Oleh, Drs. HM.’Utsmani Hs, MHI

(Sekretaris Attaqwa Centre Kota Cirebon)

 

“ Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

 

“ Shodakoh itu menolak bala ”

Tradisi bulan Safar ( wulan Bala ), masyarakat biasa menyebut Safaran, erat kaitannya dengan mitos dimusnahkannya ajaran Syeh Siti Jenar alias Syeh Lemahabang atau Syeh Jabaranta yang konon dianggap ajarannya dapat menyesatkan umat Islam. Dari mitos ini lahirlah : Selamatan kue apem dan Tawurji.

Apem

Ngapem berasal dari kata apem, yaitu kue yang terbuat dari tepung beras yang di beri ragi yang umumnya dimakan dengan cara mentutulkannya terlebih dahulu pada air gula bersantan yang disebut kinca.

Konon jajanan ini berasal dari kata famun (bahasa Arab) yang berarti mulut. Tradisi ngapem dimulai Ki Buyut Trusmi sebagai syiar menyucikan diri melalui perkataan dan ucapan yang keluar dari mulut, dengan tidak mengucapkan perkataan kotor dan bohong. Dari apem sebagai makanan yang dibagikan kepada masyarakat sekitar, kemudian berkembanglah tradisi safaran. Maksud dari selamatan apem adalah memohon keselamatan dunia-akhirat.

 Dengan menjaga secara lisan, kita berharap terhindar dari perbuatan yang berasal dari kecerobohan mulut. Dalam tradisi Jawa, kelengkapan berbagai makanan dalam sesaji memang menjadi syarat untuk terkabulnya permintaan dari mereka yang mengadakan upacara. Itu terkait dengan kepercayaan tentang asal makanan tersebut dibuat yang disajikan dalam upacara selamatan.

 Apem manis menjadi simbol kejujuran, perkataan baik yang memiliki maksud baik, dan ketulusan di dalamnya. Tradisi selamatan di masyarakat masih melekat. Setiap bulan ada saja perayaan yang harus diwujudkan dalam bentuk selamatan. Inti selamatan tiada lain adalah sedekah.

 Acara ngapem ini adalah semacam rasa syukur karena terhindar dari bala bencana selama bulan sapar. Pesan simbolik yang dapat kita petik dari ritual ini adalah bahwa kue apem melambangkan manusia dan kinca melambangkan darah. Jadi ketika kue apem dicelupkan pada kinca pada hakikatnya untuk mengingatkan kita bahwa kita harus mawas diri karena bisa saja kita terkena musibah, yang dalam hal ini kecemplung di kubangan kinca (darah). 

Tawurji

Setiap bulan Safar terlihat anak-anak, biasanya anak laki-laki berselendangkan sarung dan berpeci, berkeliling mendatangi orang-orang di keramaian, ke toko-toko atau mendatangi ke perumahan-perumahan untuk “meminta sedekah” sambil bersenandung: “Wur tawur Ji, tawur ….. selamet dawa umur” yang dilantunkan berulang-ulang. Masyarakat Cirebon dan sekitarnya menyebut tradisi ini dengan Tawurji asal kata tawur dan ji.

 Biasanya, orang-orang dikeramaian itu atau toko-toko yang mereka datangi atau yang diperumahan-perumahan, apalagi yang mengetahui tradisi bulan Safar tersebut, dengan sukarela memberikan sedekah, umumnya berupa uang. Dulu tawurji hanya dilakukan pada setiap hari Selasa di bulan Safar, tetapi kini kadangkala dilakukan di sembarang hari. Beberapa referensi menyatakan setiap hari Rabu, tetapi pernyataan hari Selasa lebih kuat.

