Dr. H. Sumanta Hasyim, M.AgOleh. Dr. H. Sumanta Hasyim, M.Ag

(Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

 

 

Sebagaimana Al-quran telah menginformasikan kepada kita bahwa sesungguhnya Nabi kita Muhammad saw diutus ke dunia sebagai rahmat bagi sekalian alam (rahmatallil’alamin). Dimana kehadirannya adalah menyahuti harapan dan penantian alam semesta. Yang visi dan misinya mewujudkan kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan umat manusia di dunia dan akhirat. Sebagai tauladan dan panutan dalam berbagai aspek kehidupan, sebagaimana disampaikan oleh Aisyah, bahwa akhlak Nabi kita Muhammad saw adalah cermin al-Quran.

Namun realitas beragama yang ideal sebagaimana yang diidamkan oleh kita  bersama belum menunjukkan kondisi yang sesungguhnya, bahkan sebaliknya.

Pertanyaan yang mendasar sebagai bahan evaluasi kita adalah:

  1. Mengapa kehidupan kita umat Islam terpuruk, penuh dengan konflik dan saling menghalalkan darah sesama manusia. Seperti yang terjadi di Suriah, Yaman dan beberapa negara Muslim lainnya.
  2. Munculnya gerakan Islam radikal yang menjadikan agama sebagai transmisi gerakan politiknya. Gerakannya mewarnai media dunia yang mencitrakan Islam seakan sbg Agama haus perang, seperti ISIS, al- Qaidah dan gerakan transnasinal lainnya.
  3. Suburnya pemahaman intoleran dalam kehidupan sosial beragama. Padahal sebelumnya kondisi masyakat tertentu mencerminkan kehidupan yang harmonis, saling menghargai dan hidup penuh kedamaian.
  4. munculnya perilaku keberagamaan yang cenderung eklusif, menutup diri dan a-historis dan banyak lagi indikator yang laiinnya sebagai bahan renungan kita bersama.

Bahan renungan tadi tentu saja harus memantik kita untuk bangkit dan mengambil inspirasi dari kehidupan pribadi Nabi kita Muhammad saw dan ajarannya yang mampu membangkitkan manusia dari keterpurukan peradaban.

Pertama, kepribadiannya yang ideal yang dijadikan ‘uswah hasanah harus dijadikan model bagi kepribadian kita sebagai pengikutnya. Perlakuan yang kasar dan biadab dibalas dengan santun, lemah lembut dan do’a, sebagaima peristiwa hijrahnya beliau bersama sahabat ke Thaif, tatkala penduduk Thaif menolak ajakan dakwanya dan bahkan menganiaya, satu untaian doa dari hati hatinya yang tulus dan terucap sangat Indah” Allahummah ihdi liqaumi fainnahum la ya’lamun” ya Allah berilah petunjuk bagi kaumku, krn sesungguhnya mereka belum mengetahui”.

Kedua, Mempelajari dan memahami ajarannya secara komprehensif, tidak sepotong sepotong, karena pemahaman yang tidak utuh inilah yang kadang mengantarkan pada sikap radikal.

Kita sekarang dihadapkan pada berbagai jenis informasi, yang seakan dunia semakin menyempit, manusia sebagai individu dan komunitas semakin mudah berinteraksi dengan manusia dan komunitas lain di belahan dunia berbeda, sehingga terjadi aksi saling memberi pengaruh. Disinilah kita harus selektif dan tabayyun terhadap informasi yang kita dapat, karena informasi yang kita dapatkan  kadang berupa hoaks dan berita sampah. Dan tidak sedikit yang berisi konten radikal

Apalagi kita hidup di negara yang penuh kemajemukan dari sisi suku, bahasa, agama, ras dan yang paling mengejutkan bagi Indonesia adalah bonus demografi pada tahun 2020-2036 dimana  usia produktif lebih banyak dari usia non produktif, dimana hasil penelitian menunjukkan anak muda adalah bagian masyarakat paling rentan terhadap pengaruh radikalisme. Inilah yang harus kita rawat dan jaga bersama untuk bisa mewujudkan baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

Semoga kita bersama, senantiasa dalam naungan dan lindungan rahmat Ilahi dan diselamatkan dari cobaan dan ujian pandemi corona.