MENELADANI RASULULLAH 

DARI SIRAH NABAWIYAH

Oleh, KH. Syuja’i Amin (Ponpes Azziyadah, Cirebon)

 

Alhamdulillah kita sekarang ini berada di Bulan rabiul Awal 1443 H. dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan bulan Maulud atau Maulid. Sebutan itu selaras dengan makna harfiyahnya, momen peristiwa kelahiran Baginda Nabi Muhamad saw. Kelahiran beliau merupakan kenikmatan yang amat besar dari Allah swt bagi seluruh alam. Penting bagi kita sebagai umat Islam untuk bersyukur atas kelahiran Nabi dan mengekspresikan kegembiraan dan kebahagiaan ketika memperingati Maulid nabi saw. Sesungguhnya pembacaan sejarah nabi dapat menimbulkan kesan yang baik bagi orang-orang yang beriman guna mendapatkaan petunjuk dari perjalanan atau sunah nabi sendiri. Memuji Nabi dengan cara yang benar bagi kaum muslimin hukumnya wajib. Dan sebagian ulama memandang bahwa perayaan maulid yang diikuti dengan pembacaan sejarah Rasulullah adalah sebuah perbuatan yang terpuji.

Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kita dengan nikmat iman dan Islam dan cukuplah nikmat itu bagi kita yang telah menyayangi kita dengan sebaik-baik manusia, junjungan kita nabi agung Nabi Muhammad saw, yang telah menjadikan kehidupan beliau menjadi tauladan yang baik dan contoh yang harus kita ikuti. Sunahnya sebagai petunjuk yang menerangi jalan bagi kita dan mencintainya adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimat mukmini dan mukminah. Dengan mencintainya saja itulah akan sempurna iman seseorang. Karena beliau bersabda.

“Tidak sempurna iman seseorang dari kalian hingga aku (Rasulullah) lebih dicintai olehnya daripada hartanya, anaknya dan dirinya swendiri.”

Di antara hal penting yang tidak perlu diragukan lagi adalah kita harus menoleh kepada sumber syariat, subtansi hidayah dan jalan kebehagiaan dimana ia terpusat pada tiga hal pokok. 

Pertama, Alquran. Tidak ada suatu makhlukpun mampu merubahnya, selamanya baik dengan cara menambahkan sesuatu ke dalamnya atau mengurangi apa yang ada di dalamnya.

Kedua, Hadits Rasulullah. Dengannnya Allah menyempurkan agama ini dan menjadikannya sebagai wahyu yang diilhamkan kepada nabi kita nabi Muhamad saw karena Allah sendirilah yang menjamin untuk menjaga dan memeliharanya, serta tidak menyerahkan urusan ini kepada selainNya.

Ketiga, Perbuatan-perbuatan Rasulullah yang Allah jadikan teladan yang baik bagi kita. Allah mewajibkan kita untuk mentaati dan mengikutinya serta berjalan di atas petunjuknya. Allah swt telah menjelaskan kepada kita, 

Barang siapa yang mentaati Rasul sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS. An Nisa : 80)

Beliau bersabda, 

Kalian harus mengikuti sunahku dan sunah alkhulafaur rasyiidin yang bijaksana sesudahku.”

Ayat-ayat tentang wajibnya taat kepada Nabi banyak jumlahnya, baik yang menyertai ketaatan kepada Allah atau yang dilengkapi dengan ketaatan kepadaNya, sebagaimana juga Dia menjadikan sunah beliau sebagai wahyu yang diilhamkan kepadanya dan sebagaimana Dia menjadikan di antara tugas-tugas nabi saw adalah mengajarkan hikmah yaitu sunah yang melengkapi kitab Allah. Para sahabat nabi yang mulia mengetahui bahwa apa yaang telah pasti berasal dari Nabi adalah sesuatu yang wajib diambil, oleh semua yang mengetahuinya. Tanpa membedakan yang lebih kuat atau lebih lemah semuanya merupakan kewajiban yang harus diikuti seluruh manusia. Dan Allah swt tidak memberikan prioritas seperti ini kepada seorangpun dan hamba-hambanya selain beliau. Sebagaimana ia telah menetapkan suatu perintah yang bertentangan dengan perintahnya. Maka para sahabat menjaga sunah Nabi dalam bentuk yang tak pernah ada bandingnya dalam sejarah manusia. Mereka mengutip untuk kita segala yang berasal dari Nabi saw baik berupa ucapan, perbuatan maupun persetujuan (ketetapan), disamping juga menguitip tentang sifat fisik atau psikis beliau.