  Ketika Syeh Siti Jenar di eksekusi pada bulan Safar 5 abad yang lalu, maka ke 40 anak asuhnya yang yatim itu menjadi terlantar. Dewan 9 wali (wali sanga) memutuskan agar setiap masyarakat (rumah) di Cirebon dan sekitarnya untuk memberikan perhatian dan santunan kepada ke 40 anak yatim tersebut. Maka, ke 40 anak yatim tersebut setiap hari Selasa pada bulan Safar berkeliling dari rumah ke rumah sambil mendendangkan senandung do’a: “Wur tawur Ji, tawur ….. selamet dawa umur” yang artinya “Sawer Tuan Kaji … sawer, selamat panjang umur“. Tuan Kaji (haji) kedudukannya sangat terhormat di masyarakat saat itu, jadi anak-anak menyebut kesemua orang “Ji” kependekan dari Kaji, sebagai rasa hormat dan juga mengandung do’a bagi yang belum berhaji, insya Allah suatu saat juga dapat menunaikan ibadah haji.

 “Do’a anak-anak yatim itu manjur“, demikian tutur para wali, “Masyarakat harus memberi saweran“. Denikianlah tradisi Tawurji dibulan Safar sampai hari Selasa akhir di bulan itu, kemudian bersiap-siap menyongsong perayaan Maulid Nabi (Muludan). 

 Berabad-abad tradisi tawurji ini berjalan hingga sekarang yang merupakan amanah suci para wali untuk menangkal malapetaka.

 Gerakan Shodaqoh

Dalam ajaran agama Islam menyantuni fakir miskin dan anak yatim sangat jelas diantaranya   dalam Al Qur’an, Surat Al Maauun, ayat: 1 – 3 yang artinya : “ Tahukan kamu (orang) yang mendustakan agama?,  Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak (menganjurkan) memberi makan orang miskin. “

Pelajaran yang harus ditangkap dari “ Apem “ dan “ Tawurji “ di bulan safar ( wulan bala ) adalah gerakan mengajak masyarakat/ kaum muslimin untuk selalu membiasakan berbagi dan peduli kepada orang lain terutama ketika dalam keadaan susah dan sedang membutuhkan bantuan, “ Apem “  simbul makanan yang sangat disukai oleh orang lain  dan “ Tawurji “ simbul mengingatkan kepada orang untuk berbagi yang dicintainya yaitu uang, Allah memberikan penjelasan tentang shodaqoh yang istimewa dalam Al-Qur’an sebagai berikut : “ Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”

 

Manfaat Sedekah

1.    Dapat Menghapus Dosa,Manusia memang tidak luput dengan dosa. Kesempurnaannya dipertanyakan apakah kita pantas disebut makhluk yang sempurna padahal kita selalu enggan untuk meminta ampun dengan apa yang telah kita perbuat. Nabi Muhammad bersabda, “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api“.

2.    Shodakoh itu menolak bala, termasuk ujian berupa wabah yang masih terus meningkat kasusnya semoga dengan gerakan berbagi melalui shodaqoh Apem dan gerakan Tawurji Allah memberikan keselamatan buat kita semua.

3.    Mengutamakan Sedekah Tidak Akan Mengurangi Harta, Rasulullah bersabda “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.”

4.    Allah melipatgandakan Pahala Orang-orang yang Bersedekah, Allah berfirman yang artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mendermakan (shodaqoh) harta bendanya di jalan Allah, seperti (orang yang menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh untai dan tiap-tiap untai terdapat seratus biji dan Allah melipat gandakan (balasan) kepada orang yang dikehendaki, dan Allah Maha Luas (anugrah-Nya) lagi Maha Mengetahui“.

5.    Mendapat Naungan di Hari Akhir, Rasulullah telah jelas mengungkapkan tentang orang-orang yang akan mendapatkan naungan di hari kiamat nanti, salah satunya adalah orang-orang yang bersedekah.

Semoga gerakan shodaqoh Apem dan Tawurji menjadi salah satu  jalan solusi untuk hidup sehat dunia akherat dan selamat dunia akherat, aamiin.