6 HARAPAN ROSULULLAH SAW YANG DISAMPAIKAN KEPADA ALLAH SWT

Oleh : Dr. Sahrudin M.Pd.I  (Sekretaris MUI Kota Cirebon)

Ada enam harapan Rasullah SAW yang disampaikan kepada Allah SWT, sebagai mana tercantum dalam  Hadits Riwayat Imam Turmudzi,

Ya Allah, aku mohon kepadamu ditetapkan hati dalam menghadapi segala macam urusan, mudah mudahan aku diberi petunjukdan bersyukur atas nikmatmu,  semoga aku bisa beribadah dengan baik kepadamu, semoga engkau memberi lisan yang benar dan semoga engkau menentramkan hatiku.

  1. Hati yang tenang dalam menghadapi segala urusan.

Manusia yang hidup akan bertemu dengan macam-macam urusan, dari urusan yang paling kecil sampai urusan yang paling besar, dari urusan yang sederhana sampai urusan yang paling penting.Urusan diri dan keluarga urusan tetangga dan masyarakat, bahkan mungkin sampai kepada negara. Menghadapi urusa ini memerlukan sikap yang tegas, hati yang tenang, kuat dan kokoh yang dalam agama islam disebut istiqomh. Tegas dan tenangnya hati berarti tidak pernah goyah oleh perubahan keadaan meskipun dihadapkan macam-macam urusan yang rumit. Pendirianya tetap istiqomah meskipun di uji macem-macem ujian yang menimpa, meskipun godaan dan rintangan datang berturut turut.

  1. Ilmu dan kepandaian yang bermanfaat.

Rasullah SAW selanjutnya meminta kepada Allah SWT, agar kepandaianya yang dikenal dengan sebutan sifat fatonah. Bisa bermanfaat. Ilmu merupakan modal utama dalam melaksanakan tugas hidup manusia di dunia. Bahkan ilmu yang akan menentukan kebaikan dan keburukan dunia ini. Keinginan terhdap dunia akan tercapai apabila memiliki ilmu, demikian juga ke inginan terhadap kehidupan akherat, sebagaimana sabda Rasullah SAW,

“Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka harus memiliki ilmu, barang siapa yang menginginkan akherat harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka harus memiliki ilmu.

Tetapi kadang-kadang ilmu itu tidak bermanfaat karena tidak di amalkan atau kadang-kadang ilmu itu menjadi madorot (bahaya) terhadap dirinya karena di selewengkan pada jalan yang salah. Salah satu contoh yaitu : jaman sekarang ilmu yang dimiliki manusia semakin tinggi, kemajuan tehnologi semakin pesat, tetapi ilmu dan teknologi itu tidak menentramkan hati manusia, bhkan mengakibatkan manusia kebingungan, hal itu karena ilmu dan tehnologi tersebut tidak dipakai untuk kebaikan tetapi digunakan untuk membunuh manusia.

  1. Bersukur terhadap nikmat ALLAh SWT

Macam-macam nikmat setiap saat diterima oleh manusia mulai nikmat yang paling kecil sampai nikmat yang paling besar, tetapi sayang banyak manusia yang tidak mensyukurinya. Biasanya suatu perkara tidak terasa nikmat karena sudah biasa, tetapi apabila kebiasaan tersebut hilang baru terasa adanya nikmat. Apabila nikmat itu datang kembali kenikmatannya semakin berasa, umpanya baru akan terasa nikmat memiliki mata apa bila mengalami sakit mata, baru terasa nikmatnya memiliki telinga apabila telah mengalami tuli. Apakah sebenarnya nikmat itu ? nikmat yaitu segala macam kebaikan kenikmatan, kebahagiaan, dan kesenangan, yang berhubungan dengan dunia akherat.

Pada garis besarnya ada dua macam nikmat, pertama nikmat fitri, berupa kenikmatan yang dibawa semenjak lahir kedunia, seperti badan dan seluruh anggotanya yang kedua yaitu nikmat yang telah tersedia di dunia ketika manusia hidup berupa segala fasilitas hidup yang tidak terhitung jumlahnya. Dengan adanya nikmat tersebut, maka bersukur kepada Allah SWT merupakan hal mutlak yang harus dilaksanakan

  1. Ibadah yang mendatangkan kebaikan.

Ibadah yang dilksanakan umat islam memiliki manfaat bukan hanya untuk memperoleh pahala diakherat, tetapi harus bermanfaat bagi dirinya dan orang lain di dunia ini, ibadah yang baik yaitu yang bisa membangun dirinya menjadi manusia yang sempurna atau insan kamil, jelasnya manusia yang sempurna lahir dan batinnya, yang seimbang antara jasmani dan rohaninya, manusia yang kuat iman, luhur ilmu, baik amal perbuatannya, sehat jasmani dan rohani, dan hubungan sosialnya kuat. Ibadah yang diharapkan yaitu ibadah yang bisa menyemaikan benih amanah, sifat bisa di percaya dan jauhi macam-macam khianat.

  1. Lisan atau ucapan yang benar

Rasullah SAW selamanya berdoa agar lisannya digunakan alam hal-hal yang baik. Yang di maksud dengan lisan yang benar dan baik itu ada dua macam. Yaitu: pertama lisan harus digunakan untuk berzikir kepada Allah, berupa takbir, tahmid, tahlil, takdis , hauqallah atau tilawatil quraan.  Kedua lisan yang membawa manfaat baik untuk dirinya maupun bagi orang lain berupa nasehat, pelajaran, petunjuk, atau hal lainnya. lisannya tidak pernah digunakan untuk memfitnah atau mengumpat, menyinggung perasaan orang lain, kata-kata kasar atau kotor, atau untuk menghina oranglain.

Memang lisan itu termasuk karunia Allah yang sangat penting manusia, lisan juga bisa menentukan manusia untuk selamat atau celaka, lantas apabila islam mengajarkan agar manusia bisa memelihara lisan sebaik-baiknya. Perbuatan lisan akan termasuk amal yang akan di minta pertanggung jawabkan oleh Allah di yaumiljaza. Lisan baik akan mendatangkan kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, lisan buruk akan mendatangkan kejelekan dan akan dibalas dengan kejelekan pula.

  1. Hati yang tentram

Rasullah SAW memohon kepada Allah agar beliau diberika hati yang tentram. Rasullah menyadari bahwa kebahagiaan hakiki itu ada dalam hati. Hati lah yang menentukan suka dan dukanya manusia tanpa adanya ketenteraman hati kebahagiaan yang menjadi idamannya tidak akan tercapai. Demikin juga semua amal manusia di tentukan oleh hatinya, rusak atau tidaknya amal manusia tergantung kepada hatinya. Rasullah SAW bersabda:

“Ingatlah sesungguhnya dalm tubuh manusia ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila segumpal daging itu rusak maka akan rusaklah seluruh tubuhnya. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhori)

Hati  manusia itu dibagi empat. Pertama hati yang bersih, yaitu hati orang-orang beriman, kedua yaitu hati yang hitam, hati orng yang kafir. Ketiga hati yang suram, yaitu hati orang-orang munafik. Keempat hati yang kacau, yaitu hati yang orang-orang yang mencampurkan antara iman, kufur, dan nifak.

Allah SWT hanya bisa menerima manusia yang kembali kepadanya dengan membawa hati yang bersih, yaitu orang-orang yang memiliki hati yang tentran karena berisi iman. Sesuai dengan Alquran surat Asyura ayat 88-89.

“Di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna kecuali oran-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.