Disinilah muncul pentingnya kita bertaut dengan sirah nabawiyah, mengikutinya dan mengikat diri dengannya agar Rasulullah saaw selalu menjadi pelita penerang sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah swt. Beliau diutus kepada manusia sebagai penutup para rasulNya, pemberi khabar gembira bagi semua manusia, pemberi peringatan dan penyeru ke jalan Allah dengan izinNya agar beliau menjadi teladan dan panutan bagi mereka dan agar kehidupan beliau yang mulia menjadi contoh dan uswah yaang harus diikuiti dan beliau memang teladan yang tinggi bagi kita. Seperti yang telah difirmankan oleh Allah dalaam surat Yunus ayat 16, 

Aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya, apakah kamu tidak mengerti..?”

Itu karena beliau tumbuh danmenjadi dewasa sebagi seorang yang jujur dan terpercaya. Semua orang waktu itu mengenal akhlak beliau dan tidak pernah menyaksikannya berdusta, sebagaimana mereka mengenal semua perbutannya.

Para sahabat menggambarkan cara meneladani Rasulullah saw. Betapa banyak sejarah menceritakan kepada kita tentang sikap-sikap para sahabat Rasulullah saw ketika mereka mengulang kembali kenangan mereka bersama rasulullah saw dalam keadaan damai maupun perang di masjid maupun di rumah. Sendiri maupun ketika bersama kelompok sahabat lainnya. Dari kenangan itu mereka menciptakan “energi” yang deras mengalir membangkitkan kekuatan dan keteguhan di jiwa mereka serta menjelmakan sirah yang agung di hadapan mereka. Alangkah banyaknya kenangan ini.

Hendaklah kita menyambut Rasulullah.  

Di antara kewajibaan umat Islam di setiap masa dan tempat adalah menyambut Rasulullah saw.  Dengan kewajiban umat Islam di setiap masa dan tempat adalah menyambut Rasulullah dengan suatu yang sesuai dengan beliau dan dengan keagungan dan kedudukan beliau. Dalam hal ini cukuplah bagi kita perintah Allaha swt yang telah menyertakan kecintaan kepadaNya dengan penyertaan kepada Nabi ini, dimana Allah menjadikan kecintaan seorang hamba kepadaNya disyaratkan dengan mengikuti Nabi Muhamad cinta Allah kepada hambaNya dan ampunanNya atas dosa-dosa hambaNya merupakan hasil dari mengikuti Nabi Muhaamd saw sebagaimana yang Allah firmankan, 

Katakanlah (Muhamad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Akllah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Mahaa Penyayang,” (QS. Ali Imran:31)

Dalam menyambut Rasululalh saw seorang insan muslim harus mengikat dirinya dengan sirah yanag suci ini dan mentaati beliau. Allah juga menegaskan, 

Barang siapa yang mentaati Rasul (Muhamad) maka dia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari kataatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhamad) untuk menjadi pemelihara mereka.” (QS. An-Nisa:80)

Dari sudut pandang inilah datangnya kepentingan kita menyambut Rasulullah saw mentaatinya dan mengikuti sirah serta sunahnya dalam setiap ucapan dan perbuatan kita. Tidak diragukan lagi bahwa mempelajari sirah nabi dan keinginan untuk menerapkan  kehidupan beliau serta menjadikannya sebagai teladan dalam setiap urusan kita, merupakan awal langkah menuju keberhasilan. Kita beriman kepadanya disamping beriman kepada Allah swt.

