KHUTBAH JUM’AT : Beribadah Puasa Ramadhan Sebagai Sarana Untuk Meningkatkan Takwa Kepada Allah (Di Musim Pandemi Covid 19) Oleh, Dr. Amin Basir, M.A (Dosesn Pasca Sarjana Iain Cirebon)

oleh | Apr 9, 2021 | Artikel, Artikel Islam, Berita Seputar Masjid

BERIBADAH PUASA RAMADHAN SEBAGAI SARANA UNTUK MENINGKATKAN TAKWA KEPADA ALLAH (Di Musim Pandemi COVID 19) Oleh, Dr. Amin Basir, M.A (Dosesn Pasca Sarjana IAIN Cirebon)Oleh, Dr. Amin Basir, M.A (Dosesn Pasca Sarjana IAIN Cirebon)

 

Segala puji bagi Allah Tuhan  semesta alam, salawat serta salamnya semoga tercurah atas Nabi Muhammad saw. Puasa Ramadhan adalah merupakan perintah Allah kepada umat yang beriman.  Di dalamnya terdapat beberapa peribadatan yang dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Di antaranya adalah melakukan puasa sebulan penuh, di iringi dengan bersahur pada waktu sebelum fajar dan berbuka setelah matahari tenggelam, juga melakukan amalan-amalan sunnah baik berupa, memperbanyak shalat-shalat sunnah, membaca alquran, berinfak dan bersedekah, serta melakukan amalan-amalan apa saja yang memberikan manfaat bagi sekelilingnya.  Puasa ramadhan dilakukan oleh orang beriman dengan berharap ridho dari Allah SWT.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S. al-Bayyinah :5)

Tujuan berpuasa ramadhan adalah agar orang-orang yang beriman itu mendapat predikat takwa (muttaqin). Yang dimaksud adalah dengan berpuasa dapat dijadikan sebagai kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan segala perintah Allah swr. Serta menjauhi segala larangan Allah swt.

Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 183

Hai orang-orang yang beriman, diwajibakan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Derajat takwa inilah yang sering terlupakan, sehingga berkali-kali orang melakukan peribadatan ritual, termasuk melakukan berpuasa pada bulan Ramadhan dari tahun ke tahun dalam ketekunan peribadatan yang tinggi namun tujuan berpuasa itu sendiri yaitu peningkatan takwa masih belum terejawantah secara maksimal, yaitu bagaimana agar peribadatan puasa itu secara ril dapat menjadikan kehidupan secara berkualitas. 

Sidang shalat jumat yang berbahagia.

Dari serangkaian amalan-amalan ibadah sebagaimana tersebut di atas selayaknya tidak hanya dipahami dengan pemahaman ibadah un-sich, yang tanpa makna, tetapi harus dipahami dengan pemahaman yang komprehensif dengan pemahaman yang dilengkapi dengan sudut pandang dari berbagai segi sudut pandang.  Kemampuan pemahaman yang komprehensip dimaksud adalah bahwa segala aktivitas ibadah hendaknya mampu memberikan implikasi positif terhadap kehidupan umat manusia, sehingga berbagai ritual peribadatan itu benar-benar memberikan kontribusi positif terhadap keberlangsungan hidup manusia itu sendiri baik secara pribadi maupun secara kolektif.

Sidang shalat jumat yang berbahagia.

Ramadhan mengajari umat manusia agar menjadi umat yang berakhlak. Dalam suatu riwayat hadits Nabi menjelaskan apabila ada orang yang sedang melaksanakan berpuasa pada bulan Ramadhan, dan temannya ingin mengajak bertengkar dengan orang yang sedang melaksanakan berpuasa itu maka hendaklah dijawab “saya sedang berpuasa”

Saat berpuasa orang beriman yang melaksanakan puasa hendaknya bisa mengendalikan diri dari nafsu syahwat, dalam makna ketika berpuasa manusia harus menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan berdampak negatif pada diri sendiri maupun orang lain. Dalam berpuasa orang yang berpuasa harus berkata dengan perkataan yang baik, berbuat harus dalam perbuatan yang baik yang dalam bahasa agamanya beramal saleh. Dan amal saleh-amal saleh itu akan memberi dampak positif bagi kehidupan manusia secara signifikan.

