ANTARA NUZULUL QURAN

DAN LAILATUL QADAR

Oleh, Muhamad Nur Ali, S.Ag  (DKM At-Taqwa Kota Cirebon)

 

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”

(QS. Baqarah ayat 185(

Bulan ramadhan adalah bulan yang mulia yang di dalamnya diturunkan kitab suci yang mulia kepada nabi yang mulia untuk disampaikan kepada umatnya yang mulia yaitu kita semua.

Tanggal berapakan Al Quran itu diturunkan. ? Pendapat yang masyhur adalah tanggal 17 Ramadhan sehingga kita peringati sebagai Peringatan Nuzulul quran. Surat yang pertama turun adalah surat Al Alaq 5 ayat yaitu Iqra bismirobbikal ladzii kholaq dan seterusnya. Diturunkan melalui malaikat Jibril ketika nabi Muhamad genap berusia 40 tahun pada saat beliau berkhalwat di guwa Hira. Dengan turunnya lima ayat tersebut nabi Muhamad resmi diangkat oleh Allah sebagai rasul Allah atau utusan Allah.

Pada surat Al Qadar ayat 1 Allah berfirman,

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Yaitu malam kemuliaan.

Tanggal berapakan lailatul Qadar itu. Yaitu satu malam antara tanggal 21 sampai 30 Ramadhan. Menurut Ibnu Abbas dan Watsilah bin al-Asqa’ tepatnya pada tanggal 24 Ramadhan dituurunkannya Al Quran itu.

Dijelaskan dalam hadits bahwa nabi Muhamad saw pada 10 malam akhir bulan Ramadhan tekun  melakukan I’tikaf di masjid untuk menggapai malam qadar, dimana satu malam nilainya setara dengan 1000 bulan. Artinya jika seseorang beribadah apapun bentuknya baik sholat ataupun membaca Alquran atau wiridan lainnya bertepatan dengan malam tersebut maka ibadahnya setara dengan 1000 bulan. Tanggal berapakah jatuhnya malam laailatul qadr ini dirahasiakan oleh Allah agar kita bersungguh-sungguh untuk menggapainya. Meskipun ada beberapa pendapat ulama yang memprediksi tanggal-tanggal ganjil.

Yang perlu dikaji di sini adalah sepertinya ada perbedaan masalah turunnya Al Quran. Pada ayat 185 surat Al Baqarah dinyatakan bahwa Al Quran diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan sedangkan pada surat Al Qadar dinyatakan turunnya Al Quran itu pada malam Qadar yaitu 10 hari terakhir bulan Ramadhan  yang menurut Ibnu Abbas dan Watsilah bin al-Asqa’ tepatnya pada tanggal 24 Ramadhan.

Pakar tafsir terkemuka, Syekh Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi menegaskan,

“Tidak ada perbedaan prndapat bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh pada malam Lailatul Qadar secara keseluruhan seperti penjelasan kami. Al-Qur’an terlebih dahulu diletakan di Baitul Izzah di langit dunia. Kemudian Jibril menurunkannya secara berangsur-angsur  tentang perintah, larangan dan sebab-sebab lainnya yanag menjadi asbabun nuzul atau sebab-sebabb turunnya Al Quran. Yang  terjadi selama 20 tahun lebih.

Alquran diturunkan dalam dua tahap. Tahap pertama Alquran diturunkan dari Lauhul Mahfud ke Baitul Izza di langit dunia secara keseluruhan pada tanggal 24 Ramadhan seperti disebutkan dalam surat Al Qadar. Kemudian dari langit dunia diturunkan kepada nabi Muhamad melalui malaikat Jibril secara berangsur-angsur mulai tanggal 17 Ramadhan selama 20 tahun lebih. AlQuran diturunkan ayat demi ayat atau surat demi surat di waktu yang berbeda-beda di Mekah dan di Madinah sesuai dengan kebutuhan dalam menjawab masalah dan situasi umat Islam.

Disini bisa dipahami bahwa Alquran diturunkan secara keseluruhan yang terdiri dari 6000 ayat lebih pada malam Qadar itu setahun sebelum diturunkan kepada nabi Muhamad saw. Atau setahun sebelum nabi Muhamad diangkat menjadi utusan Allah.