Di antara manifestasi awal dari penyambutan terhadap Rasulullah saw adalah memperbanyak menghucapkan shalawat dan salam kepada beliau karena keduanya merupakan hal baik membuat kita senantiasa berkaitan dengan nabi yang mulia ini. Allah swt telah memerintahkan dan mengajarkan kita begaimana bershaklawat kepada beliau. Allah memulai perintah ini dengan diriNya sendiri dengan berfirman, 

Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat untuk Nabi, wahai orang-0orang yang berimanbershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkaanoahsalam dengan penuh pengghormatan kepadanya.” (QS.Al Ahzab:56)

Shalawat dan salam kepada Raulullah saw merupakan nikmat yang besar dimana Allah memulkiakan umat ini denganya. Seorang hamba yabng bershalawat kepada beliau akan mendapatkan syafaat dan shalawat yang diucapkannya karena ketika kita bershalawat kepada beliau maka Allah akan bershalawat (merahmati) kepada kita sepuluh kali lipat, sebagaimana yang disabdakaan oleh nab dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, 

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Baraang siapa bershalaat kepadaaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali lipat.”

Jadi bershalawat kepada rasulullah merupakan sebab Allahakan bershalawat kepada orang yang bersangkutan dan menjadi keberkahan, karena ia merupakan sala satu pintu rahmat Allah yang dengannya Dia mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya dari kekzaliman menuju petunjuk. Allah berfirman, 

Dialah yang memberi rahmat jkepadamu dan para malaikatNya (memohonkan ampunan untkmu) agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang)”

Marilah kita melihaat dengan mata hati kita keagungan dan nilai penyambutan kepaa Rasulullah saw ketika kita bershalawat kepadsa beliau maka kita mendapatkan segala kebaikan dan keutamaan itu.allah juga memberikan anugerah kepada kiat dengan shalawat, yaitu mengeluarkan kita dari kegelapan menuju cahaya dan membuat kita mendapatkan rahmat dari Allah melalui shalawat kepada baliau. 

Sungguh benarlah nabi saw ketika menyatakan, 

Wahai manusia hanyasanya aku ini merupakan rahmat yang dihadiahkan.”

Dan Kami tidak mengutus engkau (Ya Muhamad) melainkan untuk (menjadi rahmat bagi seluruh alam,”

Dari sini kita dapat memetik buah yang sangat berharga bahwa penyambutan kepada beliau dengan memperbanyak membaca shalawat dengan adab, hak dan tata caranya dan awal dari adab ini adalah berpegang teguh dengan sunahnya, mengikuti petunjuknya dan menjadikan sirahnya sebagai pelita penerang dan menjadikan sebagai uswah hasanah (teladan yang baik) yang wajib diikuti dalam segala urusan, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Allah berfirman,

Sungguh  telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak menghingat Allah.” 

Tidak diragukan lagi mengambil manafaat dari momentum-momentum (kesempatan) bersejarah  yang besar untuk mengingatkan manusia dengan perbuatan dan ucapan Rasulullah saw serta menarik perhatian mereka kepada sirah beliau, merupakan hal yang disenangi oleh manusia dan mengandung manfaat  yang sangat besar. Sebagaimana juga mengkaji sirah nabawiyah dan mengenal karakteristik  beliau dengan sifat-sifatnya, perilaku terpujinya akhlaknya seta mengkaji kehidupannya yang mulia sebagi pemimpin sekalian makhluk, penutup para nabi dan rasul serta pemimpin semua manusia, merupakan kesempatan emas untuk mendidik jiwa manusia dan meninggikan akhlak mereka apabila di hadapannya ditempatkan gambarabn yang mulia dari teladan umat ini, yakni Rasulullah saw.