Dr. Hajam, M.AgMembaca Literasi Dan Membaca Diri

Oleh, Dr. Hajam, M.Ag (Dosen IAIN Cirebon)

 

Melalui mimbar jumat ini mukhatib selalu mengingatkan kepada kita semua sebagai muslim dan mukmin agar kita terus menerus untuk selalu meningkatkan kualitas pribadi dengan meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah swt, semoga kualitas iman dan taqwa kita pada hari ini lebih baik dari hari-hari sebelumnya dan semoga kualitas iman dan taqwa pada hari yang akan datang jauh lebih baik dari hari ini. Untuk itu dalam rangka mewujudkan kualitas diri dengan kualitas iman dan taqwa mukhatib pada kesempatan ini akan menyampaikan firman Allah swt. Allah swt Berfirman: Bacalah Kitabmu, Cukuplah dengan Dirimu pada hari ini engkau melakukan perhitungan

(Q.S. Al-Isra: 14)

Ayat tersbut mengandung dua pesan moral, yaitu perintah membaca kitab dan perintah melakukan muhasabah (membaca diri). Ayat tersebut didahului bentuk amar (perintah) menggunakan bentuk kata kerja perintah (pi’il amar), dalam qaidah disebutkan al-amru tadullu ala wujub (kata perintah itu menunjukkan kepada yang wajib), berarti perintah membaca dalam konteks ayat tersebut menjadi wajib bagi setiap muslim sama wajibnya dengan perintah sholat, zakat, haji dan lain-lain,sejatinya dan seharusnya seperti itu, namun perintah membaca selama ini seakan-akan tidak dipandang wajib yang sejajar dengan perintah shalat, zakat haji dan lain-lain. Umat Islam lebih menonjolkan ibadah yang bersifat ritualistik dibanding ibadah membaca atau literasi ilmu, makanya wajar ummat Islam mengalami kemunduran. Berbeda dengan ummat Islam pada abad 6 M hingga 12 M telah mengalami kemajuan dimulai pada Bani Abbasyiah sejak pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (775-785 M), pengganti kepemimpinan Abu Ja’far al-Mansur. Kemajuan ummat Islam mencapai puncaknya saat kepemimpinan Khalifah Harun al-Rasyid. Masa kemajuan ummat Islam pada saat itu disebut  the Golden Age of Islam (masa keemasan Islam). Salah satu factor yang menyebabkan ummat Islam mengalami kemajuan yaitu melakukan tradisi budaya membaca dan melakukan literasi ilmu dan riset. Dengan buidaya membaca dan literasi ilmu akan memproduksi pendidikan yang akan menjadi tolak ukur kemajuan bangsa.

Tolak ukur kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kemajuan pendidikan, kemajuan pendidikan bisa dicapai dengan melakukan budaya membaca atau dengan kegiatan literasi ilmu. Namun kondisi budaya minat membaca di Indonesia belum mencapai hasil yang menggembirakan, mislanya menurut data dari UNESCO merilis bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,000 1 %. Artinya dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang gemar membaca.

Data tersebut menunjukkan kebiasaan dan budaya membaca di kalangan masyarakat Indonesia masih terbilang rendah. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan akan mengganggu tercapainya peningkatan kualitas Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diprogramkan Pemerintah. Penyebab rendahanya minat baca diantaranya karena masyarakat Indonesia lebih suka menonton tv, dan gemar dalam bermain di dunia maya baik intenet maupun pada media sosial (medsos) dengan melakukan aplikasi jaringan pengguna facebook, SMS, WA, dan twitter dibanding membaca buku.

    Kondisi ini jangan sampai terus berlangsung perlu ada solusi dan antisipasi dini bagi semua komponen bangsa dari mulai Pemerintah, Ormas, partai politik, LSM, dan lain-lain agar mengutamakan aspek pendidikan melalui program literasi ilmu dan budaya gemar membaca agar masyarakat Indonesia ke depanya makin cerdas sesuai harapan para founding father (pendiri bangsa) yang mengharapakan agar masyarakat Indonesia yang cerdas sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kembali pada ayat di atas yang dimaksud dengan perintah membaca adalah membaca kitab (buku), paling tidak ada 5 (lima) kitab yang harus dibaca, yaitu:

  1. Kitab Suci, kitab suci al-Quran bagi ummat Islam perlu dibaca tidak hanya sebagai kewajiban dengan sepuluh pahala perhurufnya bagi yang membacanya, tetapi juga dengan membaca al-Quran diharapakan mengambil inti sari yang menjadi kehendak al-Quran, di antara kehendak al-Quran bagi yang membacanya di antaranya yang paling prinsip adalah:
  2. Agar kita keluar dari kegelapan (Zdulumat) menuju cahaya yang terang benderang (Nur). Yang dimaksud kegelapan adalah kebodohan, kekufuran, kemunafikan, kezaliman. Yang dimaksud dengan terang benderang adalah ilmu pengetahuan, keimanan, dan kemanusiaan.
  3. Agar kita dengan membaca al-Quran bisa hidup saling bersama, hidup rukun damai, penuh dengan rasa persatuan dan persaudaraan.
  4. Kitab Kuning, yaitu membaca kitab-kitab yang dikarang oleh ulama terdahulu yang sarat makna dan mengandung nilai-nilai pendidikan karakter dan mengandung wawasan keislaman yang universal guna menunjang kemajuan bangsa di bidang Sumber Daya Manusia dan Peningkatan mutu Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
  5. Kitab Putih, membaca buku-buku karya para Ilmuan, Budayawan yang mengandung Ilmu Pengetahuan dan Science.
  6. Kitab Hijau, yaitu membaca budaya, tradisi di sekitar kita untuk mendapatlkan pengetahuan realitas dan mengandung kearifan lokal yang di dalamnya tersirat iktan-ikatan social sehingga budaya, tradisi asli Indonesia yang sarat makna tidak tergerus oleh arus modernisasi dan kapitalisasi kekinian.
  7. Kitab Biru, yaitu membaca fenomena langit, artinya membaca berbagai perstiwa yang terajadi di alam ini seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, angin pitung beliung dll agar menjadi pelajaran buat kita dan agar kita melakukan keharmonisan dengan alam dengan merawat lingkungan di sekitar kita dan merawat alam di sekeliling bumi Nusantara ini.

 

Pesan moral kedua dari ayat di atas yaitu agar kita melakukan muhasabah, artinya membaca peta diri kita tentang berbagai hal yang berhubungan dengan keadaan jasmani dan keadaan rohani kita. Membaca diri kita berkenaan dengan amal baik dan amal buruk yang kita kerjakan, kita timbang amal baik dan amal buruknya dengan jujur dan bertanggung jawab, mana yang lebih banyak, apakah amal baiknya atau amal buruknya? semua itu perlu introspeksi dan evaluasi terhadap peta diri kita sendiri dalam melihat sisi kekurangan dan kelebihannya. Melihat sisi keburukan dan sisi kebaikanya agar kita tidak terjebak oleh sikap KEDIRIAN, sikap kedirian suatu sikap yang hanya berpusat pada dirinya saja, merasa dirinya paling benar, yang lain salah. Sikap seperti ini seseorang akan mengakibatkan sikap sombong dan angkuh. Sikap sombong dan angkuh bisa timbul karena terlalu banyak membaca kenegatifan orang lain dan bodoh membaca diri sendiri. Membaca peta diri sendiri bagian yang tak terpisahkan dari sikap seorang muslim dan mukmin yang sejati. Namun, sering kali kita lebih banyak membaca peta diri orang lain dibanding kepada diri sendiri, orang lain dipandang negatif lebih banyak dari kita, orang lain dipandang buruk amaliyahnya sementara diri kita menyatakan paling soleh, paling baik.

Nabi Muhammad saw mengingatkan agar kita lebih banyak membaca diri kita sendiri dibanding untuk membaca orang lain, seperti dalam sabdanya: “sungguh berbahagia orang yang sibuk membaca kekurangan dirinya di banding membaca kekurangan orang lain”. Dengan membaca diri kita sendiri agar kita bisa memperbaiki bila ada kesalahan atau kekurangan dan bisa merawat kebaikan dan agar terus ditingkatkan lagi. Muhasabah diri dengan membaca peta diri kita bertujuan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah swt (habluminallah) dan memperbaiki dengan sesama manusia (Habluminannas) dan sekaligus juga memperbaiki hubungan diri kita sendiri (habluminafsih), mengapa demikian karena hidup manusia di dunia ini hanya sebentar, sangat rugi bila kita tidah melakukan muhasabah terhadap amal kita sendiri.