Disinilah kita bisa mengetahui kemuikjizatan Al Quran yang dturunkan secara keseluruhan tetapi mengandung informasi hal-hal yang akan terjadi pada zaman nabi Muhamad saw. Diantaranya adalah

  1. Pertanyaan sahabat tentang masalah haid (yas aluunaka anil mahiid) lalu Allah menurunkan ayat tentang haid. Pertanyaan sahabat ini dijawab dengan Al Quran padahal Alquran sudah diturunkan secara keseluruhan sebelumnya. Berarti Allah sudah menetapkan akan ada pertanyaan dari sahabat tentang haid kepada nabi Muhamad saw.
  2. Pertanyaan sahabat tentang ruh (yas aluunakan anir ruuh).
  3. Pertanyaan sahabat tentang anak yatim (yas aluunaka anil yataamaa)
  4. Kaum muhajirin dan anshor, padahal istilah itu muncul ketika nabi sudah hijrah di Madinah.
  5. Kisah istri nabi Muhamad yang bernama Siti Aisyah yang terkenal (yang disebutkan dalam Hadits sebagai haditsul ifki) yang disebutkan dalam surat An Nur, padahal Alquran sudah diturunkan sebalumnya secara keseluruhan pada malam qadar.

Masih banyak lagi hal-hal yang muncul pada zaman nabi Muhamad, yang semuanya sudah ada ayatnya dalam Al Quran yang sudah diturunkan secara keseluruhan pada malam Qadar.

Terlepas dari pembahasan turunnya Alquran tersebut diatas. Yang jelas Al Quran diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhamad saw melalui malaikat Jibril untuk umatnya adalah sebagai huda (petunjuk) dan furqan (pembeda antara hak dan batil). Alquran sebagai petunjuk, supaya manusia hidupnya terarah sehingga tidak tersesat. Sebagai pembeda hak dan batil supaya manusia mengetahui dengan jelas mana yang benar yang harus diikuti atau dipegang dan mana yang salah yang harus djauhi.

Lalu bagaimana kita mengetahui bahwa Alquran itu adalah petunjuk dan pembeda  bagi kita umat Islam bahkan umat sedunia.

Jawabannya ya harus dibaca dan dipelajari. Karena Alquran adalah bahasa Arab berbeda dengan bahasa kita, maka kita harus belajar membaca huruf Arab. Setelah bisa membaca huruf arabnya, kita baca terjemahan atau tafsirnya. Dengan membaca terjemahannya inimal kita dapat mengetahui beberapa hal kandungan Alquran. Membaca Alquran sekaligus dengan terjemahannya tentu mempunyai nilai lebih dibanding hanya membaca Alqurannya saja.

Penduduk Indonesia sekarang ini berjumlah 266 juta. Dari jumlah tersebut yang beragama Islam berjumlah 231 juta atau 86 persen. Jumlah ini terbilang yang cukup besar. Apakah semuanya bisa membaca Alquran  ? jawabannya tidak. Berapa persenkah umat Islam Indonesia sebanyak itu yang bisa membaca Alquran ?

Dari hasil riset Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, tahun 2015 yang disampaikan oleh Kiai Haji Salahudin Wahid atau Gus Solah menyebutkan bahwa orang Indonesia yang bisa membaca Alquran baru 23 persen saja. Yang 77 persennya belum bisa.

Data yang disampaikan dari PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Alquran) Jakarta, pada acara MTQ nasional ke 27 tahun 2018 di Medan Sumatra Utara,  Ustadz Achmad Farid Hasan mengatakan bahwa 60-79 % umat Islam Indonesia belum bisa membaca Alquran. Artinya 40-21 persen saja yang bisa membaca Al Quran. Ada peningkatan 17 persen. Dari analisa itu diperkirakan tahun 2020 sebanyak 50 – 60 persen umat islam yang bisa membaca Alquran.

Tetapi alhamdulillah, masih banyak ulama sang pewaris nabi, kyai atau ustadz yang sedikit banyak memahami kandungan Al quran yang memberikan ceramah, pengajian, majlis taklim atau lembaga pendidikan Islam. Atau pondok-pondok pesantren tahfidz yang menjamur sehingga dapat dijadikan tempat belajar dan bertanya mengenai segala masalah kehidupan dan keagamaan. Dan mudah-mudahan 10 tahun kedepan hanya sedikit  saja umat Islam yang masih buta huruf Alquran.