oleh Kang Yani (Ketua At-Taqwa Centre, Ketua LP2M/Satgas Covid-19 IAIN Syekh Nurjati, Covid Survivor)

Dari awal tejadinya pandemi Covid-19, awal Maret 2020 yang ditetap Pemerintah RI sebagai bencana nasional Non Alam. Pandangan dan respon elemen masyarakat sangat beragam, yang pada prinsipnya sampai pada suatu simpulan ” bahwa Covid-19 itu antara “ada dan tiada” apakah nyata atau hanya cerita, bahkan ada yang mengatakan bahwa ini semua adalah hanyalah “rekayasa dan konspirasi global” untuk kepentingan pihak/negara tertentu.

Bagi saya sebagai Covid survivor (yang terpapar) bahkan sejak awal pandemi, kebetulan saya juga mendapatkan amanah Ketua Satgas penanganan Covid-19 di IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Covid-19 adalah nyata, bukan sekedar cerita. Secara faktual dengan pendekatan ayat kauniyah-bumi (ilmu pengetahuan) dapat dibuktikan (verifikasi) secara empiris (di atas 216 negara di dunia menghadapi pandemi); Begitu pula dengan pendekatan ayat qur’aniyah (langit), Allah SWT telah menjelaskan dengan nyata bahwa makhluknya senantiasa akan diberikan ujian/cobaan baik yang buruk (seperti wabah saat ini) maupun ujian yang baik (anugerah nikmat apapun) kepada kita benar-benar sebagai ujian, dan kita akan dikembalikan kepada- Nya (QS. Al-Anbiya: 35); dan kita juga meyakini bahwa musibah apapun yang terjadi kepada kita, sudah merupakan ketetapan dari Allah SWT. Jadi Covid-19 bisa dibuktikan oleh ayat langit maupun bumi.

Untuk bukti ayat yang dari bumi itulah yang saya rasakan;
secara tidak langsung Allah menguji saya dengan melengkapi misi saya sebagai Satgas dengan ujian langsung merasakan sebagai orang yang terkonfirmasi POSITIF Covid-19 (2 September 2020), setelah saya melakukan perjalanan mengemban misi Akademik dan Pengabdian kepada Masyarakat di kampus. Pada tanggal 25-28 Agustus 2020, secara maraton saya melakukan 3 kegiatan ( Survey Persiapan MTQ ke-36 Tk. Jabar di Subang; Fasilitator Bimtek DPRD di Hotel Grand Cokro Bandung, dan Rakor Litapdimas PTKI Kemenag RI di Hotel Aviary Tanggerang Selatan).
Sekembalinya dari tiga kegiatan tersebut saya merasakan tidak enak badan (terutama demam dan batuk) sampai dengan 2 hari di rumah (28-29 Agustus 2020), dikarenakan tidak ada perubahan kondisi kesehatan saya. Saya memutuskan untuk diperiksa ke Rumah Sakit Pelabuhan Cirebon (30 Agustus 2020), setelah diperiksa reaktif, langsung diisolasi dan kemudian di tes SWEB, hasilnya (2 September 2020) dinyatakan Positif terinveksi Covid-19).

Tantangan
Disinilah tantangan yang dirasakan semakin nyata; bukan sekedar saya merasakan saja ganasnya virus, dengan gejala klinis demam tinggi dan batuk yang hebat. Namun tantangan mental; kendali diri, perasaan, nalar dan emosional diuji betul saat itu.

Dengan menyadari posisi saya sebagai Kepala Keluarga, saya harus segera melakukan mitigasi dan tracing kepada anggota keluarga; kordinasi kepada pihak terkait dimana saya bertugas dan aktif; serta perasaan beban mental dan tanggung jawab sosial dengan amanah amanah yang ada sebagai pimpinan masjid terbesar di Kota Cirebon juga di kampus dan masyarakat, serta tantangan pemahaman sebagian masyarakat yang masih sumir dll terhadap pihak yang terpapar.

Beban mental-sosial pun semakin bertambah ketika diadakan tracing dan ditesting, isteri saya juga dinyatakan Positif Covid-19.
Saya diisolasi dan mendapatkan perawatan intensive di Rumah Sakit selama 23 hari dan isteri di Aula BKKBN (17 hari). Saya anggap masa perawatan saya dan isteri termasuk cukup lama; pasti semua ini ada sebab gejala klinis (demam dan batuk untuk saya); dan menurut para pakar medis juga dipengaruhi karena imun (daya imun tubuh) seseorang, yang juga sangat dipengaruhi ketahanan mental dan jiwa penderita.
Jadi, ketika ada beberapa orang bertanya kepada saya “bagaimana rasanya kena Covid-19?” saya jawab, pasti kalau tidak menyadari secara hakekat sebagai ketetapan Allah SWT. bagi orang Islam, sebagai ujian, musibah, peringatan, bahkan mungkin azab. Pasti saya katakan “kena covid-19 sangat menderita, sangat tidak nyaman, baik secara fisik maupun psikis (jiwa, mental, sosial); walaupun tentu tingkat penderitaannya sangat berbeda; ditentukan oleh tingkat gejala klinis, penyakit akut bawaan maupun kondisi gejala non klinis (spiritual, keimanan), apapun penyakit dan penderitaannya bagi orang2 beriman dan ikhlas dg ketetapan Allah akan berbuah hikmah.

Masa Isolasi sebagi sarana Muhasabah Penyembuhan

Selama masa Isolasi saya melakukan Refleksi dan Muhasabah total untuk bagaimana saya punya motivasi tinggi untuk sembuh; yang selanjutnya saya istilahkan dengan 1).Nutrisi Medis (Ikhtiar perawatan tim medis yang prima) untuk menghilangkan gejala klinis, saya harus mengikuti SOP tim medis (makan dengan gizi seimbang, minum obat, suplement vitamin, madu, herbal, olah raga ringan yang dianjurkan, berkumur, berjemur, dan theraphy dengan kayu putih) dan 2) Nutrisi Spiritual untuk menguatkan jiwa dan mental (Ibadah yang maksimal, sholat, memperbanyak tilawah,Istighfar, dzikir, sholawat dan do’a, serta shodaqoh); juga motivasi dari keluarga dan sahabat.

Setelah 3 minggu menjalani perawatan di Ruang Isolasi RS pelabuhan, alhamdulillah saya di tes SWEB yang keempat kali nya hasilnya NEGATIF (senin, 21September 2020) dan isteri juga di tes SWEB yang keempat kalinya dinyatakan hasilnya NEGATIF (Selasa, 22 September 2020);
Kami bersyukur kepada Allah SWT dengan do’a dan ikhtiar yang maksimal, semunya Allah qabul dengan anugerah kesembuhan. Kondisi kami sudah pulih, nyaman. dan dianjurkan dokter untuk istirahat tambahan 3 harian.
Kami haturkan terima kasih kepada semua guru2 mulia, Kiyai, Habib, Pimpinan, rekan sejawat dan sahabat atas do’a dan perhatian untuk kami selama dalam masa perawatan.

Mari kita jaga protokol kesehatan ( Memakai Masker, Mencuci Tangan, dan Menjaga Jarak)
Semoga Allah SWT selalu menjaga dan melindungi kita. Aamiin.

Wallahu’alam bi al Shawwab