  Latihan menahan diri di alam “Purgantorio” bersumbu pada latihan untuk sepenuhnya menghayati kehadiran Tuhan dalam hidupnya yang paling pribadi (private). Dalam semangat makna “Allah beserta kita” (inna ‘l-Lah ma’na atau imam nu El), manusia menemukan kesucian asalnya yang hilang, dan kemudian ke fitrah dirinya iapun terlahir lagi dalam kesucian, pulang ke asal dalam kebahagiaan “paradiso” surga. Atas hidayah Allah, manusia mendapat kebahagiaan primordialnya, maka ia bersyukur kepada-Nya. Kesucian manusia yang bersih adalah kesucian pribadi, namun berkonsekwensi sosial. Kesucian pribadi tidak bermakna apa-apa tanpa sikap suci kepada sesama manusia.

“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi amal puasanya hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka dan berapa banyak orang yang menegakkan (shalat malam) tetapi (pahala) salat malamnya hanya mendapatkan kantuk belaka” 

Ibadah puasa ramadhan mengajari manusia untuk selalu melakukan instrospeksi diri (muhasabah), melihat kediriannya sebenarnya siapa? Dan apa manfaatnya untuk kehidupan?. Kemampuan melakukan instropeksi diri ini menjadi sesuatu yang menentukan akan kualitas ibadah ramadhan. Bila kualitas-kualitas ibadah secara terus menerus dilakukan dan ditingkatkan maka tidak mustahil ibadah-ibadah itu menjadi kebutuhan orang beragama secara maksimal pelaksanaannya harus ditingkatkan secara berkualitas.

Ibadah ramadhan dijadikan sebagai sarana untuk mengasah kepekaan umat Islam terhadap sesamanya, di mana masih banyak saudaranya yang menjalani kehidupannya masih di bawah garis kehidupan yang berkualitas.  Kemampuan dan kepekaan orang beriman diuji apakah dengan ibadah-ibadah ramadhan mampu meningkatkan derajat takwanya atau sama sekali tiada perubahan yang berarti.

Mengekang diri adalah perbuatan yang amat muliah walaupun amat berat. Kesemuanya itu diajari dalam berbagai ibadah ini. Demikian banyak sabda Rasul yang intinya menyuruh kita melakukan peribadatan ritual namun harus memahami apa hasil yang didapatkan dari serangkaian ibadah itu. Saat menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Dari beberapa ayat suci banyak bicara ritual berujung pada pemberdayaan (empowering) pada kaum dhuafa. Hal ini menunjukkan betapa serangkaian ibadah ritual kita tidak sepi dari usaha proses pemberdayaan pada kaum lemah dan papa. Kesalehan pribadi sebenarnya harus bermuara terhadap kesalehan sosial. Berapa banyak ayat dalam al-Quran berbicara dakwah yang mengindikasikan dalam bingkai sekelompok ummat. Maka secara otomatis prinsip taawun yang diajarkan oleh agama adalah tidak terlepaskan kekuatan jamaah dengan saling tolong menolong dan saling membantu agar menjadi suatu kekuatan yang maksimal.

Allah berfirman dalam surat al-Anfal : 28

Artinya : Dan Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Dari pengalaman yang sejauh ini telah berlangsung, kita membuktikan kebenaran peringatan Nabi s.a.w. bahwa kemiskinan akan menyeret manusia kepada sikap-sikap mengingkari kebenaran. Kemiskinan akan membuat manusia terhalang dari usaha-usaha peningkatan dirinya menuju kepada harkat dan martabat kemanusiaannya yang lebih tinggi. Kemiskinan dan kemelaratan membuat seseorang lebih terpusat kepada usaha-usaha mempertahankan hidup jasmaniahnya, sehingga kemiskinan dan kemelaratan membuatnya terhalang dari perhatian kepada tingkat kehidupan yang lebih mulia, yaitu kehidupan ruhani, kehidupan untuk memenuhi dorongan naluri manusia guna kembali kepada Allah, sebab Allahlah sumber segala kebahagiaan, asal muasal segala yang ada. Allahlah pangkal keberadaan kita semua.

 Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang menafkahkan sebagian harta mereka, baik laki-laki maupun perempuan, dengan sukarela tanpa disertai dengan mengungkit-ungkit pemberiannya dan tidak menyakiti perasaan orang yang menerima, maka pahala amal perbuatan mereka dilipat gandakan; kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya hingga tujuh ratus kali lipat, hingga berlipat-lipat, dan di samping itu mereka mendapatkan pahala yang baik di sisi Allah, yaitu Surga.”   (QS. Al-Hadid : 18)

Pada hari Ramadhan ini tidak boleh ada orang yang masih belum makan, tidak boleh ada anak-anak yang belum berpakaian yang pantas dipakai, dan inilah pesan Islam terhadap umat manusia. Bahkan Tuhan mengecam pada orang yang mengahardik anak yatim, yang tidak mempedulikan fakir miskin, bahkan Allah menjuluki orang demikan adalah sebagai pendusta agama.

Sejalan dengan tujuan agama adalah bahwa Allah mengutus seorang hambaNya Nabi yang mulia melainkan sebagai karunia dan rahmatanlil’alamin (mengasihi untuk seluruh alam). Melakukan proses pemberdayaan, melakukan proses pencerahan, dan melakukan proses pembebasan dari belenggu-belenggu kebodohan dan keterbelakangan ummat, serta melakukan pendampingan-pendampingan dalam berbagai persoalan hidup adalah keniscayaan tujuan peribadatan itu sendiri secara universal.

Allah SWT berfirman

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (QS Al-Maun 1-7)

Ramadhan dalam masa Pandemi COVID 19

Sebagaimana pemahaman kita terhadap ajaran agama adalah untuk menjadikan hidup kita semakin bermakna dan berkualigtas, oleh karena itu peribadan-peribadatan kita pula harus memberi sumbangsi sejauh mana dimaknai untuk memabngun hidup kita semakin berkulaitas dan bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang sekitar.

Pada masa-masa pandemi covid 19 ini kita dianjurkan untuk selalu menjaga diri dari tertularnya virus covid 19 di antara kita oleh karena itu kita hendaknya menjunjung tinggi prinsip prinsip kesehatan di kala kita menghadapi musim covid 19 ini. Sebagaimana anjuran kesehatan bahwa dalam menghadapi musim covid ini kita hendaknya menjaga diri dengan cara melakukan;

 1). menscikan tangan kita hingga bersih dengan alat antiseptic (sabun);

 2). Melakukan jaga jarak anatara kita Phisical distancing, minimal berjarak 1 meter ;

 3). Memakai masker  dan

 4). Menghindari dari kerumunan orang banyak,

Dengan demikian kita juga diajari untuk selalu menjaga diri dari tertularnya virus covid 19. Baik pada diri kita mapun keluarga dan juga masyarakat sekitar kita.

Dari semua itu juga agama mengajari kita untuk selalu hidup sehat baik secara jasmani maupun rohani. Berapa banyak ajaran agama mengajari umat manusia untuk selalu mengaktifkan tindakannya mempunyaui manfaat bagi bagi kehidupan terhadap orang lain. Maka barang siapa berusaha untuk menghidupkan satu nyawa manusia maka pada hakekatnya ia telah berusaha mengidupkan semua nyawa manusia di dunia, dan barang siapa ia berusaha membunuh satu nyawa manusia pada hekekatnya ia telah berusha membunuh seluruh manusia di dunia.

Pada hal demikian dalam pelaksanaan peribadatan pada Ramadhan ini harus selalu menjaga diri kita dan orang lain dari tertularnya Covid 19. Dengan mematuhi PROTOKOL KESEHATAN.

Semoga dengan segala ikhtiar kita yang kita lakukan semaksimal mungkin akan mengakhiri masa Pandemi COVID 19 ini, akhirnya hanya kepada Allah SWT kami berserah diri Amin Ya Robbal Alamin.

 

Berita Terkait

Pin It on Pinterest

Share This