat dari kehendak hati yang tidak diridhai Alloh SWT, sedangkan puncaknya bertaubat ialah kembali pada Alloh sewaktu-waktu lupa mengingat-Nya, sekalipun hanya sekejap mata.

Kisah taubat sering dikaitkan dengan kisah Nabiyulloh Adam AS. Ketika Alloh memerintahkan kepada Adam dan Hawa sebagai pasangan suami istri penghuni yang bebas menikmati buah-buahan di dalamnya kecuali “syajarah” –pohon buah khuldi–, setan membisikkan pikiran jahat kepadanya untuk menampakkan apa yang tertutup dari mereka (aurat). Syetan merayu mereka dengan mengatakan :”Alloh melarangmu memakan buah khuldi, tidak lain adalah agar engkau tidak menjadi malaikat atau agar engkau tidak kekal didalam syurga”. Bahkan syetan bersumpah, bahwa dirinya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada Adam dan Hawa. Akhirnya Adam dan Hawa tertipu oleh bujuk rayu syetan hingga memakan buah yang dilarang tersebut. Kemudian aurat mereka terbuka dan diusir dari syurga. Pada saat itu pula Alloh mengingatkan kepadanya bahwa syetan adalah musuh yang nyata bagi umat manusia. Baru Adam dan Hawa Sadar. Lalu mengakui dan menyesali perbuatannya. Dan melantunkan doa sebagaimana tercantum dalam QS Al-A’raf : 23

Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

 

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia pada umumnya hampir tidak pernah terhindar dari kemaksiatan walau mitsqâla dzarrah, sebagai contoh; ketika seseorang bisa menghindari kemaksiatan yang di lakukan oleh anggota badan, maka tidak sepi dari kemaksiatan yang dilakukan oleh hati, jika ia bisa menjauhi maksiat hati, maka ia tidak sepi dari bisikan syetan yang bisa membuat ia lupa Allah, jika itu semua bisa terhindar, maka ia pun tidak sunyi dari lupa mengetahui Allah, sifat-sifat dan af’al-Nya. Semua umat manusia pasti mempunyai kesalahan dan dosa. sebagaimana dalam hadits riwayat al- Darimi:

Dari Anas RA Ia berkata; Rasulullah Saw Bersabda: “Setiap manusia itu mempunyai kesalahan dan sebaik-baik orang mempunyai kesalahan adalah orang yang bertaubat.

Dalam hadits riwayat Bukhari juga disebutkan:

Dari Abi Hurairoh Ra. beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya Aku pasti memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.’” (HR. Al-Bukhori)

Dari hadits tersebut dapat diketahui bahwa taubat merupakan sebuah keharusan bagi manusia dan diperintahkan untuk selalu bertaubat kepada Alloh sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW., padahal Rasulullah SAW. adalah makhluk Alloh yang terjaga dari kemaksiatan dan kesalahan (ma’shum), Rasulullah SAW. juga sebaik-baik makhluk dan dijamin oleh Alloh –seandainya melakukan kesalahan– segala yang akan dan telah dilakukan akan selalu dima’afkan. Rasulullah SAW. melakukan dalam rangka memberikan pendidikan terhadap umatnya disamping akan semakin meningkatkan derajatnya di hadapan Alloh SWT.

Dalam Al-Qur’an pun terdapat Perintah untuk bersegera memohon ampunan Alloh SWT.  :

“ Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran : 133)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim:8)

Sejalan dengan QS. Ali Imran ayat 133 tadi, kewajiban bertaubat ini, menurut Abu Hamid Muhammad al-Ghazali harus dilakukan secepatnya (‘alâ al-Faur), sebab maksiat apabila dihubungkan dengan keimanan, maka bagaikan makanan yang akan membahayakan terhadap anggota tubuh, makanan berbahaya tersebut akan masuk dan tanpa diketahui akan merusak anggota tubuh manusia.

Ketika manusia akan kembali kejalan Allah dengan bertaubat maka harus memenuhi beberapa syarat utama agar bisa diterima taubatnya oleh Allah yaitu sebagai berikut : al-Iqlâ’ ‘an al-Ma’shiyah (pencabutan atau pemutusan dari perbuatan maksiat), al- Nadam ‘ala fi’lihâ (penyesalan atas perbuatan maksiatnya), al-‘Azam allâ yaûda ilaihâ yakni keinginan yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Bahkan para ulama mengatakan, syarat taubat yaitu : Ikhlas karena Allah semata, Berhenti dan berlepas diri dari perbuatan dosa dan maksiat yang ia lakukan, Menyesali perbuatan dosanya tersebut,  Bertekad tidak akan mengulangi perbuatan dosanya tersebut,   Melakukan taubat sesuai waktu diterimanya taubat (sebelum ruh berada di kerongkongan (sakaratul maut) atau sebelum matahari terbit dari barat). Namun jika taubatnya berkaitan dengan hak manusia, masih harus ada syarat lagi, yaitu menyelesaikan haknya pada orang yang bersengketa tadi. Jika ia menzhalimi hartanya, maka ia harus mengembalikan barang yang dizhalimi kepada pemiliknya, atau meminta pembebasan tanggungan pada yang bersangkutan. Jika hak itu berupa had qazaf (hukuman menuduh zina) atau sejenisnya, maka ia harus menjalankan atau meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Perbuatan taubat, pada umumnya selalu dikaitkan dengan dosa yang dilakukan sebelumnya, maka bagi orang yang pernah melakukan dosa, perbuatan taubat berfungsi mengembalikan diri ke jalan yang benar setelah melakukan penyimpangan dari jalan Allah, atau mengembalikan diri ke jalan yang diridhai Allah, setelah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tuntunan Allah Swt.

Bagi orang yang merasa tidak melakukan kesalahan, perbuatan taubat berfungsi sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran untuk selalu patuh terhadap perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya, dan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas iman, serta menjadi upaya meningkatkan kualitas dzikrullah, yang kesemuanya pada akhirnya meningkatkan perolehan pahala yang diberikan Allah Swt.

Taubat adalah sebuah perbuatan yang sangat terpuji yang tidak hanya menjadi jalan untuk kembali ke jalan yang benar, tetapi juga menjadi sarana  untuk peningkatan iman dan kedekatan diri kepada Allah Swt. Jadi taubat itu dasarnya harus dilakukan kapan saja. Apakah merasa mempunyai dosa atau tidak, apakah merasa menyimpang dari jalan yang benar atau tidak dan dalam keadaan apa pun perbuatan taubat harus senantiasa dilakukan.

Allah SWT berfirman :

“Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling, maka sungguh, aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (Kiamat).” (QS. Hud :3)

“Kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”(QS Al Furqon:70)

Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang bertaubat (dari dosanya) seakan-akan ia tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah).

Orang yang baik bukan hanya orang yang tidak pernah berbuat salah. Orang yang baik juga merupakan orang yang pernah berbuat salah, akan tetapi ia mau menyadari kesalahannya, selalu ingin memperbaiki diri dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahannya. Mudah-mudahan kita selalu diberi kekuatan oleh Allah SWT. untuk selalu kembali ke jalan-Nya, jalan yang penuh dengan kasih sayang dan ridlo Allah SWT.

إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ
فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ  # فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ 
ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ    # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ   # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

 إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ  # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ  # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ

Wahai Tuhan, ku tak layak ke surgaMu
Namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku,

sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

Dosaku bagaikan bilangan pasir,

maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan

Umurku ini setiap hari berkurang,

sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.

Wahai, Tuhanku! HambaMu yang berbuat dosa telah datang kepadaMu
dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepadaMu.”

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni,

Jika Engkau menolak, maka kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?”